JAVASATU.COM- Warga Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, punya cara tersendiri untuk merawat tradisi Grebeg Suro. Mereka menggelar Begawan Carnival dengan melibatkan ratusan warga secara swadaya dan gotong royong.

Kegiatan yang berlangsung Sabtu (11/6/2026) malam hingga Minggu (12/6/2026) dini hari itu tidak sekadar menjadi hiburan. Bagi warga, Grebeg Suro merupakan bagian dari tradisi bersih desa dan selamatan desa yang diwariskan secara turun-temurun.
Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Desa Pandansari Lor, Diyah Lusifa, mengatakan Begawan Carnival digelar sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam sekaligus upaya mempertahankan tradisi masyarakat Jawa.
“Kegiatan ini kami gelar dalam rangka memperingati tahun baru Islam, sekaligus sebagai wujud tradisi bersih desa dan selamatan desa. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa, momen Suro ini merupakan waktu yang sakral untuk memohon keselamatan dan menjauhkan desa dari marabahaya,” ujar Diyah.
Tradisi tersebut kemudian dikemas melalui karnaval yang melibatkan 13 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan sekitar 60 orang dan membawa berbagai hasil kreativitas warga, termasuk gunungan jajanan berukuran raksasa yang diarak mengelilingi dusun.
Kemeriahan juga diiringi sound horeg yang dibawa masing-masing kelompok. Dekorasi dan berbagai properti karnaval dibuat secara mandiri oleh warga.
Namun, di balik kemeriahan tersebut terdapat semangat gotong royong. Seluruh persiapan dan pembiayaan Begawan Carnival berasal dari iuran masyarakat Dusun Begawan.
“Antusiasme warga pada gelaran tahun ini sangat luar biasa. Seluruh pendanaan dan persiapan materi karnaval merupakan hasil iuran mandiri dari masyarakat Dusun Begawan,” katanya.
Menurut Diyah, keterlibatan warga menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan Grebeg Suro. Tradisi tidak hanya dipertahankan melalui ritual, tetapi juga dikemas dengan kegiatan yang mampu melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
“Bagi warga Pandansari Lor, Begawan Carnival bukan sekadar karnaval tahunan. Kegiatan tersebut menjadi cara masyarakat menjaga tradisi Grebeg Suro tetap hidup, sekaligus mewariskan nilai kebersamaan dan gotong royong kepada generasi berikutnya,” imbuhnya.
Begawan Carnival, lanjut Diyah, menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas dan kebersamaan warga. Tradisi Grebeg Suro tetap dipertahankan, tetapi penyajiannya menyesuaikan perkembangan zaman sehingga mampu menarik keterlibatan masyarakat, termasuk generasi muda.
Diyah berharap kegiatan tersebut dapat terus digelar dan menjadi tradisi yang semakin kuat di Dusun Begawan. Ia juga menekankan pentingnya aspek keamanan agar kemeriahan acara tidak mengurangi nilai utama dari perayaan Grebeg Suro.
“Harapan kami ke depan, semoga acara ini bisa digelar jauh lebih meriah lagi. Faktor keamanan juga akan terus kami tingkatkan agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan aman dan lancar. Selain itu, kami selalu mendoakan agar seluruh peserta yang terlibat diberikan kelancaran, kesehatan, serta keberkahan,” pungkasnya.

Semangat melestarikan tradisi juga melibatkan generasi muda. Kelompok 6 Fisip Bakti Desa Universitas Brawijaya (FBD UB) ikut bergabung dalam parade bersama warga RT 28.
Para mahasiswa bahkan mengikuti latihan bersama warga sebelum tampil dalam Begawan Carnival. Keterlibatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi antara masyarakat dan generasi muda dalam merawat tradisi lokal.
“Menurut aku, adanya sound horeg di Grebeg Suro merupakan rasa bahagia dan rasa bersyukur masyarakat di sini. Secara pribadi, ini merupakan pengalaman yang nggak terlupakan,” ujar Hika, salah satu mahasiswa UB. (Fenita Salsabila, Mahasiswa UB/nuh)