JAVASATU.COM- Polres Gresik mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan media sosial (medsos). Di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial dinilai bisa menjadi sarana memperkuat persatuan, tetapi juga berpotensi memicu perpecahan jika diisi hoaks, provokasi, maupun informasi yang belum terverifikasi.

Pesan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan yang digelar Polres Gresik di Ruang Rupatama Sarja Arya Racana (SAR) Mapolres Gresik, Jumat (14/8/2026). Forum tersebut diikuti sekitar 35 peserta dari unsur pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, pemuda, mahasiswa, pengemudi ojek online hingga kelompok masyarakat.
“Di era digital saat ini, ruang persatuan dan perpecahan berada dalam satu genggaman. Media sosial dapat menjadi sarana yang sangat positif jika dimanfaatkan dengan bijak,” ujar Kabag Ops Polres Gresik Kompol Arief Sukmo Wibowo.
Arief mengatakan, derasnya informasi di media sosial membuat masyarakat harus lebih kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi. Verifikasi menjadi penting agar konten yang belum jelas kebenarannya tidak berkembang menjadi pemicu konflik.
Menurutnya, setiap kelompok masyarakat memiliki peran dalam menjaga situasi Gresik tetap aman. Mahasiswa memiliki kekuatan intelektual, organisasi kemasyarakatan mempunyai basis sosial, sedangkan pengemudi ojol memiliki mobilitas tinggi dan kelompok suporter memiliki solidaritas yang kuat.
“Jika seluruh energi positif ini disatukan, akan menjadi kekuatan besar untuk Gresik yang aman dan damai,” imbuhnya.
Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution juga meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi maupun pihak yang berupaya memecah belah persatuan.
“Menjelang hari Kemerdekaan RI, kami ingin mempererat persatuan dan kesatuan. Jangan sampai Kabupaten Gresik terpecah belah akibat ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mari kita bersama-sama bersatu menjaga Bhinneka Tunggal Ika,” tegas Ramadhan.
Dalam dialog tersebut, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Gresik Nanang Setiawan turut menyoroti tantangan kebangsaan di ruang digital. Disinformasi, hoaks dan konten provokatif dinilai dapat memicu konflik apabila diterima masyarakat tanpa proses verifikasi.
Polres Gresik juga mendorong mahasiswa dan generasi muda menjadi pengguna media sosial yang kritis. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa sebelum dipercaya atau disebarluaskan.
Ketua MUI Kabupaten Gresik KH Ainur Rofiq Thoyyib mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga etika dalam bermedia sosial. Ia merujuk Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 yang mengatur pedoman bermuamalah di media sosial, termasuk larangan menyebarkan hoaks, fitnah, ujaran kebencian dan adu domba.
“Motto kita adalah ‘Satu Gresik, Berbeda Pilihan, Tetap Bersaudara’. Tugas kita hari ini adalah merawat dan menjaga apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa,” tutur KH Ainur Rofiq.
Sementara itu, Ketua PCNU Kabupaten Gresik Dr KH Mulyadi mengajak mahasiswa menyampaikan aspirasi secara konstruktif serta tidak mudah terprovokasi unggahan yang belum diketahui kebenarannya.
Dialog tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, di antaranya FKUB, BAMAG, PGIS, PHDI, LDII, Ansor, Pemuda Pancasila, GRIB Jaya, Madas, pengemudi ojol, serta organisasi mahasiswa seperti PMII, HMI dan IMM.
Polres Gresik berharap komunikasi lintas elemen tersebut dapat memperkuat persatuan sekaligus mencegah potensi konflik, provokasi dan polarisasi di tengah masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan foto bersama sebagai simbol komitmen menjaga persaudaraan serta menciptakan Kabupaten Gresik yang aman, damai dan kondusif. (bas/arf)