JAVASATU.COM- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang membeberkan fakta medis di balik angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya. Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 4 kasus kematian ibu (AKI) dan 46 kasus kematian bayi serta balita (AKB) yang menjadi perhatian serius dalam program “Gerak Penting”.

Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menjelaskan bahwa penyebab utama kematian ibu di Kota Malang didominasi oleh hipertensi dalam kehamilan (eklamsi) serta pendarahan pasca-persalinan. Menurutnya, risiko ini sebenarnya bisa diminimalisir jika deteksi dini berjalan maksimal.
“Risiko tinggi itu ada yang reversible atau bisa diperbaiki, seperti hipertensi dan diabetes dalam kehamilan. Namun, ada yang irreversible seperti panggul sempit atau jarak kehamilan yang terlalu dekat. Ini yang harus kita kawal ketat,” ujar dr. Husnul.
Namun, kendala terbesar di lapangan adalah adanya ibu hamil yang sengaja menutupi status kehamilannya. dr. Husnul menyebut fenomena ini sebagai “ibu hamil yang tidak melaporkan diri”. Mereka kerap menggunakan pakaian besar untuk menyembunyikan kondisi fisik, sehingga petugas kesehatan kehilangan momentum intervensi.
Akibatnya, banyak ibu hamil baru terdeteksi saat menjelang kelahiran dalam kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK). Kondisi ini secara medis berpengaruh langsung pada bayi yang lahir dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di bawah 2.300 gram atau mengalami asfiksia (gangguan pernapasan).
“Kita harapkan keluar masuknya orang di tingkat RT bisa terdeteksi lewat kelurahan. Jika warga proaktif melapor, bidan wilayah bisa memasukkan data ke ‘Kantong Persalinan’ untuk menentukan status risiko mereka,” jelasnya.
Metode Kantong Persalinan ini menggunakan klasifikasi warna kartu: hijau untuk kondisi aman, kuning untuk risiko rendah, dan merah untuk risiko tinggi. Kartu merah akan menjadi prioritas bagi dokter spesialis Obgyn dan spesialis anak yang kini telah disiagakan di 16 puskesmas se-Kota Malang.
Melalui sistem monitoring di tingkat RT/RW, Pemkot Malang berharap seluruh ibu hamil, baik yang berisiko maupun tidak, dapat terpantau secara klinis demi mengejar target zero kematian ibu dan anak di masa depan. (jup)