JAVASATU.COM- Kritik anggota Komisi X DPR RI dari PDIP Adian Napitupulu terhadap sistem dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons dari mitra Badan Gizi Nasional (BGN) di Kota Malang. Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket Malang, Hanan Jalil, meminta PDIP tidak asal berbicara jika belum memahami proses awal pembentukan dapur MBG.

Sebelumnya, Adian Napitupulu dalam acara Head to Head with Elvira di CNN Indonesia TV, Rabu (17/6/2026), mempertanyakan alasan pemerintah membangun dapur SPPG yang membutuhkan biaya besar. Menurutnya, program MBG seharusnya dapat memanfaatkan kantin sekolah yang sudah ada sehingga lebih banyak UMKM yang terdampak dan biaya pembangunan dapur dapat ditekan.
“Dari dulu kita sudah bilang, ngapain bikin SPPG? Karyakan saja kantin-kantin sekolah itu,” kata Adian.
Adian menilai, jika pengelolaan MBG dilakukan oleh kantin sekolah, maka jutaan pelaku UMKM dapat merasakan manfaat ekonomi. Selain itu, sistem tersebut dinilai lebih mudah dievaluasi dan berpotensi menekan kasus keracunan makanan.
Menanggapi hal itu, Hanan Jalil yang menjadi salah satu mitra BGN di Kota Malang mengatakan, pada tahap awal program MBG ditawarkan kepada berbagai pihak, termasuk kantin sekolah. Namun, menurutnya, tidak ada kantin sekolah di Kota Malang yang bersedia menjadi mitra karena terkendala modal dan standar dapur yang ditetapkan BGN.
“Kalau pengusaha besar apalagi konglomerat, sejak awal jangankan bersedia bermitra dengan BGN, melirik pun tidak. Kami pengusaha kecil dari kampung yang masih memiliki kepedulian terhadap program Presiden untuk mencerdaskan anak bangsa yang bersedia menjadi mitra dengan berbagai cara,” kata Hanan Jalil, Jumat pagi (19/6/2026), kepada redaksi Javasatu.com.
Hanan meminta kritik terhadap MBG disampaikan berdasarkan pemahaman yang utuh mengenai proses pembentukan dapur SPPG. Menurutnya, BGN sebenarnya telah membuka kesempatan kepada kantin sekolah untuk bergabung, namun tidak mendapat respons.
“Jadi saya minta PDIP, terutama Adian, jangan asal bicara kalau tidak tahu dan tidak paham bagaimana awal para mitra BGN bersedia menjadi mitra. Saat itu BGN bukan tidak menawarkan kepada kantin sekolah, tetapi tidak satu pun kantin sekolah di Kota Malang yang bersedia dengan alasan tidak punya modal membangun dapur sesuai spesifikasi yang ditetapkan BGN,” ujarnya.
Hanan bahkan mengingatkan agar kritik yang terus diarahkan kepada program MBG tidak menimbulkan antipati dari pihak-pihak yang selama ini merasakan manfaat program tersebut, mulai dari mitra BGN, relawan SPPG, petani, peternak, pedagang hingga orang tua siswa.
“Kalau PDIP tidak berhenti bersuara minor terhadap MBG, saya akan mengajak seluruh mitra BGN, relawan SPPG, petani, peternak, pedagang, dan orang tua siswa yang selama ini mendapatkan manfaat dari MBG untuk tidak memilih PDIP pada Pemilu 2029,” tegasnya.
Diketahui, program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang dijalankan melalui dapur SPPG di berbagai daerah. Model pelaksanaannya masih menjadi perdebatan, termasuk terkait efektivitas dan pelibatan UMKM dalam rantai penyediaan makanan bergizi bagi siswa. (saf)