JAVASATU.COM- Sebanyak 49.591 titik panas (hotspot) tercatat di Sumatera Selatan sejak Januari hingga 16 September 2026. Tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat pemerintah memperkuat operasi penanganan di sejumlah wilayah rawan.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto turun langsung ke lapangan, Jumat (18/9/2026).
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi karhutla sekaligus memastikan operasi pemadaman dan koordinasi lintas sektor berjalan sesuai perkembangan di lapangan.
Suharyanto menegaskan penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Personel dan sumber daya dikerahkan mulai dari pencegahan, deteksi dini, pemadaman hingga pemulihan pascakebakaran.
“Personel tidak hanya disiapkan untuk memadamkan api, tetapi digerakkan sejak fase pencegahan, deteksi dini sampai dengan pemulihan pascakebakaran,” ujar Suharyanto.
Berdasarkan paparan Komandan Operasi Satgas Karhutla Sumsel, Danrem 044/Gapo, hingga 17 September 2026 pukul 05.00 WIB tercatat 3.039 hotspot di Sumatera Selatan. Hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir sebanyak 1.034 titik, disusul Musi Banyuasin 684 titik, Banyuasin 379 titik dan Muara Enim 299 titik.
Di sisi lain, hasil patroli udara dan tim darat pada 16 September menemukan 63 kejadian karhutla. Dengan tambahan tersebut, total kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 16 September 2026 mencapai 3.098 kejadian.
Lima wilayah menjadi fokus penanganan saat ini, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim. Untuk kejadian pada 16 September, estimasi luas lahan yang terbakar mencapai 531,31 hektare.
Dari luasan tersebut, satgas darat telah menangani sekitar 214,06 hektare. Pemadaman melalui helikopter water bombing menjangkau sekitar 30 hektare, sementara sekitar 287,25 hektare masih belum dapat dipadamkan berdasarkan data saat paparan disusun.
Operasi udara menjadi salah satu strategi penanganan karhutla. Helikopter digunakan untuk patroli, verifikasi hotspot, menentukan prioritas titik api, melakukan water bombing, memantau perkembangan kebakaran hingga mengevaluasi hasil pemadaman.
Selain pemadaman, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan sebagai bagian dari upaya preventif dan penanganan kondisi kekeringan di wilayah Sumatera Selatan.
Satgas Karhutla Sumsel mengerahkan 12.285 personel yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Lanud Sri Mulyono Herlambang, Manggala Agni, Polhut, Satpol PP, Kelompok Tani Peduli Api, Masyarakat Peduli Api hingga unsur pemadam dari perusahaan perkebunan.
Kekuatan tersebut diperkuat dengan 1.101 posko karhutla yang tersebar di berbagai wilayah. Pemerintah mendorong seluruh unsur tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga memperkuat patroli, deteksi dini dan respons cepat untuk mencegah kebakaran meluas.
Penanganan karhutla juga mencakup dampak asap terhadap masyarakat. Informasi mengenai kualitas udara perlu disampaikan secara cepat dan mudah dipahami, termasuk langkah mitigasi apabila terjadi penurunan kualitas udara serta koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sumatera Selatan sebelumnya ditetapkan BNPB sebagai salah satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Lima provinsi lainnya adalah Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Dukungan BNPB dilakukan melalui operasi terpadu bersama pemerintah daerah, kementerian/lembaga, TNI, Polri, Manggala Agni, dunia usaha dan masyarakat.
Peninjauan Menko Polkam dan Kepala BNPB dilakukan untuk memastikan sumber daya yang telah dikerahkan dapat bekerja sesuai kondisi karhutla di lapangan. (dop/arf)