JAVASATU.COM- Griya Kriya Topeng Ramah Difabel Kota Malang menggelar pelatihan membatik bagi anak difabel di Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Sabtu pagi (16/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal pemberdayaan difabel melalui seni budaya dan keterampilan kreatif.

Sebanyak 15 anak difabel bersama pendamping mengikuti pelatihan membatik yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Kegiatan tersebut merupakan sesi perdana dari rangkaian program Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng yang digagas Sanggar Budaya Anak Nareswari.
Bendahara acara Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng, Brelliane Semesta Pratiwi, mengatakan program itu dirancang untuk membuka ruang kreativitas sekaligus membangun rasa percaya diri anak difabel.
“Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi ruang bagi anak-anak difabel untuk tumbuh mandiri dan percaya diri melalui seni dan keterampilan budaya,” ujar Brelliane, Sabtu (16/5/2026).
Program tersebut merupakan bagian dari Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 kategori Dukungan Institusional bagi Lembaga Kebudayaan. Kegiatan didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, dan Dana Indonesiana.
Dalam pelatihan itu, instruktur batik Yuharsita mengenalkan teknik dasar membatik menggunakan canting dan malam panas di atas kain. Peserta diajarkan berbagai jenis canting, mulai dari ukuran kecil hingga canting bagong berukuran besar.
“Batik bukan hanya soal seni, tetapi juga bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi. Teknik sederhana pun dapat menjadi bekal usaha bagi teman-teman difabel,” kata Yuharsita.
Peserta juga diperkenalkan dengan istilah dasar dalam membatik seperti glowong untuk garis luar dan isen-isen sebagai isian motif. Selain itu, mereka belajar mengenal motif batik nusantara seperti Megamendung khas Cirebon, Sekarjagad dari Yogyakarta, hingga Batik Tiga Negeri.
Menurut Yuharsita, batik khas Malang juga memiliki identitas kuat yang perlu terus dikembangkan, terutama motif topeng dan tugu dengan dominasi warna biru.
“Batik Malang punya ciri khas tersendiri. Motif topeng dan tugu itu harus terus dikenalkan agar semakin dikenal luas,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri 46 mahasiswi Program Studi Fashion Design & Business Universitas Ciputra Surabaya. Kehadiran mereka merupakan bagian dari kolaborasi kampus dengan DMart yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir.
Dosen pengampu, Janet Rine Teowarang, mengatakan mahasiswa diajak mengenal isu difabel secara langsung melalui kegiatan sosial berbasis seni dan budaya.
“Mahasiswa tidak hanya belajar desain, tetapi juga memahami empati dan kepedulian sosial lewat pengalaman langsung bersama anak-anak difabel,” kata Janet.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa Universitas Ciputra dijadwalkan menggelar presentasi motif batik dan mini fashion show dengan lima karya pada pekan depan.
Rangkaian program Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng akan berlanjut dengan pelatihan membuat topeng pada Juni, melukis topeng pada Juli, hingga parade tari, sendratari, dan bazar UMKM pada 1 Agustus 2026 mendatang. Untuk informasi lebih lanjut terkait program dan pendaftaran kegiatan, masyarakat dapat menghubungi panitia melalui nomor 0853-9469-9997. (arf)