JAVASATU.COM- Tradisi kupatan tetap lestari di Dusun Ngasbuntung, Desa Banjarsari, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Warga setempat menggelar perayaan kupatan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus mempererat kebersamaan usai Hari Raya Idulfitri, Kamis (26/3/2026) malam.

Kegiatan ini diikuti seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT/RW hingga para pemuda yang aktif bergotong royong menyukseskan acara. Antusiasme warga terlihat dalam setiap rangkaian kegiatan yang berlangsung meriah dan penuh kebersamaan.
Ketua paguyuban, Suprapto, mengatakan tradisi kupatan merupakan warisan leluhur yang terus dijaga secara turun-temurun. Selain menjadi ajang silaturahmi, kupatan juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
“Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tapi juga mengenalkan nilai-nilai budaya agar tetap dicintai generasi muda,” ujarnya.
Dikutip dari berbagai sumber, Kupatan sendiri memiliki makna filosofis mendalam dalam budaya Jawa. Kata “kupat” dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, serta “laku papat” yang mencerminkan empat tindakan, yakni Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat pentingnya saling memaafkan, rendah hati, dan menjaga hubungan baik.
Perwakilan warga, Kasiono, mengaku bersyukur tradisi ini masih bisa dilaksanakan secara rutin. Ia berharap kupatan tetap menjadi agenda tahunan sebagai simbol kekompakan masyarakat.
“Semoga tradisi ini terus dilestarikan dan tidak hilang, karena ini bagian dari identitas kita,” katanya.
Sebagai kearifan lokal, kupatan di Dusun Ngasbuntung menjadi bukti bahwa masyarakat masih menjaga budaya di tengah perkembangan zaman. Tradisi ini sekaligus menegaskan pentingnya mempertahankan jati diri, sebagaimana pepatah Jawa, “wong Jawa aja nganti ilang Jawane.” (ich/nuh)