JAVASATU.COM- Petani di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, menemukan cara baru untuk menekan biaya irigasi di tengah musim kemarau. Mereka memodifikasi mesin pompa air dari bahan bakar Pertalite menjadi menggunakan LPG 3 kilogram, sehingga biaya operasional harian turun drastis dari sekitar Rp264 ribu menjadi hanya sekitar Rp33 ribu.

Salah seorang petani di Kecamatan Kertajati, Engkus Kusnadi, mengatakan penggunaan LPG 3 kilogram membuat biaya operasional pompa air jauh lebih ringan dibandingkan saat masih menggunakan Pertalite.
“Kalau masih menggunakan Pertalite, biaya operasional pompa selama sehari bisa mencapai sekitar Rp264 ribu. Setelah kami beralih menggunakan Gas LPG 3 kilogram, biaya turun menjadi sekitar Rp33 ribu per hari. Selisihnya sangat besar dan benar-benar meringankan beban petani di tengah musim kemarau seperti sekarang,” ujar Engkus, Senin (27/7/2026).
Engkus menjelaskan, pompa air berukuran 3 inci yang digunakan untuk mengairi sawah sebelumnya menghabiskan sekitar 1,1 liter Pertalite per jam. Dengan waktu operasi hingga 24 jam sehari, kebutuhan bahan bakar mencapai sekitar 26,4 liter.
Setelah dimodifikasi menggunakan LPG 3 kilogram, satu tabung gas mampu mengoperasikan pompa selama kurang lebih 18 jam. Dalam sehari, petani hanya membutuhkan sekitar 1,5 tabung LPG untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian.
Menurut Engkus, penghematan tersebut memungkinkan petani tetap menyalakan pompa air tanpa khawatir biaya bahan bakar membengkak. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga tanaman padi tetap mendapat pasokan air dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
Ia berharap pemerintah dapat menjaga ketersediaan LPG 3 kilogram selama musim kemarau agar petani tidak kesulitan memperoleh bahan bakar untuk mengoperasikan pompa air.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP4) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, mengatakan musim kemarau mulai berdampak terhadap sektor pertanian, terutama di Kecamatan Kertajati yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak menyusutnya pasokan air irigasi.
“Kondisi pasokan air irigasi yang menyusut menuntut langkah cepat dan efisien. Wilayah Kertajati menjadi perhatian utama kami dalam pemantauan dan pendampingan penanganan dampak kekeringan musim ini. Kami terus berupaya agar petani dapat mempertahankan produktivitas tanamnya,” kata Gatot.
Gatot mengungkapkan, luas tanaman padi di Kabupaten Majalengka saat ini mencapai 39.550,94 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.258 hektare berada di Kecamatan Kertajati dengan usia tanaman antara 45 hingga 75 hari setelah tanam (HST) yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Majalengka terus memantau perkembangan kekeringan di sejumlah kecamatan selama Musim Tanam (MT) 2026. Petani juga diimbau berkoordinasi dengan penyuluh pertanian, memanfaatkan sumber air secara bergiliran, serta menerapkan pola pengairan yang efisien untuk menjaga produktivitas padi di tengah musim kemarau. (eko/arf)