JAVASATU.COM- Syngenta Indonesia resmi menjalin kemitraan strategis dengan PT Terra Baru Indonesia (TerraBaru). Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong adopsi biochar rekayasa (engineered biochar) sebagai solusi pertanian regeneratif.

Langkah besar ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dalam acara Festival Pertanian Regeneratif di Malang, Sabtu (06/06/2026). Inisiatif ini mengangkat tema “Mendukung Ketahanan Pangan dengan Tanah yang Sehat dan Produktif”.
Kerja sama ini hadir sebagai respons konkret terhadap tantangan merosotnya kesehatan tanah di berbagai wilayah Indonesia. Studi Kementerian Pertanian pada 2019 menunjukkan bahwa dua pertiga wilayah Indonesia memiliki kandungan karbon tanah yang rendah.
Kondisi kritis tersebut memicu rendahnya kesuburan, serta berkurangnya kemampuan tanah menyimpan air dan nutrisi. Jika tidak ditangani, penurunan kualitas tanah dapat menurunkan produktivitas pertanian dan mengancam ketahanan pangan jangka panjang.
Sebagai produsen benih jagung, Syngenta Indonesia memanfaatkan potensi residu biomassa berupa tongkol jagung. Bersama TerraBaru, limbah tersebut diolah menjadi biochar siap pakai untuk memperbaiki kualitas tanah secara bertahap dan berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus mendukung ekonomi sirkular dengan mengubah limbah pertanian menjadi input bernilai tambah. Upaya tersebut dilakukan guna memperkuat ketahanan dan produktivitas petani.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung petani menghadapi tantangan produksi pangan berkelanjutan. Solusi ini menitikberatkan kesehatan tanah sebagai fondasi utama.
“Syngenta Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung petani dalam menghadapi tantangan produksi pangan berkelanjutan. Bersama TerraBaru, kami menghadirkan solusi yang berfokus pada peningkatan kesehatan tanah sebagai fondasi penting bagi produktivitas jangka panjang. Hal ini juga mencerminkan visi Petani MAJU yaitu Joint effort in sustainability, bekerja sama dengan mitra dan petani untuk mencapai tujuan keberlanjutan,” ujar Eryanto.

Pada kesempatan yang sama, CEO TerraBaru, Bruno Wauters, menyatakan komitmen penuh perusahaan untuk memberikan nilai nyata yang meningkatkan kesejahteraan petani di lapangan melalui Proyek Percontohan Biochar ini.
“Melalui Proyek Percontohan Biochar ini, TerraBaru berkomitmen penuh untuk memberikan nilai nyata yang meningkatkan kesejahteraan petani di lapangan. Sinergi antara ekosistem Syngenta dan teknologi kami dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan produktivitas lahan melalui pemanfaatan limbah jagung lokal, serta menjaga kelestarian tanah dalam jangka panjang,” kata Bruno Wauters.
Inovasi ini didukung oleh produk TerraKarbon yang dikembangkan melalui kolaborasi bersama Universitas Brawijaya. Produk pembenah tanah ini telah melampaui standar mutu Kementerian Pertanian dengan meraih peringkat tertinggi atau Grade A.

Formulasi TerraKarbon terbukti aman secara ekologis, mampu memurnikan kualitas air, serta meningkatkan efektivitas pemupukan hingga 24% di tingkat akar rumput. TerraBaru menargetkan pemrosesan lebih dari setengah juta ton limbah secara tahunan pada tahun 2030.
Momentum kemitraan ini juga bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni) dan Hari Keamanan Pangan Sedunia (7 Juni). Melalui ekonomi sirkular ini, kedua perusahaan memperkuat aksi iklim sekaligus menjawab tantangan keamanan pangan nasional. (jup)