JAVASATU.COM– Di saat tujuh dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang sempat dihentikan sementara karena persoalan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tlogowaru justru tampil sebagai pengecualian. Dapur MBG yang dipimpin alumni Universitas Brawijaya, Achmad Ferdhian Valensyah, dinilai layak menjadi percontohan karena berhasil memenuhi standar lingkungan dan operasional yang ditetapkan.

SPPG Tlogowaru saat ini melayani 2.922 penerima manfaat, mulai dari peserta didik, tenaga pendidik, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita. Selain telah melengkapi berbagai perizinan dan sertifikasi operasional, dapur tersebut menerapkan sistem pengolahan limbah berlapis yang dinilai memenuhi baku mutu lingkungan.
“Hasil uji laboratorium pada April 2026 menunjukkan seluruh parameter kualitas air limbah telah memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah,” ungkap pengelola SPPG Tlogowaru.
IPAL Berlapis Jadi Kunci
SPPG Tlogowaru mengembangkan sistem pengolahan limbah mulai dari enam tahap penyaringan lemak (grease trap) sebelum limbah dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Sistem tersebut didukung empat ruang pengolahan yang dilengkapi aerator, media bioball, dan filter sarang tawon untuk membantu proses penguraian limbah oleh mikroorganisme.
Keberhasilan itu menjadi sorotan di tengah evaluasi yang dilakukan Pemerintah Kota Malang terhadap sejumlah dapur MBG.
Tujuh Dapur MBG Sempat Disetop
Sebelumnya, tujuh Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang sempat disuspend atau dihentikan sementara operasionalnya karena IPAL yang dimiliki belum memenuhi spesifikasi teknis. Langkah tersebut diambil Satgas MBG Kota Malang untuk memastikan seluruh dapur memenuhi ketentuan lingkungan dan keamanan pangan.
Anggota Satgas SPPG Kota Malang dari Cipta Karya DPUPRPKP Kota Malang, Eka Prasetya Wibowo, mengatakan hasil evaluasi menemukan sejumlah kekurangan pada komponen IPAL.
“Kurang bagian chamber dan grease trap,” kata Eka, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, komponen tersebut menjadi bagian penting agar sistem pengolahan limbah dapat bekerja secara optimal.
Seluruh IPAL Mulai Dibenahi
Eka menjelaskan, pada dasarnya seluruh IPAL SPPG di Kota Malang kini sudah dilakukan pembenahan dan telah menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Namun, mekanisme penyedotan limbah cair masih dalam tahap kajian sambil menunggu petunjuk teknis terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Pada dasarnya semua IPAL di Kota Malang sudah dibenahi dan sudah sesuai ketentuan. Hanya saja untuk penyedotan limbah cair dari SPPG saat ini masih dikaji terkait transporter yang sesuai ketentuan dan tempat pengolahan limbah cair SPPG. Dalam bulan depan mungkin sudah mulai diterapkan mekanisme pengelolaan limbah cair dari SPPG, sambil menunggu juknis terbaru dari BGN,” jelasnya.
SPPG Sukun Gadang Ajukan Pencabutan Suspend
Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, mengungkapkan salah satu SPPG yang terdampak penghentian sementara adalah SPPG Sukun Gadang 1. Namun, berdasarkan laporan terbaru, proses perbaikan telah selesai dilakukan.
“Informasi terbaru, IPAL sudah terpasang. Pihak yayasan juga sudah mengajukan pencabutan suspend,” ujar Erik.
Di tengah sorotan terhadap pengelolaan dapur MBG di Malang Raya, keberhasilan SPPG Tlogowaru memenuhi standar lingkungan menunjukkan bahwa program makan bergizi gratis dapat dijalankan secara profesional tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Bahkan, keberadaan SPPG Tlogowaru kini dinilai layak menjadi model bagi dapur MBG lainnya dalam membangun sistem pengolahan limbah yang sesuai standar. (arf)