JAVASATU.COM- Angka kecelakaan lalu lintas selama arus mudik Lebaran 2026/ Idulfitri 1447 Hijriah tercatat turun signifikan. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyebut penurunan mencapai 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini dinilai sebagai hasil dari berbagai strategi pengamanan dan pengawasan yang diterapkan Polri selama Operasi Ketupat 2026.
Analis kebijakan publik dan politik nasional, Nasky Putra Tandjung, menilai sejumlah inovasi teknologi menjadi faktor penting dalam menekan angka kecelakaan. Salah satunya penggunaan dua jenis drone untuk pengawasan lalu lintas.
“Polri mengoperasikan drone yang terintegrasi dengan command center mobile untuk memantau titik-titik yang tidak terjangkau CCTV,” ujar Nasky dalam keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026).
Selain itu, drone patroli presisi juga digunakan untuk mendukung penindakan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE).
Pengawasan arus mudik tahun ini juga diperkuat dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisis data lalu lintas secara real time. Sistem ini terintegrasi dengan command center di berbagai wilayah, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra hingga Bali.
Tak hanya itu, teknologi traffic counting juga diterapkan untuk menghitung jumlah kendaraan di jalur utama, guna memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) tetap terkendali selama operasi berlangsung.
Hingga memasuki periode mudik Maret 2026, kepolisian juga melaporkan tidak adanya kejadian menonjol di sejumlah titik pemantauan strategis di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Nasky yang juga Ketua Indonesia Youth Epicentrum menyoroti peran aktif Korlantas Polri dalam memberikan layanan informasi kepada pemudik. Layanan tersebut meliputi NTMC, Travoy, hingga aplikasi wilayah seperti Sipolan dan Siger.
“Layanan ini membantu pemudik memantau kepadatan lalu lintas dan mencari rute alternatif secara akurat,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Korlantas Polri yang melakukan pemeriksaan kesehatan bagi sopir dan pemudik sebagai upaya pencegahan kecelakaan.
“Perjalanan panjang dan lalu lintas padat sangat berisiko. Karena itu kondisi sopir dan pemudik harus tetap fit. Antisipasi Polri luar biasa,” katanya.
Menurut alumnus INDEF School of Political Economy Jakarta itu, tagline “Mudik Aman, Keluarga Bahagia” yang diusung Kapolri dinilai nyata dirasakan masyarakat.
Ia menilai kehadiran Polri di lapangan terlihat melalui berbagai langkah konkret, termasuk pendirian pos pelayanan terpadu di titik strategis jalur mudik.
“Pos-pos ini bukan sekadar fasilitas, tetapi menjadi ruang kemanusiaan bagi pemudik untuk beristirahat, mendapatkan layanan kesehatan, hingga informasi perjalanan,” ujarnya.
Nasky menegaskan, langkah strategis Korlantas Polri menunjukkan komitmen kuat dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Persiapan yang matang ini menjadi bukti bahwa negara hadir untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan masyarakat,” tuturnya.
Penulis buku Polri Presisi itu juga berharap inovasi dan langkah pencegahan terus dilakukan hingga arus balik Lebaran.
“Ini patut diapresiasi. Kita berharap inisiatif serupa terus dilakukan oleh seluruh jajaran kepolisian,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap potensi praktik pungutan liar (pungli) di jalur mudik.
“Jangan sampai ada pemudik yang dipaksa membayar pungli dengan berbagai modus. Ini penyakit lama yang harus ditindak tegas,” tegasnya.
Menurutnya, kehadiran aparat yang ramah, responsif, dan sigap akan meningkatkan rasa aman sekaligus kepercayaan publik terhadap Polri.
“Pendekatan humanis ini penting. Polri tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga pelayan masyarakat yang mengedepankan empati dan kepedulian,” pungkasnya. (arf)