JAVASATU.COM- Kemarau membuat warga Desa Gunung Putri, Suboh, Situbondo, Jawa Timur, kesulitan mendapatkan air bersih. Setiap hari, warga harus berjalan sekitar lima kilometer menuju sumber mata air di tengah medan pegunungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satunya dilakukan Jumhari. Setiap pagi, ia mendatangi sumber mata air untuk mengisi jeriken yang digunakan memenuhi kebutuhan minum dan keperluan ternak.
Setelah penuh, jeriken berisi air dipikul melewati medan terjal dan berbatu menuju rumah. Perjalanan sekitar lima kilometer itu harus ditempuh setiap hari karena bantuan air bersih belum menjangkau wilayahnya.
“Setiap hari ke sini ambil air buat minum dan buat sapi. Harapannya ke depan bisa ada bantuan air sampai ke atas, biar kami tidak repot mengambil air lagi,” kata Jumhari, warga Desa Gunung Putri, Jumat (31/7/2026).
Air yang dibawa kemudian ditampung di rumah untuk kebutuhan keluarga dan ternak. Kondisi tersebut menjadi gambaran sulitnya akses air bersih yang dialami warga selama musim kemarau.
Warga berharap distribusi air bersih dapat menjangkau permukiman di kawasan pegunungan, sehingga mereka tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh setiap hari hanya untuk mendapatkan air.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat sekitar 11 ribu jiwa di enam kecamatan dan delapan desa terdampak krisis air bersih.
“Kami proyeksikan saat ini ada 11 ribu jiwa di enam kecamatan dan delapan desa. Pada Agustus, kami akan mengoptimalkan dropping air bersih,” ungkap Timbul Surjanto, Kalaksa BPBD Situbondo.
BPBD Situbondo telah menyalurkan air bersih menggunakan truk tangki. Namun, distribusinya belum merata dan sejumlah titik di Desa Gunung Putri masih belum tersentuh bantuan. (dop/arf)