JAVASATU.COM- Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Jumat (13/02/2026), untuk membahas stabilitas harga dan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok menjelang Ramadan 1447 H dan Idulfitri. Pertemuan ini digelar untuk memastikan pasokan pangan aman dan harga tetap stabil selama momen konsumsi tinggi.

Dalam arahannya, Mbak Wali menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak. “Sebentar lagi masyarakat akan merayakan Imlek dan puasa Ramadan. Aktivitas ekonomi meningkat, mobilitas masyarakat tinggi, dan konsumsi rumah tangga naik. Kita harus memastikan harga tetap stabil,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Kediri mengalami deflasi 0,37% pada Januari 2026 akibat turunnya harga makanan, minuman, dan tembakau. Sementara inflasi year on year mencapai 3,30%, dipengaruhi ketersediaan komoditas pangan strategis, distribusi antar wilayah, cuaca, serta pola konsumsi masyarakat.
Mbak Wali menekankan tiga langkah strategis TPID:
- Pemetaan stok dan ketersediaan bahan pokok di seluruh wilayah.
- Pengawasan distribusi untuk mencegah penimbunan, termasuk bila perlu Operasi Pasar Murni (OPM) dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
- Pemantauan harga secara intensif untuk intervensi cepat jika terjadi kenaikan signifikan.
“Kita sudah melakukan survei harga di pasar, beberapa komoditas naik signifikan. Forum ini penting untuk merumuskan langkah konkret menjaga inflasi dan ketersediaan pasokan,” tegasnya.
Kepala BPS Kota Kediri, Emil Wahyudiono, menambahkan komoditas penyumbang deflasi Januari 2026 antara lain cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur, dan sayuran. Sementara inflasi year on year dipicu oleh tarif listrik, emas perhiasan, beras, bahan bakar rumah tangga, dan angkutan udara. (kur/arf)