
[Cerita Pendek]
Ujian Jarak
Penulis: Ramli Lahaping
“Kenapa kau harus pergi? Kenapa kau tidak di sini saja?” tanya Mia kepada Ari, kekasihnya, dua tahun yang lalu, di sebuah kafe favorit mereka.
“Aku merasa tidak akan berkembang kalau di sini. Peluang kerja sedikit, dan persaingan ketat. Buktinya, sudah sembilan bulan aku luntang-lantung, tetapi aku belum juga mendapatkan penghidupan yang baik. Karena itu, dengan merantau, aku merasa akan bisa mendapatkan pekerjaan yang menjamin, dan aku bisa membangun karirku,” jawab Ari, tenang, sembari berharap kekasihnya itu merelakan kalau sebuah kapal membawanya ke pulau seberang pada saat malam, di hari itu juga.
Mia pun cemberut murung.
“Jangan bersedih begitu, dong. Itu juga kulakukan untuk kita. Kelak, kalau aku sukses dan sudah mapan, aku pasti pulang untuk menikahimu,” tutur Ari, dengan nada merayu, berharap kekasihnya tenang.
Namun Mia malah tampak makin merajuk. “Tetapi di kota seberang nanti, apa kau tidak malah berpaling ke lain hati?”
Seketika, Ari menggenggam tangan kekasihnya itu dan mengikrarkan keteguhan cintanya, “Sayang, aku janji, aku akan setia kepadamu. Yakinlah, aku tidak akan tertarik dan tergoda kepada perempuan yang lain.”
Perlahan-lahan, Mia tampak lega. Sekejap kemudian, ia pun tersenyum.
“Kau akan bersetia juga denganku, kan?” selisik Ari, seolah butuh diyakinkan juga.
Mia mengangguk tegas. “Aku tak akan mau hidup dengan seorang lelaki selain dirimu.”
Ari sontak tersenyum senang. “Kalau begitu, demi cinta kita, aku butuh kesepakatanmu, bahwa dua tahun ke depan, kita akan kembali bertemu di kafe ini, pada tanggal dan waktu yang sama. Pada saat itu, kita akan membicarakan soal pernikahan kita. Janji?” tagihnya, lantas mengajukan anak jari tangan kanannya.
Baiklah, respons Mia, lantas mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking kekasihnya sebagai tanda perikatan. “Aku janji.”
Demikianlah persetujuan mereka di hari itu, sebelum Ari beranjak ke pulau seberang dan membuat mereka berjarak ribuan kilometer.
Waktu bergulir. Hari-hari terus berganti. Sampai akhirnya, mereka telah berpisah tepat selama dua tahun.
Kini, Ari telah datang dari pulau seberang dan kembali menapak di kota kediaman Mia yang merupakan kota lokasi kampus mereka dahulu. Dari sisi masing-masing, mereka pun menuju ke satu titik. Mereka hendak bertemu pada tempat dan waktu yang telah mereka perjanjikan. Mereka sama-sama mengaku rindu dan ingin berbagi cerita secara langsung setelah sekian lama mereka hanya berkomunikasi lewat saluran ponsel. Mereka bahkan memendam keinginan untuk mengobrolkan masa depan hubungan mereka, seperti yang mereka sepakati dahulu.
Perjanjian untuk bersetia dan bertemu kembali, memang telah membuat hubungan mereka bertahan makin lama. Mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih saat mereka sama-sama berada di tahun ketiga perkuliahan. Dan sejak saat itu, sampai saat ini, mereka tak pernah bersepakat untuk memutuskan hubungan. Meski pertengkaran sering juga terjadi di antara mereka, tetapi mereka selalu bisa saling mendamaikan dengan komunikasi yang baik.
Ketika terpisah jarak selama dua tahun, mereka pun mempertahankan hubungan dengan terus berkomunikasi lewat perangkat ponsel. Mereka berbagi cerita atau sekadar berbagi kabar untuk mengesankan kalau mereka tetap menyatu. Meski komunikasi dunia maya tidaklah sehangat komunikasi secara langsung, tetapi cara itu mampu mengawetkan hubungan mereka sampai saat ini, di tahun kelima sejak pertautan cinta mereka.
