Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

Pemerhati: Desk Ketenagakerjaan Polri Perlu Diperkuat dalam RUU

Syaiful Arif by Syaiful Arif
19 September 2026

JAVASATU.COM- Pemerhati Ketenagakerjaan Dani Satria mendorong penguatan Desk Ketenagakerjaan Polri melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan. Penguatan tersebut dinilai penting untuk memberikan kejelasan dasar hukum, kewenangan, serta koordinasi dalam menangani persoalan ketenagakerjaan yang bersinggungan dengan aspek hukum.

Pemerhati Ketenagakerjaan, Dani Satria. (Foto: Dok Pribadi)

Menurut Dani, keberadaan Desk Ketenagakerjaan Polri menunjukkan persoalan ketenagakerjaan tidak selalu berhenti pada ranah hubungan industrial. Sejak 2025, desk tersebut disebut telah membantu ribuan buruh yang menghadapi persoalan pekerjaan untuk kembali bekerja.

“Selama ini, penyelesaian perselisihan hubungan industrial memiliki mekanisme tersendiri melalui perundingan bipartit, mediasi atau konsiliasi, hingga Pengadilan Hubungan Industrial. Karena itu, memasukkan Desk Ketenagakerjaan Polri ke dalam kerangka regulasi bukan berarti menjadikan kepolisian sebagai pengganti mekanisme tersebut,” kata Dani di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (19/9/2026).

Dani menilai penguatan regulasi justru diperlukan untuk memperjelas pembagian peran antara kepolisian dan instansi yang menangani ketenagakerjaan. Polri dapat berperan ketika persoalan hubungan kerja berkaitan dengan dugaan tindak pidana, keamanan, maupun perlindungan hukum, sedangkan instansi ketenagakerjaan tetap menjalankan fungsi pengawasan dan penyelesaian perselisihan sesuai kewenangannya.

ADVERTISEMENT

“Justru yang diperlukan adalah pembagian peran yang jelas, yaitu kepolisian menangani aspek yang masuk ranah hukum pidana dan memberikan dukungan keamanan serta perlindungan hukum, sementara instansi ketenagakerjaan tetap menjalankan fungsi pengawasan dan penyelesaian perselisihan sesuai kewenangannya,” ujarnya.

Menurut Dani, RUU Ketenagakerjaan juga dapat menjadi momentum membangun sistem koordinasi lintas lembaga yang lebih terintegrasi. Desk Ketenagakerjaan Polri dapat menjadi salah satu simpul koordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan, pemerintah daerah, pengawas ketenagakerjaan, BPJS Ketenagakerjaan, serikat pekerja, dan asosiasi pengusaha.

“Dengan mekanisme rujukan yang transparan, setiap laporan dapat dipetakan berdasarkan jenis persoalannya, yaitu apakah merupakan perselisihan hubungan industrial, pelanggaran administratif, kecelakaan kerja, dugaan tindak pidana, atau persoalan lain yang membutuhkan intervensi lembaga tertentu,” jelas Dani.

Ia mengatakan mekanisme tersebut diperlukan agar setiap laporan pekerja dapat diarahkan kepada lembaga yang memiliki kewenangan. Dengan demikian, penanganan persoalan tidak berhenti pada penerimaan laporan, tetapi memiliki jalur penyelesaian yang jelas dan terukur.

“Pendekatan semacam ini akan membuat perlindungan pekerja tidak berhenti pada penerimaan laporan, tetapi berlanjut pada penyelesaian yang terukur,” imbuhnya.

Dani menegaskan, penguatan Desk Ketenagakerjaan Polri dalam RUU Ketenagakerjaan bukan semata-mata untuk memperluas peran kepolisian. Menurut dia, regulasi perlu memastikan adanya dasar hukum, batas kewenangan, mekanisme koordinasi, standar pelayanan, dan akuntabilitas.

Jika dirancang dengan pembagian kewenangan yang jelas, kata Dani, Desk Ketenagakerjaan Polri dapat menjadi bagian dari ekosistem perlindungan ketenagakerjaan yang lebih terpadu tanpa mengambil alih mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

“Dunia kerja membutuhkan kepastian. Dalam artian bahwa pekerja memperoleh perlindungan, pengusaha memperoleh kepastian hukum dan setiap persoalan ditangani oleh lembaga yang memiliki kewenangan sesuai koridor hukum,” pungkas Dani. (saf)

Tags: AnalisPemerhatiPengamatPOLRI
Previous Post

Disperpusip Kabupaten Malang Gelar Lomba Resensi Buku, Hadiah Rp18,5 Juta

Next Post

Nelayan Pati Hilang Belum Ditemukan, Pencarian Terkendala Gelombang Tinggi

Related Posts

Kapolri Larang Anggota Polri Pakai Vape, Analis: Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik
Berita

Kapolri Larang Anggota Polri Pakai Vape, Analis: Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik

3 November 2026
Pemkab Gresik Uji Coba PIRINGKU, 40 Lansia Tunggal Dapat Makan Gratis
Berita

Pemkab Gresik Uji Coba PIRINGKU, 40 Lansia Tunggal Dapat Makan Gratis

3 November 2026
Jusuf Rizal Siap Adu Gagasan Rebut Ketum KSPSI Periode 2027-2032
Berita

Jusuf Rizal Siap Adu Gagasan Rebut Ketum KSPSI Periode 2027-2032

3 November 2026
Diaspora Indonesia Minta DPR Atur Kewarganegaraan Ganda
Berita

Diaspora Indonesia Minta DPR Atur Kewarganegaraan Ganda

3 November 2026
Jalan Pakis-Kemiri Malang Direhabilitasi, Akses Dua Sekolah Ditingkatkan
Berita

Jalan Pakis-Kemiri Malang Direhabilitasi, Akses Dua Sekolah Ditingkatkan

3 November 2026
Viral! Aspal Jalan Sukaraja Kulon-Ranji Majalengka Mengelupas Sehari Setelah Digelar, PUTR Tegur Kontraktor
Berita

Viral! Aspal Jalan Sukaraja Kulon-Ranji Majalengka Mengelupas Sehari Setelah Digelar, PUTR Tegur Kontraktor

2 November 2026
Next Post
Nelayan Pati Hilang Belum Ditemukan, Pencarian Terkendala Gelombang Tinggi

Nelayan Pati Hilang Belum Ditemukan, Pencarian Terkendala Gelombang Tinggi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com