JAVASATU.COM- Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengukuhkan tujuh guru besar dalam puncak Dies Natalis ke-44 yang digelar di Graha Polinema, Kota Malang, Kamis (10/9/2026).

Pengukuhan tersebut menambah jumlah guru besar Polinema dari sebelumnya 21 menjadi 28 profesor. Salah satu profesor yang dikukuhkan yakni Prof. Ir. Ika Noer Syamsiana, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., dengan kepakaran Teknologi Rekayasa Otomasi.
Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo mengatakan, para guru besar yang baru dikukuhkan diharapkan menjadi agen perubahan sekaligus ujung tombak dalam meningkatkan mutu pendidikan di Polinema.
“Kita harapkan ada peran-peran yang bisa kita harapkan oleh para guru besar ke depan semakin bisa mengangkat mutu pendidikan di kampus. Para Guru Besar ini kepakarannya tidak perlu diragukan lagi dan diharapkan dapat menjadi leader untuk yang lebih muda jadi semakin berkualitas,” kata Supriatna.
Selain Prof. Ika, enam guru besar lain yang dikukuhkan yakni Prof. Ir. Mohammad Noor Hidayat, S.T., M.Sc., Ph.D. dengan kepakaran Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan; Prof. Dr. Ir. Nawir Rasidi, S.T., M.T. dengan kepakaran Struktur Beton dan Jembatan.
Kemudian Prof. Dr. Dra. Fullchis Nurtjahjani, M.M. dengan kepakaran Kepemimpinan; Prof. Dr. Ir. Prayitno, M.T. dengan kepakaran Pengolahan Air Limbah; Prof. Dr. Asrori, S.T., M.T. dengan kepakaran Konversi Energi Mekanik Berbasis Rekayasa Teknologi Tenaga Surya; serta Prof. Ir. Yan Watequlis Syaifudin, S.T., M.MT., Ph.D. dengan kepakaran Sistem dan Teknologi Pendukung Pembelajaran.
Sementara itu, Prof. Ika membawa kepakaran Teknologi Rekayasa Otomasi dengan pengembangan Knowledge Growing System (KGS), sebuah sistem kognitif berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk terus menumbuhkan pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan.
Menurut Ika, sistem tersebut mendorong teknologi otomasi agar tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga mampu mempelajari pengetahuan baru secara berkelanjutan sehingga dapat beradaptasi dan menyelesaikan persoalan secara lebih akurat.
“Seluruh otomasi dituntut untuk bisa menumbuhkan pengetahuan yang baru, baru, dan baru sehingga bisa adaptif, akurat dan bisa menyelesaikan masalah,” ungkap Ika.
Ika menjelaskan, KGS bekerja dengan konsep pengetahuan yang terus berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Sistem tersebut mempelajari informasi baru dan menggunakannya untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam penyelesaian masalah.
“KGS adalah Knowledge Growing System, jadi sistem yang terus menerus berpengetahuan tumbuh dengan interaksi terhadap lingkungan,” jelasnya.
Salah satu penerapan KGS yang pernah dilakukan Ika yakni dalam penanganan pandemi COVID-19 pada 2020. Saat itu, Ika terlibat dalam TFRIC-19 bentukan BPPT dan menggunakan KGS untuk membantu melakukan prediksi COVID-19 berdasarkan gejala awal.
“Saya sendiri secara negara pernah berkontribusi dalam kepakaran saya di bidang Teknologi Rekayasa dan Otomasi dalam berkontribusi dalam TFRIC-19 bentukan BPPT. Kami melakukan prediksi COVID dari gejala awal menggunakan Knowledge Growing System. Adalah sebuah sistem kognitif berbasis Artificial Intelligent yang kebetulan berkembang di Indonesia,” ungkap Ika.
Pengembangan KGS tidak berhenti pada prediksi COVID-19. Dalam penelitian lainnya, Ika mengembangkan sistem mitigasi terintegrasi untuk memprediksi umur transformator atau trafo.
Sistem tersebut memanfaatkan sejumlah parameter kondisi trafo yang kemudian dipelajari KGS untuk memperkirakan umur dan masa pakai unit. Hasil prediksi itu dapat membantu penyedia layanan menentukan waktu pemeliharaan, perbaikan, hingga penggantian trafo.
“Sangat banyak sekali, di dalam penelitian saya salah satunya dengan memprediksi umur trafo. Karena trafo itu pasti ada yang namanya susut umur. Sehingga dengan parameter tertentu kita bisa mendeteksi umur dari trafo tersebut. Data tersebut kami masukkan ke KGS sehingga bisa menentukan umur dan masa pakainya seperti apa,” kata Ika.
Menurut Ika, kemampuan prediksi tersebut dapat menjadi bagian dari mitigasi bagi penyedia layanan. Dengan mengetahui kondisi dan perkiraan masa pakai trafo, keputusan pemeliharaan maupun penggantian dapat dilakukan secara lebih terukur.
“Sehingga pihak provider bisa menentukan kapan waktunya memperbaiki atau mengganti trafo dengan sistem KGS,” lanjutnya.
Pengukuhan sebagai guru besar juga menjadi momentum bagi Ika untuk memperluas kontribusi di bidang ketahanan teknologi nasional. Ia menilai kepakaran akademisi harus diterjemahkan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Dengan gelar ini, kami ingin terus ikut andil dalam perkembangan ketahanan teknologi bangsa. Kami ingin terus berkontribusi kepada negara, karena dosen memiliki Tri Dharma perguruan tinggi jadi kami harus melakukan pengajaran, penelitian dan pengabdian sehingga ilmu saya ingin dikontribusikan ke area sana,” pungkas Ika. (dop/arf)