Namun tetep saja, komunikasi lewat layar ponsel, rentan menimbulkan percekcokan. Begitu pula yang terjadi pada mereka selama terpisah dua tahun, sebab mereka kerap saling mencurigai dan saling menuduh kalau satu sama lain telah berbuat serong. Tetapi pertengkaran-pertengkaran itu, tak pernah juga membuat hubungan mereka berakhir. Kalau Mia sedang marah atas kecurigaannya, Ari selalu bisa meyakinkannya kalau itu tidaklah benar. Begitu pula sebaliknya.
Meski mereka tak pernah sepakat untuk putus hubungan selama berkomunikasi via ponsel, tetapi amarah kerap membuat mereka berujung pada keputusan untuk menjeda komunikasi sekian lama. Keadaan semacam itu sering kali terjadi setelah percekcokan akibat kecurigaan dan tuduhan berkhianat. Mereka baru akan berhenti saling mendiamkan setelah salah satu pihak berbesar hati untuk mengalah dan meminta maaf.
Jeda komunikasi terlama di antara mereka, bahkan terjadi tiga bulan belakangan. Mereka kukuh tidak bertegur sapa lewat saluran ponsel. Mereka terkesan sama-sama nyaman untuk saling mengabaikan, sampai tak ada yang merasa perlu untuk segera mencairkan kebekuan. Hingga akhirnya, kemarin, Ari tiba-tiba saja mengabari Mia perihal kedatangannya, lalu mereka bersepakat untuk bertemu seperti yang telah mereka perjanjikan dahulu.
Tetapi apa yang sebenarnya terjadi di sisi mereka saat mereka saling mendiamkan, tidak benar-benar mereka ketahui satu sama lain. Setiap kali mereka saling menanyakan sebab, mereka cuma akan berbagi kilahan dusta yang sama-sama tidak bisa mereka buktikan. Kerena itu, mereka saling memercayai begitu saja atas ketidaktahuan mereka akan kenyataan hidup masing-masing. Mereka terus menjaga hubungan mereka, sebab mereka sama-sama tak punya ketegaan untuk saling menyakiti.
Sampai akhirnya, kini, setelah sekian lama perjalanan, Ari sampai di kafe favorit mereka. Berselang tujuh menit, Mia pun tiba. Dan ternyata, keterpisahan fisik sekian lama, menimbulkan kekakuan di antara mereka, seakan-akan mereka adalah dua orang asing yang baru bertemu. Paling tidak, itu terbaca dari gerak tubuh mereka yang tidak refleks untuk berbagi pelukan. Mereka hanya saling berjabat tangan, seolah-olah mereka tak terikat hubungan yang spesial.
Dengan kekakuan masing-masing, mereka lantas duduk berhadapan dan tampak sama-sama kebingungan untuk memulai percakapan. Mereka seolah lupa caranya berbalas lelucon seperti dahulu. Karena itu, selama sekian detik, mereka hanya saling melirik dan membaca keadaan diri. Mereka pun menilai satu sama lain, bahwa penampilan mereka tampak banyak berubah, bahkan cukup berbeda dengan tampakan mereka pada foto dan video yang mereka bagikan melalui ponsel.
“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan? Wajahmu tampak pucat,” ketus Ari, sedikit gelagapan, setelah ia menyaksikan raut wajah Mia yang tanpa riasan dan sama sekali tak menampakkan keceriaan.
“Aku sehat, kok. Aku hanya merasa kelelahan akhir-akhir ini,” tanggap Mia, lantas tersenyum malas, seperti tak punya gairah hidup. “Kau sendiri bagaimana?” tanyanya, setelah melihat penampilan Ari yang sekadarnya dengan hanya mengenakan kaos oblong, celana selutut, dan sendal jepit.
Ari tersenyum pendek. “Aku baik-baik saja,” jawabnya, begitu saja, tanpa merasa ada perkara yang patut ia pertanyakan balik.
Mia hanya merespons dengan senyuman kecil.
Mereka lalu kembali saling mendiamkan, seperti sama-sama kehabisan bahan obrolan.
Beruntung, di tengah kekakuan itu, seorang pramusaji datang dan menawarkan menu. Mereka pun sama-sama memesan susu cokelat dingin, serta camilan berupa singkong goreng dan pisang nugget.
“Kau sibuk apa sekarang? Apa kau masih bekerja sebagai kasir di perusahaan retail itu?” selidik Mia kemudian.
Ari menggeleng. “Tujuh sebulan yang lalu, perusahan itu mengalami masalah keuangan dan harus melakukan penghematan. Beberapa pegawai akhirnya diberhentikan, termasuk aku,” tuturnya, lantas mendengkus lesu, kemudian menyambung, “Sekarang, aku sedang tidak punya pekerjaan.”
Mia mengangguk-angguk saja, seolah merasa cukup dengan mengetahui informasi itu.
“Kau sendiri bagaimana? Kau sibuk apa?” tanya balik Ari.
“Sudah hampir tiga bulan aku bekerja di bank. Bagian perkreditan. Gajiku tinggi, tetapi beban kerjaku besar. Karena itulah, aku jadi mudah kelelahan karena kepikiran soal pekerjaan.” Ia lantas mengembuskan napas yang panjang untuk mengesankan keletihannya.
Ari kemudian tergelak pendek. “Kalau begitu, kau seharusnya menggunakan sebagian gajimu itu untuk merawat dirimu. Belilah vitamin dan makanan yang bergizi, agar badanmu bugar dan wajahmu cerah. Atau manjakanlah dirimu di spa atau salon, supaya kau terlihat cantik.”
Mia pun tertawa lepas, seakan-akan tak tersinggung mendengar ucapan Ari. Tetapi wanita karir yang bekerja keras setiap hari, sepertiku, memang tidak punya waktu untuk memperhatikan keadaan tubuh dan penampilan wajah. Makanya, seorang perempuan butuh lelaki yang mapan, yang bisa menjamin segala keperluannya, agar bisa tampil sehat dan cantik.
Seolah-olah tak tersinggung juga atas penuturan Mia yang terkesan menyindir, Ari malah tertawa panjang.
Pelayan kemudian datang membawa pesanan mereka. Detik demi detik, mereka pun hanya saling mendiamkan sembari meminum dan memakan hidangan di tengah alunan lagu dari pelantang suara kafe. Ketimbang berbagi kata, mereka malah memilih untuk menatap layar ponsel mereka dan mengobrol lewat pesan singkat dengan orang lain yang entah siapa dan di mana.
Beberapa lama kemudian, Mia bersuara, “Syukurlah, karena kita telah memenuhi janji kita dua tahun yang lalu untuk kembali bertemu di sini.”
Ari mengangguk tegas. “Ya. Dan kukira, sudah tak ada lagi masalah apa-apa di antara kita,” ucapnya, seperti menyimpulkan suasana hati mereka.
Mia sontak mengangguk-angguk, sembari melayangkan senyuman simpul.
Hening beberapa detik.
Mia kemudian menilik penunjuk waktu di layar ponselnya, lantas bertutur datar, “Oh, ya, aku harus pulang. Ada berkas kerja yang mesti kuambil di rumah temanku sebelum ia pergi ke luar kota.” Ia lantas memampang raut menyesal, “Maaf, ya.”
“Tidak apa-apa. Aku mengerti,” tanggap Ari, lantas tersenyum lebar.
Tanpa menunda waktu, Mia bangkit dari posisi duduknya. “Sampai jumpa lagi.”
Ari membalas dengan anggukan tegas.
Mia pun pergi.
Seketika, Ari mengembuskan napas yang panjang untuk menenangkan perasaannya. Perlahan-lahan, ia pun merasa senang, sebab ia telah berhasil melakoni prosesi perpisahan dengan Mia, meski tanpa kata putus. Ia merasa telah berhasil mencapai tujuannya dengan berpura-pura tampil sebagai lelaki pengangguran yang kere di saat ia malah telah menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan tambangan dengan gaji yang tinggi.
Dengan perasaan lega, Ari lantas mengirimkan pesan balasan kepada kekasih barunya di pulau seberang, di kota tempatnya bekerja, yang telah menanyakan kabarnya melalui pesan singkat: “Aku baik-baik saja, Cantik. Malam nanti, aku akan pulang. Baik-baik, ya, kamu di situ”.
Sesaat berselang, Ari lalu memesan taksi dan bersiap-siap untuk kembali ke hotel tempatnya menginap.
Di sisi lain, Mia yang kini sekadar bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko baju, sedang berada di tengah perjalanan pulang setelah dijemput oleh kekasih barunya dengan mobil mewah. Ia pun turut merasa lega karena berhasil memberi kesan perpisahan kepada Ari. Ia bahkan merasa tenteram, sebab Ari juga tampak tak berhasrat lagi melanjutkan hubungan dengan dirinya yang tampak bermuka jelek atas kesengajaannya sendiri untuk tampil buruk rupa. (**)