Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

Ketua Ekraf Majalengka H. Baya: Generasi Muda Harus Jaga Warisan Nyiramkeun Pusaka Talaga

Eko Widiantoro by Eko Widiantoro
3 Agustus 2026

JAVASATU.COM- Tradisi Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung dinilai bukan sekadar ritual tahunan, tetapi warisan leluhur yang harus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda. Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Majalengka sekaligus Dewan Masyarakat Adat Danghyang Rundayan Talaga, H. Baya, meminta tradisi tersebut tidak tergerus perkembangan zaman.

H. Baya, Ketua Komite Ekraf Majalengka sekaligus Dewan Adat Masyarakat Danghyang Rundayan Talaga, memperkenalkan kain tenun Gadod kepada budayawan asal Banten. (Foto: Eko Widiantoro/Javasatu.com)

Pesan itu disampaikan H. Baya saat menghadiri prosesi Nyiramkeun Pusaka di Museum Talaga Manggung, Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, Senin (3/8/2026).

“Alhamdulillah, senang sekali budaya masyarakat Talaga masih terjaga. Ini harus terus dikembangkan dan dijaga. Apalagi dengan adanya museum ini, generasi muda bisa belajar sejarah dan budaya leluhurnya. Mudah-mudahan ke depan budaya semakin maju, Majalengka Langkung Sae dan Jawa Barat Istimewa,” ujar H. Baya.

Menurut H. Baya, Museum Talaga Manggung memiliki peran penting sebagai ruang belajar sejarah dan budaya lokal. Keberadaan museum dinilai dapat membantu generasi muda memahami peninggalan Kerajaan Talaga Manggung sekaligus mengenal tradisi yang masih bertahan hingga kini.

ADVERTISEMENT

Saat prosesi berlangsung, H. Baya turut mendampingi sejumlah tamu undangan, termasuk tokoh budaya dari Banten, untuk mengenalkan koleksi pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung.

Dia juga memperkenalkan Kain Gadod, kain tenun khas Desa Nunuk yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Menurutnya, keberadaan berbagai warisan budaya tersebut menunjukkan kekayaan sejarah masyarakat Talaga yang perlu terus dirawat.

“Budaya ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Mereka perlu mengetahui sejarah dan warisan leluhurnya agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya.

H. Baya menilai Nyiramkeun Pusaka juga memiliki fungsi sebagai ruang edukasi sekaligus penguat identitas masyarakat Talaga. Tradisi tersebut menjadi pengingat perjalanan sejarah masyarakat Talaga yang memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Talaga Manggung.

Selain aspek budaya, Nyiramkeun Pusaka dinilai memiliki potensi untuk mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah dapat menggerakkan aktivitas UMKM, pedagang kuliner dan sektor jasa di sekitar lokasi kegiatan.

“Kalau budaya terus dirawat dan dikembangkan, dampaknya bukan hanya untuk pelestarian sejarah. Kegiatan seperti ini juga bisa menjadi daya tarik wisata dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Pada pelaksanaan tahun ini, Nyiramkeun Pusaka kembali menarik masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga Banten. Ratusan benda pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung dibersihkan menggunakan air dari sembilan mata air yang memiliki nilai historis.

Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun selama lebih dari 250 tahun dan menjadi salah satu agenda budaya masyarakat Talaga setiap Bulan Safar.

Tokoh budaya adat dari Banten, Rd Srihartono Abdulghani, turut mengapresiasi pelaksanaan Nyiramkeun Pusaka. Ia menilai tradisi tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dirawat bersama.

“Alhamdulillah saya sangat senang bisa mengikuti acara ini. Budaya seperti ini harus menjadi aset dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Sebagai masyarakat Banten yang juga bagian dari budaya Sunda, saya sangat mengapresiasi tradisi ini,” kata Srihartono. (eko/arf)

Tags: budayaEkrafKabupaten MajalengkaTradisi
Previous Post

Ifan Seventeen Ubah “Apa Kabar” Jadi Lebih Emosional, Ini Bedanya

Next Post

Mas Dhito Minta Camat dan Puskesmas Bentuk Satgas Kesehatan Kecamatan

Related Posts

Ginofest 2026 Gresik Ditutup, 205 Inovasi Dipamerkan dan Dikompetisikan
Berita

Ginofest 2026 Gresik Ditutup, 205 Inovasi Dipamerkan dan Dikompetisikan

8 November 2026
Kapolresta Malang Kota Gandeng UB Lestarikan Budaya Lokal, Boso Walikan Dibukukan
Berita

Kapolresta Malang Kota Gandeng UB Lestarikan Budaya Lokal, Boso Walikan Dibukukan

8 November 2026
Polres Malang Mediasi Sopir Angkot soal Rambu Trans Jatim yang Dicopot
Berita

Polres Malang Mediasi Sopir Angkot soal Rambu Trans Jatim yang Dicopot

8 November 2026
TNI Temukan Black Box Helikopter MI-17 yang Jatuh di Seruyan
Berita

TNI Temukan Black Box Helikopter MI-17 yang Jatuh di Seruyan

8 November 2026
Wabup Gresik Tinjau Rumah Pompa, Siapkan Antisipasi Banjir
Berita

Wabup Gresik Tinjau Rumah Pompa, Siapkan Antisipasi Banjir

7 November 2026
Koops TNI Habema Amankan 7 Senjata Api dalam Operasi di Yahukimo
Berita

Koops TNI Habema Amankan 7 Senjata Api dalam Operasi di Yahukimo

7 November 2026
Next Post
Mas Dhito Minta Camat dan Puskesmas Bentuk Satgas Kesehatan Kecamatan

Mas Dhito Minta Camat dan Puskesmas Bentuk Satgas Kesehatan Kecamatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com