JAVASATU.COM- Novelis Musab Soemardjan kembali meluncurkan karya terbarunya berjudul Cinta Segitiga di Langit Kediri. Novel yang terbit pada Februari 2026 itu mengusung konsep fiksi-fakta dengan mengangkat kisah cinta, restu orang tua, pengorbanan, dan perjalanan hidup tiga tokoh utama yang saling terkait.

Novel ini menghadirkan kisah Paul Prakoso, Citra Kusumo, dan Bhima. Ketiganya berada dalam pusaran konflik cinta yang dibalut nilai keluarga, pilihan hidup, serta perjuangan meraih cita-cita. Alur cerita berkembang dari Kediri hingga merambah Jepang, Belanda, Australia, Banyuwangi, dan berbagai latar budaya yang memperkaya narasi.
“Novel ini bukan hanya bercerita tentang cinta, tetapi juga bagaimana seseorang memperjuangkan pilihan hidupnya di tengah tuntutan keluarga, adat, dan dinamika kehidupan,” ujar Musab Soemardjan dalam keterangan yang diterima Javasatu.com, Minggu (12/7/2026).
Konflik bermula ketika Citra dijodohkan dengan Paul, putra seorang pengusaha di Kediri. Meski berusaha menerima keputusan keluarga, Citra diam-diam mencintai Bhima. Perasaan itu ternyata berbalas, namun Bhima memilih memendamnya karena menghormati pertunangan tersebut.
Cerita berubah ketika Paul membatalkan pertunangannya secara sepihak dan memilih menikahi Tantri, putri rekan bisnis keluarganya asal Bali. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian setelah Paul mengalami kebangkrutan akibat gaya hidup mewah sang istri. Sementara itu, Citra akhirnya memperoleh restu dari ayahnya untuk membangun rumah tangga bersama Bhima.
“Saya ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan pembaca, bahwa cinta sejati tidak hanya membutuhkan perasaan, tetapi juga perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan,” kata Musab.
Selain mengangkat kisah asmara, novel ini juga menampilkan perjalanan akademik para tokohnya. Citra digambarkan berhasil menjadi dokter lulusan Universitas Airlangga sebelum melanjutkan pendidikan spesialis kanker di Kyoto University, Jepang. Bhima kemudian menyusul menempuh studi antropologi etnografi di universitas yang sama hingga keduanya berhasil membangun keluarga.
Musab juga memadukan unsur fiksi dengan fakta melalui penggambaran lokasi dan budaya, seperti Honke Owariya di Kyoto, Tong Tong Fair di Den Haag, tradisi masyarakat Osing di Banyuwangi, hingga filosofi bisnis kedai kopi “BMW – Be My Way”. Perpaduan tersebut menjadi kekuatan yang membedakan novel ini dari kisah romansa pada umumnya.
Dengan gaya bahasa yang ringan dan komunikatif, Cinta Segitiga di Langit Kediri tidak hanya menawarkan kisah percintaan, tetapi juga menyajikan refleksi tentang kesetiaan, etika, pendidikan, keluarga, dan arti sebuah pilihan hidup.

Perlu diketahui, Musab Soemardjan merupakan nama pena dari Mudji Sabar Soemardjan. Novel Cinta Segitiga di Langit Kediri menjadi karya keduanya setelah sebelumnya menerbitkan novel perdana. Selain aktif sebagai penulis, ia juga tercatat sebagai anggota Dewan Penasihat Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia (IPJI). (ich/arf)