email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Selasa, 11 Agustus 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Babad Pasir Luhur Bangkit di Cibun Banyumas, Anak-anak Jadi Pewaris Tradisi

by Nurul Hakim
11 Agustus 2026

JAVASATU.COM- Tradisi melantunkan Babad Pasir Luhur yang nyaris punah kembali hidup di Dukuh Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Jawa Tengah. Sejumlah anak kini mulai belajar membaca dan melantunkan babad yang menjadi bagian penting dari ingatan sejarah masyarakat Banyumas tersebut.

Dok: Rumah Cibun

Upaya regenerasi itu terlihat dalam acara Nyore Sandekala, Twilight Dinner #3 – Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen di Rumah Cibun, Sabtu (8/8/2026). Sekitar 30 orang dari berbagai latar belakang hadir, mulai masyarakat setempat, seniman, akademisi, pegiat lingkungan, jurnalis hingga pelestari budaya.

Tiga anak, yakni Aditia Rifqi (10), Dwi Nanang Setiawan (8), dan Ismey Jumiati (12), tampil melantunkan Macapat Babad Pasir Luhur. Mereka menjadi bagian dari upaya meneruskan tradisi yang sebelumnya hanya bertahan melalui sejumlah pemaca atau pembaca babad di kalangan orang dewasa.

“Tradisi maca babad anak-anak Cibun istimewa karena bukan hanya langka, tetapi menunjukkan bahwa pengetahuan lama masih dapat diwariskan langsung kepada generasi muda,” kata Nasirun Purwokartun dari Bale Pustaka, pelestari Babad Banyumas.

Upaya tersebut bermula ketika Nisa Roiyasa mengenal Cibun pada 2019. Saat itu, tradisi melantunkan Babad Pasir Luhur disebut berada di ujung tanduk. Salah satu pemaca yang masih menguasai tradisi tersebut adalah Mbah Sikun.

Nisa, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman yang bukan warga Cibun, kemudian menelusuri jejak teks Babad Pasir Luhur sebelum mengajarkannya kepada generasi muda.

Sebagian naskah yang pernah dimiliki masyarakat Cibun telah dibuang, tercecer atau hilang. Beberapa bagian yang tersisa telah ditulis dalam huruf Latin, sementara sebagian lainnya berupa tulisan tangan Mbah Sikun menggunakan aksara Jawa.

Nisa kemudian menelusuri berbagai literatur dan menemui Prof. Sugeng Priyadi, salah satu peneliti Babad Pasir. Ia juga menelusuri penerbit di Yogyakarta yang menerbitkan teks Babad Pasir Luhur yang kemudian digunakan dalam proses pembelajaran di Cibun.

Dalam penelitian tentang Babad Pasir, peneliti Belanda J. Knebel menerbitkan Babad Pasir pada 1900 berdasarkan manuskrip Banyumas. Teks yang digunakan di Cibun merupakan hasil kompilasi Knebel yang kemudian direvitalisasi Prof. Sugeng Priyadi.

Dalam proses awal, Nisa didampingi dalang jemblung Agung Wicaksana, Iang Kie Bae yang melatih anak-anak untuk Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah, serta dua koleganya di kampus, Dr. Chusni Hadiati dan Enni Nur Aeni, M.A.

BacaJuga :

Panglima TNI Imbau Warga Tak Terprovokasi Isu di Media Sosial

Satpol PP Gresik Bina 30 Pemilik Warung, Soroti Hiburan dan Miras

Kelompok pemaca dewasa kemudian dibentuk. Pewarisan tradisi diperluas kepada anak-anak.

Pada 2022, Mbah Sikun meninggal dunia. Namun, pengetahuan yang diwariskannya tidak berhenti. Pada tahun yang sama, kelompok anak-anak Cibun tampil dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Jawa Tengah di Bandungan, Kabupaten Semarang.

Mereka membawakan kisah Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa melalui maca babad dan jemblungan, tradisi akapela yang dikenal dalam kebudayaan Banyumas.

Dok: Rumah Cibun

Babad Pasir Luhur Tak Sekadar Teks

Di Cibun, Babad Pasir Luhur tidak hanya diperlakukan sebagai teks sejarah atau cerita rakyat. Sejumlah pengetahuan yang berkaitan dengan kisah di dalamnya masih hidup dalam praktik keseharian masyarakat.

