JAVASATU.COM- Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan pemanfaatan limbah jeroan ikan atau visceral menjadi pakan alternatif untuk mendukung budi daya ikan yang lebih hemat dan ramah lingkungan di Kabupaten Blitar.

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata Pengabdian kepada Masyarakat (KKN ABMAS) berbasis produk berupa sosialisasi dan praktik pembuatan pakan alternatif dari limbah visceral.
Kegiatan digelar di wilayah Tlogo I, Kabupaten Blitar, Senin (3/8/2026), dengan menggandeng DCA sebagai mitra yang bergerak di bidang pengolahan produk perikanan.
Tim KKN ABMAS ITS menjelaskan, limbah visceral merupakan bagian jeroan ikan yang menjadi hasil sampingan dari proses pengolahan ikan. Limbah tersebut selama ini kerap dibuang tanpa pengolahan sehingga berpotensi menimbulkan bau tidak sedap serta mencemari air dan tanah.
“Permasalahan limbah visceral menimbulkan bau tidak sedap, mencemari air dan tanah, menjadi sumber penyakit dan belum dimanfaatkan secara optimal,” jelas Tim KKN ABMAS ITS.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS memperkenalkan teknologi fermentasi untuk mengolah limbah visceral menjadi produk yang lebih bernilai guna.
Hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair (POC) dan pakan ikan. Pemanfaatan limbah melalui proses fermentasi dinilai dapat menekan biaya pakan sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah pengolahan ikan.
“Solusi permasalahan mengolah limbah visceral ikan menggunakan teknologi fermentasi dengan menghasilkan produk akhir berupa POC atau Pupuk Organik Cair dan pakan ikan. Pakan ikan dari pengolahan limbah visceral ini dinilai sangat hemat biaya dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Tim KKN ABMAS ITS menyebut inovasi tersebut dapat diterapkan dalam budi daya ikan, termasuk ikan lele. Fermentasi limbah visceral menjadi salah satu bentuk pemulihan dan daur ulang limbah untuk meningkatkan efisiensi dalam kegiatan budi daya.
“Program ini kami harapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan limbah hasil pengolahan ikan di Blitar. Selain mengurangi limbah, pemanfaatannya menjadi pakan alternatif juga diharapkan dapat mendorong budi daya ikan yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan,” ujar mahasiswa Tim KKN ABMAS ITS.
Perlu diketahui, kegiatan KKN ABMAS sendiri merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan sivitas akademika ITS untuk membantu menyelesaikan persoalan di masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Program tersebut juga diarahkan untuk memberdayakan masyarakat di berbagai sektor, termasuk ekonomi dan lingkungan.
Dalam kegiatan itu, masyarakat tidak hanya mendapatkan sosialisasi, tetapi juga mengikuti praktik pembuatan pakan alternatif dari limbah visceral. Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat peternak atau pembudi daya ikan memanfaatkan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Mitra KKN ABMAS ITS, Slamet Pudjianto, menilai pemanfaatan limbah visceral memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, terutama pelaku budi daya ikan seperti lele.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi masyarakat peternak, khususnya yang bergerak di budi daya ikan seperti ikan lele karena bahan-bahan pembuatannya merupakan limbah yang dapat dimanfaatkan kembali,” kata Slamet.
Menurut Slamet, pengolahan limbah visceral menjadi pakan alternatif tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.
“Beberapa manfaat dari pembuatan pakan alternatif dari limbah visceral dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah, meningkatkan pertumbuhan ikan, mengurangi biaya pakan, mengurangi tumpukan limbah di lingkungan dan mendukung sistem budi daya berkelanjutan,” tambahnya. (ich/arf)