JAVASATU.COM- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mendorong terbentuknya sistem ekonomi sirkular di desa. Inisiatif ini dikembangkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui SPPG di Kota Malang, bersama Universitas Brawijaya (UB) dan peternak di BUMDes Ardiles di Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, dengan mengintegrasikan limbah, peternakan, hingga penyerapan hasil oleh dapur MBG dalam satu rantai ekonomi.

Dekan FISIP UB, Ahmad Imron Rozuli, menilai konsep tersebut sudah konkret dan siap diimplementasikan.
“Dari hasil pengecekan lapangan, konsep ini sudah masuk dan bisa dikonkretkan. Hitung-hitungannya juga memungkinkan untuk dijalankan,” ujarnya saat meninjau BUMDes Ardiles bersama tim, Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, sistem ini memungkinkan hasil peternakan warga diserap langsung oleh dapur MBG sehingga menciptakan siklus ekonomi berkelanjutan di tingkat desa.
“Artinya hasilnya bisa dibeli kembali oleh dapur. Ini menciptakan siklus ekonomi yang jelas dan terukur,” katanya.
Menurut Imron, kekuatan utama skema ini adalah terbentuknya rantai nilai ekonomi yang utuh, mulai dari limbah sebagai pakan, produksi ternak, hingga konsumsi akhir oleh masyarakat melalui MBG.
“Yang penting itu rantai nilainya utuh, dari limbah sampai kembali ke meja makan. Aktornya sudah ada, tinggal menghubungkan sistemnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengembangan ke depan akan melibatkan lintas sektor, termasuk akademisi peternakan, pertanian, dan ekonomi untuk memperkuat sistem berbasis riset dan data.
“Kalau ini berhasil dalam skala kecil dan terukur, sangat memungkinkan direplikasi di daerah lain,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua BITS FISIP UB, Syahirul Alim, menilai program ini juga membuka peluang bisnis turunan di desa.
“Bisa dikembangkan ke hilirisasi produk, misalnya pengolahan filet lele atau unit usaha lain. Ini memberi nilai tambah, tidak hanya berhenti di produksi mentah. Di BUMDes ini ada ternak kambing, itik, hingga ikan lele,” katanya.
Kepala SPPG Sukoharjo 1 Klojen, Muhammad Wisam Anugrah, menegaskan pihaknya siap mendukung skema ini dari sisi penyerapan hasil produksi untuk kebutuhan dapur MBG.
“Kami melihat ini sebagai model yang saling menguntungkan. Kebutuhan dapur MBG bisa dipenuhi dari desa, sementara peternak mendapatkan kepastian pasar. Ini yang akan terus kami dorong,” ujarnya.
Sementara itu, Pengelola BUMDes Ardiles, Misbahul Munir, menyebut kehadiran MBG menjadi solusi atas persoalan klasik peternak, terutama biaya pakan dan kepastian pasar.
“Selama ini pakan pabrikan cukup berat. Dengan pemanfaatan limbah, biaya bisa ditekan, dan hasil ternak juga langsung terserap oleh program MBG,” ujarnya.
Ia optimistis jika sistem ini berjalan optimal, BUMDes Ardimulyo dapat menjadi percontohan nasional dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis desa.
“Kalau ini berjalan, bisa jadi prototipe bahkan percontohan di Indonesia,” tegasnya. (saf)