Era Prima Nugraha dari komunitas Sthanaluhur Indonesia mengatakan salah satunya terlihat dari tradisi menangkap ikan dengan cara marak, yakni membendung atau mengalihkan aliran sungai.

Praktik tersebut memiliki kaitan dengan kisah dalam Babad Pasir Luhur yang menceritakan aktivitas menangkap ikan di Sungai Logawa. Dari aktivitas itu kemudian dikisahkan pertemuan Kamandaka dengan Dewi Ciptarasa.

“Yang kita sajikan malam itu bukan sekadar makanan, tetapi juga pengetahuan lokal yang masih hidup dan memiliki hubungan dengan sejarah serta lingkungan Cibun,” ujar Era.

Pengetahuan pangan lokal juga ditampilkan dalam jamuan acara. Menu yang disajikan antara lain Sega Tutu, Cimplung Dawegan, Ayam Burus, Jangan Pakis Kecombrang, Umbut Warak dan Tempe Ireng.

Dengan demikian, tradisi dalam Babad Pasir Luhur tidak berhenti pada pembacaan naskah. Sebagian pengetahuan yang diceritakan di dalamnya masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Cibun.

Ancaman Pembangunan

Pelestarian budaya Cibun tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan. Sebab, lanskap alam menjadi bagian penting dari kehidupan dan pengetahuan masyarakat setempat.

Maestro Lengger Lanang Banyumas, Rianto, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebut Cibun memiliki karakter yang kuat dan terasa sangat organik.

Rianto bahkan pernah datang bersama Tarmaji dan menari di tengah sawah. Namun, ketika kembali ke Cibun pada 8 Agustus 2026, sebuah pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun sudah ditebang.

“Kalau salah dalam merencanakan pembangunan, semua yang indah ini akan hilang,” kata Bangkit Ari Sasongko, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH).

Masyarakat mencatat sedikitnya empat pohon besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun ditebang dalam kurun kurang dari dua tahun berkaitan dengan persiapan pembangunan jembatan.

Karena itu, masyarakat mendorong agar rencana pembangunan jembatan dan pengaspalan jalan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan keberadaan lingkungan dan kekayaan budaya Cibun.

Dok: Rumah Cibun

Dari Diskusi Menjadi Gerakan

Rembug budaya yang dipandu Dr. Nurul Hidayat, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Alumni Fakultas Teknik Unsoed, menyoroti posisi budaya yang kerap ditempatkan bukan sebagai prioritas pembangunan.

Padahal, budaya tidak sebatas kesenian. Ia mencakup pengetahuan, tradisi, lingkungan, pangan, sejarah dan cara hidup masyarakat.

Cibun menunjukkan bahwa sebuah dusun kecil mampu menyelamatkan tradisi yang hampir hilang. Karena itu, pelestarian tersebut dinilai layak dipandang sebagai bagian dari aset kebudayaan Banyumas.

Nasirun Purwokartun dari Bale Pustaka juga datang membawa pengalaman dalam menyelamatkan naskah Babad Banyumas. Sejak 2014, ia mengumpulkan sekitar 100 naskah babad dan menerjemahkan lebih dari 25 di antaranya. Hasilnya kemudian dikembangkan menjadi lebih dari 100 judul Serial Babad Banyumas.

Perjalanan pelestarian tradisi di Cibun tidak selalu mudah. Nisa menghadapi pasang surut, kelelahan hingga penolakan dari sebagian warga yang belum memahami pentingnya tradisi tersebut.

Ia bahkan tidak jarang berjalan kaki seorang diri melewati jembatan gantung menuju Cibun pada malam hari untuk mengawal proses latihan.

“Ketika saya merasa kecapekan dan hilang semangat, datang dukungan dari teman-teman yang lain,” ujar Nisa.

Kini dukungan tersebut semakin luas. Seniman, akademisi, pelukis, jurnalis, pegiat lingkungan, pelestari babad, mahasiswa hingga pegiat budaya dari berbagai daerah mulai terlibat.

