JAVASATU.COM- Tiga perwira Indonesia berhasil menyelesaikan pendidikan di US Army Command and General Staff College (CGSC), Amerika Serikat, pada Tahun Akademik 2025–2026. Salah satu lulusan, Mayor Inf Dr. Zulfikar Rakita Dewa, S.E., S.Hub.Int., M.I.Pol., M.H., M.M., MOS, juga berhasil meraih gelar Master of Operational Studies (MOS), yang menjadi gelar magister keempat dalam perjalanan akademiknya.

Pendidikan di salah satu institusi militer paling bergengsi di dunia itu menjadi bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia pertahanan Indonesia sekaligus memperkuat jejaring kerja sama internasional dengan negara-negara mitra.
“Pendidikan ini memberikan kesempatan untuk memahami berbagai perspektif dalam menghadapi tantangan keamanan masa kini dan masa depan, sekaligus memperkuat kerja sama serta jejaring profesional dengan rekan-rekan dari berbagai negara,” ujar Mayor Inf Dr. Zulfikar Rakita Dewa, Selasa (16/6/2026) dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi media ini.
Mayor Zulfikar memiliki latar belakang pendidikan multidisiplin yang meliputi ekonomi, manajemen, hubungan internasional, ilmu politik, hukum hingga ilmu pemerintahan tingkat doktoral. Capaian gelar Master of Operational Studies melengkapi empat gelar magister yang telah diraihnya.
US Army Command and General Staff College (CGSC) yang berada di Fort Leavenworth, Kansas, dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan militer paling prestisius di dunia. Kampus ini menjadi tempat pembinaan para pemimpin militer dan strategis dari berbagai negara. Sejumlah tokoh nasional Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di CGSC antara lain Jenderal TNI Ahmad Yani dan Presiden ke-6 RI Jenderal TNI (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada Tahun Akademik 2025–2026, CGSC meluluskan 951 peserta. Jumlah tersebut terdiri dari 718 personel Angkatan Darat Amerika Serikat, 68 personel Angkatan Udara, 12 personel Angkatan Laut, 25 personel Korps Marinir, satu personel Coast Guard, lima personel Space Force, dua peserta sipil, serta 120 International Military Students dari 92 negara.
Keberhasilan tiga perwira Indonesia menyelesaikan pendidikan di lingkungan akademik yang kompetitif dan multinasional tersebut dinilai menjadi modal penting dalam meningkatkan profesionalisme prajurit TNI di tengah dinamika keamanan global yang semakin kompleks.
Selama mengikuti pendidikan, para peserta tidak hanya mempelajari kepemimpinan dan operasi militer modern, tetapi juga bertukar pengalaman dengan perwira dari berbagai negara. Interaksi tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai tantangan strategis kontemporer dan pentingnya kolaborasi internasional dalam menjaga stabilitas keamanan.
Pendidikan di CGSC juga menjadi sarana bagi para perwira Indonesia untuk memperdalam kemampuan perencanaan operasional, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan pada tingkat operasional maupun strategis.
Keikutsertaan dan keberhasilan perwira Indonesia di kampus militer elite Amerika Serikat itu diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan kapasitas kepemimpinan dan profesionalisme TNI dalam menghadapi tantangan pertahanan di masa mendatang. (arf)