JAVASATU.COM- Upaya digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Malang dinilai belum cukup untuk mendongkrak daya saing produk lokal. Pelaku UMKM juga dituntut meningkatkan kualitas produk dan kemasan agar mampu bersaing di pasar nasional hingga global.

Hal itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Malang, Achmad Andi, yang menilai transformasi digital harus berjalan beriringan dengan perbaikan mutu produk. Menurutnya, berbagai pelatihan digitalisasi dan pemasaran berbasis e-commerce yang digelar pemerintah daerah akan sulit memberikan hasil maksimal jika kualitas dan tampilan produk masih tertinggal.
“Pelatihan e-commerce sudah banyak diberikan. Tapi tantangan terbesar kita adalah soal kualitas dan tampilan produk,” ujar Andi, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Andi, Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar serta Dinas Komunikasi dan Informatika selama ini telah aktif memberikan pelatihan digital kepada pelaku UMKM. Namun, persoalan kualitas produk dan kemasan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius.
Ia menyontohkan sejumlah produk makanan khas daerah seperti jipang dan keripik yang sebenarnya memiliki cita rasa baik, namun belum mampu bersaing dengan produk industri besar karena kemasan yang kurang menarik dan belum memenuhi standar pasar modern.
“Kadang pelaku usaha masih takut jual mahal. Padahal makanan yang enak, meskipun mahal, orang tetap beli. Tapi kalau murah dan tidak menarik, ya tetap tidak laku,” katanya.
Andi menilai kemasan memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Produk dengan kualitas baik sering kali kalah bersaing hanya karena tampilannya kurang profesional dibanding produk lain yang sudah memiliki desain kemasan modern dan informatif.
Ia juga menyoroti masih minimnya produk UMKM Kabupaten Malang yang berhasil masuk ke jaringan ritel modern maupun supermarket besar. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pelaku usaha dalam memenuhi standar kemasan yang dipersyaratkan pasar.
“Plastik pembungkus yang bagus itu mahal, ini jadi kendala. Tapi kalau kemasannya menarik, orang akan percaya dan mau beli,” ujarnya.
Selain persoalan kualitas dan kemasan, Andi menilai akses permodalan masih menjadi hambatan utama yang dihadapi pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya. Keterbatasan modal membuat pelaku usaha kesulitan meningkatkan kapasitas produksi maupun memperbaiki kemasan produk.
Karena itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan skema pembiayaan yang lebih terjangkau melalui kredit berbunga rendah serta berbagai bentuk insentif yang dapat meringankan beban pelaku usaha.
“Kita dorong agar ada pembiayaan murah, atau tanpa pajak untuk pelaku UMKM. Karena kalau modalnya pas-pasan, ya susah muter,” tegasnya.
Andi berharap program penguatan UMKM ke depan tidak hanya berfokus pada digitalisasi dan pemasaran daring, tetapi juga menyentuh seluruh aspek pengembangan usaha, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, kemasan, hingga peningkatan daya saing produk agar mampu menembus pasar yang lebih luas. (arf/nuh)