JAVASATU.COM- Upaya pemerintah mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum memberikan hasil maksimal. Sebanyak 8.000 kilogram atau 8 ton natrium klorida (NaCl) telah disebar dari udara, tetapi terbatasnya awan potensial menjadi kendala untuk memicu hujan.

OMC di Provinsi Jambi berlangsung pada 26 Agustus hingga 2 September 2026. Selama operasi tersebut, tim melakukan delapan sortie penerbangan dengan total waktu penerbangan mencapai 15 jam 32 menit.
“Operasi modifikasi cuaca di Jambi telah dilakukan sebanyak delapan sortie dengan total waktu penerbangan 15 jam 32 menit dan menggunakan 8.000 kilogram natrium klorida,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Jumat (4/9/2026, melalui keterangan tertulis.
Penyemaian NaCl dilakukan dengan memanfaatkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Namun, OMC tidak bisa bekerja hanya dengan menyebarkan garam dari udara. Keberadaan awan potensial menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan operasi tersebut.
“Keberhasilan operasi modifikasi cuaca untuk mendatangkan hujan masih terbatas karena keberadaan awan potensial di Jambi juga terbatas,” ujar Berton.
Kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah ancaman karhutla yang masih berlangsung. Berdasarkan data BNPB hingga Kamis (3/9/2026), luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi mencapai 1.879,31 hektare.
Pada hari yang sama, estimasi area terbakar mencapai 47,5 hektare. Sebanyak 37 hektare berhasil dipadamkan, sedangkan 11,5 hektare masih dalam penanganan melalui operasi darat, water bombing, dan operasi gabungan.
Pemantauan juga mencatat 182 titik hot spot di Jambi. Sebanyak 34 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan 148 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah.
Dari estimasi 47,5 hektare area terbakar pada Kamis (3/9), terdapat 20 fire spot. Tiga di antaranya merupakan titik lama yang masih dalam proses pemadaman.
Kondisi cuaca membuat pemerintah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan OMC. Satgas darat tetap memperkuat pemadaman, pendinginan, patroli, serta pembuatan sekat bakar untuk membatasi penyebaran api.
Lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar. Di sejumlah lokasi, alat berat tidak dapat masuk sehingga pembuatan sekat bakar tidak bisa dilakukan secara maksimal.
“Kalau hari ini ada perkembangan dari Satgas Udara, mungkin ada pelebaran sedikit saja area terbakarnya. Karena kondisinya memang gambut, semalam sudah kita lakukan upaya membuat sekat. Namun, ada daerah yang tidak bisa kita sekat karena alat berat tidak bisa masuk,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah.
Selain sekat bakar dan pendinginan, satgas darat juga diarahkan membuat kanal air. Kanal tersebut disiapkan sebagai sumber air untuk mendukung pemadaman dan pendinginan di area yang masih berpotensi terbakar.
Operasi udara melalui water bombing juga terus dilakukan untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani dari darat. Dari 37 hektare lahan yang berhasil dipadamkan pada Kamis (3/9), sebanyak 31 hektare ditangani satgas darat dan enam hektare melalui operasi water bombing.
Sebelumnya, OMC sempat menghasilkan hujan di sejumlah wilayah Jambi. Namun, kondisi atmosfer setelah periode operasi menjadi tantangan baru. Berdasarkan pemantauan BMKG, hingga 10 September 2026 diperkirakan belum terdapat pertumbuhan awan yang mendukung pelaksanaan OMC secara optimal.
Karena itu, satgas mengintensifkan patroli dan pemantauan cuaca sembari menunggu kondisi atmosfer yang memungkinkan penyemaian awan kembali dilakukan.
Di tengah keterbatasan OMC, penanganan karhutla Jambi tetap bertumpu pada operasi gabungan darat dan udara. Pemerintah harus mengejar pemadaman sekaligus mencegah bara di lahan gambut kembali memicu kebakaran.
Dengan luas karhutla yang telah mencapai 1.879,31 hektare dan puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada September, kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan efektivitas penanganan karhutla di Jambi. (dop/arf)