Dalam diskusi, Tedjo dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi mengingatkan agar forum kebudayaan tidak berhenti pada pembicaraan.

“Yang paling penting, habis ini kita mau melakukan apa? Apakah hanya puas di diskusi, atau mau berbuat sesuatu?” ujarnya.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan penandatanganan Prasasti Cibun, sebagai komitmen bersama untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Cibun.

Malam itu, anak-anak kembali membaca Babad Pasir Luhur.

Tradisi yang hampir hilang kini menemukan pewaris baru. Namun, keberlangsungannya tidak hanya bergantung pada kemampuan generasi muda membaca babad.

Kelestarian sungai, pohon-pohon tua dan lanskap Cibun turut menentukan apakah pengetahuan tersebut dapat terus hidup.

Sebab, bagi masyarakat Cibun, kebudayaan bukan sekadar ornamen pembangunan. Ia merupakan bagian dari akar yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah dan lingkungan tempat mereka hidup. (nuh)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: budayaKabupaten BanyumasSeniTradisi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Babad Pasir Luhur Bangkit di Cibun Banyumas, Anak-anak Jadi Pewaris Tradisi

Panglima TNI Imbau Warga Tak Terprovokasi Isu di Media Sosial

Satpol PP Gresik Bina 30 Pemilik Warung, Soroti Hiburan dan Miras

L’SIMA Bagikan 100 Paket Sembako untuk Warga Buring Malang

Operasi Narkoba Gresik Dimulai 12 Agustus, 103 Polisi Dikerahkan

Bendera Merah Putih 120×80 Meter Dibentangkan di Gunung Cycloop Papua

Anggota DPRD Majalengka Gus Hisnu Soroti MBG: Jangan Cuma Untungkan Pengusaha

Jelang Bebas, 20 Warga Binaan Lapas Malang Bersihkan TPU Buring

MUI Gresik Bekali Siswa SMPN 2 soal Bahaya Pergaulan Bebas

1.147 Personel Paspampres Siap Amankan HUT ke-81 RI

Prev Next

POPULER HARI INI

Reuni AKABRI 1991 35 Tahun Mengabdi, Panglima TNI dan Kapolri Tekankan Persaudaraan

Komisaris Pertamina Geothermal Energy: Ilmu Pengetahuan Jadi Fondasi Peradaban

KH Abbas Abdul Jamil Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Bupati Majalengka: Ini Perjuangan Jawa Barat

1.752 Napi Lapas Malang Diusulkan Dapat Remisi, 27 Langsung Bebas

Partilibur Caravan 2026 di Batu, 105 Performance Musik Tampil di Arena Wahana

BERITA LAINNYA

Babad Pasir Luhur Bangkit di Cibun Banyumas, Anak-anak Jadi Pewaris Tradisi

Panglima TNI Imbau Warga Tak Terprovokasi Isu di Media Sosial

Satpol PP Gresik Bina 30 Pemilik Warung, Soroti Hiburan dan Miras

L’SIMA Bagikan 100 Paket Sembako untuk Warga Buring Malang

Operasi Narkoba Gresik Dimulai 12 Agustus, 103 Polisi Dikerahkan

Bendera Merah Putih 120×80 Meter Dibentangkan di Gunung Cycloop Papua

Anggota DPRD Majalengka Gus Hisnu Soroti MBG: Jangan Cuma Untungkan Pengusaha

Jelang Bebas, 20 Warga Binaan Lapas Malang Bersihkan TPU Buring

MUI Gresik Bekali Siswa SMPN 2 soal Bahaya Pergaulan Bebas

1.147 Personel Paspampres Siap Amankan HUT ke-81 RI

Prev Next

POPULER MINGGU INI

OPINI: Malang Raya Megapolitan, Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

Budidaya Ikan Bioflok Senggreng Malang Ubah Pola Tebar untuk Tekan Biaya

Nabung 2 Tahun, Warga Perumahan Banjararum Asri Singosari Berangkat Melali ke Bali

Reuni AKABRI 1991 35 Tahun Mengabdi, Panglima TNI dan Kapolri Tekankan Persaudaraan

Komisaris Pertamina Geothermal Energy: Ilmu Pengetahuan Jadi Fondasi Peradaban

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved