JAVASATU.COM- BUMDes Ardiles, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menagih realisasi janji bantuan sumur bor dari pemerintah daerah. Keterbatasan air disebut menjadi kendala utama yang menghambat pengembangan program ketahanan pangan desa.

Pengelola BUMDes Ardiles, Misbahul Munir, mengatakan persoalan air sudah disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Malang sejak awal 2025, saat kunjungan program sambang desa. Namun hingga kini belum ada realisasi bantuan.
“Kendala kami paling krusial itu air. Kami sudah pernah menyampaikan dan sempat dijanjikan bantuan sumur bor, tapi sampai sekarang belum terealisasi. Dulu sudah disurevei orang dari Cipta Karya. Terus, lalu saya tanyakan, katanya masih dibahas teknisnya, sampai sekarang belum terealisasi,” ujar Munir kepada Javasatu.com, Minggu (12/4/2026).
Menurut Munir, kondisi air di wilayah tersebut sangat bergantung pada musim. Saat kemarau, sumber air sungai mengering sehingga mengganggu aktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan yang dikelola BUMDes.
“Kalau tidak musim hujan, airnya kering. Ini sangat menghambat kegiatan kami,” katanya.
Sejak 2024, BUMDes Ardiles mulai bertransformasi dari usaha sederhana seperti fotokopi dan simpan pinjam menjadi pengelola program ketahanan pangan desa. Program tersebut dikembangkan dari alokasi 20 persen dana desa dengan konsep desa tematik.
“Sekarang kami kelola pertanian singkong dan jagung, peternakan kambing, itik, serta perikanan lele dengan 30 kolam bioflok,” jelasnya.
Untuk sektor peternakan, BUMDes menjalankan program penggemukan kambing dengan siklus 3–6 bulan sebelum dipasarkan melalui mitra rumah makan di Malang Raya. Sementara budidaya lele dilakukan dari benih hingga panen dalam waktu sekitar tiga bulan.
“Alhamdulillah, hasilnya sudah terserap pasar. Untuk lele bahkan sudah skala ton,” ujarnya.
Munir menambahkan, BUMDes juga melibatkan masyarakat dalam pengelolaan usaha sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi desa.
“Warga kami libatkan, terutama yang sudah purna tugas atau punya waktu untuk ikut mengembangkan usaha,” katanya.
Selain itu, BUMDes Ardiles tengah menjajaki skema ekonomi sirkular melalui kerja sama dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang difasilitasi Badan Gizi Nasional dan perguruan tinggi.
“Kalau ini berjalan, dari hulu sampai hilir akan terhubung. Ini peluang besar dan bisa jadi percontohan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan persoalan air tetap menjadi hambatan utama yang harus segera ditangani agar program ketahanan pangan desa berjalan optimal.
“Kalau air tidak terpenuhi, semua program ini akan sulit berkembang,” tegasnya.
Ke depan, BUMDes Ardiles menargetkan pengembangan desa tematik berbasis peternakan kambing, dan perikanan lele, serta membuka peluang usaha baru seperti kuliner.
“Potensi desa kami bukan wisata, tapi peternakan. Kami ingin Ardimulyo jadi desa tematik ternak,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak Pemerintah Kabupaten Malang belum memberikan keterangan resmi terkait realisasi bantuan sumur bor yang dijanjikan kepada BUMDes Ardiles. (saf)