JAVASATU.COM- Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, MA, menegaskan bahwa lahirnya santri unggul menjadi salah satu kunci utama mewujudkan Indonesia yang maju di tengah tantangan era global dan digital.
Menurutnya, pesantren harus terus bertransformasi agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, keterampilan, dan karakter yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof Barizi saat menjadi narasumber dalam Diskusi Publik bertema “Generasi Santri Unggul, Integrasi Agama dan Sains” yang diselenggarakan Yayasan Yasmine Indonesia Maju (YIM) di Auditorium Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Kota Malang, Jumat (10/7/2026).
“Santri unggul adalah kunci Indonesia maju. Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian agar mampu menjawab tantangan global,” ujar Prof Barizi.
Menurut Prof Barizi, sejak awal pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan Islam yang lahir dari budaya Indonesia dan berperan membentuk identitas, karakter, serta intelektualitas umat.
Sistem pendidikan berasrama (boarding school) yang diterapkan pesantren dinilai menjadi keunggulan karena memungkinkan proses pembelajaran berlangsung selama 24 jam dengan penanaman nilai agama dan akhlak secara menyeluruh.
“Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi ruang pembentukan karakter, intelektual, dan spiritual yang berlangsung sepanjang hayat,” katanya.
Namun demikian, ia menilai pesantren juga menghadapi tantangan besar di era global-digital. Di antaranya adalah persoalan orientasi pendidikan, metode pembelajaran yang masih cenderung berfokus pada transmisi keilmuan klasik, serta pola kepemimpinan yang perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Pesantren harus mampu membangun tradisi berpikir kritis, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman sebagai fondasi,” tegasnya.
Prof Barizi menjelaskan, santri masa kini dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kecakapan abad ke-21. Karena itu, integrasi agama dan sains menjadi kebutuhan agar lulusan pesantren mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Ia menyebut tiga kompetensi utama yang harus dimiliki santri, yakni knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan personality (kepribadian). Ketiganya menjadi fondasi lahirnya sumber daya manusia unggul yang mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
“Santri harus menjadi pelaku perubahan yang membawa kemajuan bagi masyarakat melalui penguasaan ilmu, keterampilan, dan akhlak yang kuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof Barizi mendorong pesantren melakukan revitalisasi sistem pendidikan melalui penguatan literasi, karakter, dan kompetensi.
Menurutnya, santri harus dibekali kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan persoalan, serta menghasilkan inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Ia optimistis pesantren akan tetap relevan menghadapi era global-digital apabila mampu memadukan kekuatan intelektual dan spiritual dalam proses pendidikannya.
“Pesantren adalah laboratorium ilmu sekaligus tempat membangun peradaban. Dari pesantren akan lahir generasi yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaya saing, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam,” pungkasnya. (nuh)