
OPINI
Juru Pitutur sebagai Ujung Tombak Pejuang Kebudayaan
Oleh: Asep Kusdinar – Kepala Bakorwil III Malang
Pada era kemajuan zaman yang sangat pesat, kita semakin kehilangan jati diri dan keluhuran kebudayaan Bangsa Indonesia. Akar-akar kebijaksanaan yang bersumber dari nilai-nilai keluhuran budaya Bangsa Indonesia semakin tercerabut. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.
Kita harus menyadari bahwa Perjuangan Kebudayaan adalah medan juang yang paling sulit. Jika kita kalah dalam perang ekonomi, perekonomian masih bisa kita bangun kembali. Jika kita kalah dalam perang politik, kita masih bisa bangkit dan membangunnya kembali. Namun, jika kita kalah dalam medan perang kebudayaan, maka kita akan hilang dan musnah sebagai sebuah bangsa, dikalahkan dan terhapus dari muka bumi. Ini sangat berbahaya!
Maka, kegiatan Pendadaran Juru Pitutur se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) saat ini menjadi sumber mata air energi peradaban. Kegiatan ini jangan sampai hanya menjadi seremonial belaka. Jadikanlah kegiatan ini sebagai gelombang pergerakan kebudayaan yang mampu mengubah arah peradaban, serta mewujudkan kemenangan dalam perjuangan kebudayaan bagi seluruh Bangsa Indonesia.
Juru Pitutur adalah ujung tombak Pejuang Kebudayaan Bangsa Indonesia. Tugas utamanya bukan hanya memberikan cerita dan ceramah budaya, bukan hanya menyampaikan ajaran-ajaran dan nilai-nilai keluhuran budaya Bangsa Indonesia. Lebih dari itu, Juru Pitutur juga mengemban tugas untuk menanamkan benih-benih kesadaran seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat, agar kita semua mampu berjuang bersama menjaga akar-akar kebijaksanaan dan nilai-nilai keluhuran budaya Bangsa Indonesia.
Wakil Gubernur Jawa Timur sejatinya sangat bangga dan terhormat ketika mendapatkan undangan untuk menghadiri Kegiatan Pendadaran Juru Pitutur dari PAMU ini. Beliau menyampaikan bahwa Juru Pitutur harus mendapatkan dukungan kita semua dengan sebaik-baiknya, karena Juru Pitutur adalah garda terdepan dalam perjuangan kebudayaan yang sangat kita butuhkan.
Mereka bertugas menjaga dan melestarikan warisan ajaran-ajaran keluhuran dari para leluhur, sambil mengobarkan semangat juang untuk membangun masa depan melalui perjuangan kebudayaan. Alangkah beratnya tugas dan tanggung jawab yang diemban para Juru Pitutur, dan alangkah mulianya tujuan perjuangan yang hendak dijalani. Itulah sebabnya kita semua wajib memberikan dukungan sebaik-baiknya kepada para Juru Pitutur.
Masih sangat sedikit pengetahuan yang saya miliki perihal Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) saat ini. Namun yang sangat jelas hari ini, PAMU telah menegaskan keberadaannya sebagai kawah candradimuka yang menggembleng para ujung tombak pejuang kebudayaan melalui Pendadaran Juru Pitutur. Kegiatan ini wajib terus dikembangkan, harus terus digelorakan, dan kita berikan dukungan sebaik-baiknya.
Karena kita tidak hanya sedang melestarikan warisan-warisan, nilai-nilai, dan ajaran-ajaran keluhuran dari para leluhur kita semuanya saja, tetapi sebenarnya kita sedang membangun masa depan yang lebih luhur, mulia, dan berjaya tanpa kehilangan akar-akar dan jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia.
Pada pertemuan ini, kita bersama-sama dapat merasakan getaran-getaran dari doa-doa keluhuran para leluhur kita semuanya. Vibrasinya menguat, resonansinya menguat. Semoga efek gaung dan gema dari kegiatan Pendadaran Juru Pitutur dari PAMU ini semakin menggelora seluas-luasnya, dari Malang, dari Jawa Timur, untuk Indonesia Raya.
Terima kasih kepada para Juru Pitutur. Terima kasih kepada PAMU. Dan terima kasih kepada seluruh hadirin yang telah berkenan hadir saat ini. Mari kita menangkan medan Perjuangan Kebudayaan bersama para Juru Pitutur Indonesia!. Salam Budaya!. Rahayu. Rahayu. Rahayu. (*)