email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Selasa, 15 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Kiai Zainuddin Mojosari Nganjuk Sosok Sederhana Jarang Terekspos

by Javasatu
29 Mei 2021

Javasatu,Nganjuk- Diriwayatkan, KH. Zainuddin bin Mu’min adalah ulama besar lahir pada tahun 1850 masehi dari seorang ayah bernama KH. Mu’min. Dan menurut keterangan salah satu santrinya wafat beliau tahun 1954 masehi. Saat ini makam KH Zainuddin Mojosari berada di komplek makam Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur.

Ulama Besar Jarang Terekspos

Menurut santrinya di Nganjuk, Kiai Zainuddin adalah ulama besar nusantara yang ‘paling tak terekspose’ bila dibanding dengan ulama-ulama seangkatannya seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Sholeh Darat (guru beliau), Syekh Kholil Bangkalan, KH. Dimyathi Tremas Pacitan, Syekh Asnawi Kudus.

Pengasuh Ponpes

Dalam catatan tertulis, Pondok Mojosari Nganjuk adalah pondok pesantren yang usianya hampir 3 Abad (termasuk pondok NU tertua). Pondok pesantren ini berdiri sekitar tahun 1723 masehi yang didirikan oleh Kiai Imron. Sebelum mendirikan Pondok Mojosari, Kiai Imron bertirakat Puasa 3 tahun di dalam Batu (Wallahu’alam). Dan waktu membabat Alas Mojosari beliau puasa Jagung (sehari cuma makan 1 biji jagung) sampai pondok berdiri. Hal ini dikarenakan keangkeran Alas Mojosari yang waktu itu terkenal seram dan banyak dihuni oleh ‘Genderuwo’ dan makhluk gaib lainnya.

KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 5. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 masehi oleh Kiai Ali Imron, Bendungan.

Diceritakan santrinya, ketika menjadi santri di Pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.

Rihlah

Menurut santrinya dikisahkan, ketika dulu para santri masih menggunakan sistem rihlah (kelana), kata santrinya, kiai Zainuddin adalah salah satu ulama ‘wajib’ yang dituju para santri pada zaman itu dalam rangka menyempurnakan keilmuan para santri. Dari segi usia memang beliau paling muda dengan teman seangkatannya namun beliau yang paling akhir meninggal dunia. Beliau menempati sebuah pondok tua yaitu di Mojosari, Loceret, Nganjuk. Mungkin karena secara geografis berada di kaki Gunung Wilis, maka beliau ‘tidak banyak diekspose’ dibanding sahabat-sahabatnya, karena memang dalam sejarahnya beliau cenderung bergerak dalam keilmuan tasawwuf.

Karomah KH Zainuddin Mojosari

Makam KH. Zainuddin bin Mu’min di Mojosari Loceret Nganjuk Jatim. (Foto: Istimewa)

Diceritakan santrinya, Kala itu, berhari-hari masyarakat Mojosari dan pondok dalam suasana gembira. Rupanya hal ini terdengar sampai jauh di luar Nganjuk. Terbukti para Kiai menyikapi insiden tersebut karena melihat bahwa Kiai Zainuddin adalah salah satu tokoh ulama yang paling disegani. Mereka para Kiai takut hal ini akan berdampak pada masyarakat santri pada waktu itu.

Akhirnya Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisyri Sansuri dan para kiai lain bermusyawarah melakukan sikap dan meminta pada Kiai Zainuddin untuk bersikap tegas dengan adanya ‘Kesenian Jaranan’ masuk dalam kegiatan Imtihan atau perpisahan. Mereka para Kiyai akhirnya tidak menuai kesepakatan siapa yang harus sowan menghadap kepada Kiai Zainuddin. Mereka tidak ada yang berani menghadap mengingat mereka semua adalah murid dan santri beliau.

Karena semua kiai tersebut tidak berani menghadap, akhirnya disepakati dengan memakai mediator surat pernyataan dan ditandatangani oleh bersama. Setelah selesai rapat musyawarah pernyataan sikap, para Kiyai pulang ke rumah masing-masing. Tempat musyawarah waktu itu dilaksanakan di Tebuireng.

BacaJuga :

Paskibraka Nganjuk, Ananda Adara Bangga Jadi Pembawa Baki di Upacara HUT ke-80 RI

Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A: Ke Arah UIN Malang sebagai Ensiklopedi Ilmu dan Adab untuk Melahirkan Insan Kamil

Saat Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari istirahat, di dalam istirahat itu beliau diingatkan Allah SWT lewat mimpi, dimana dalam mimpi itu KH. Hasyim Asy’ari dan para ulama seluruh nusantara mengadakan shalat jama’ah. Dan ternyata dalam shalat jam’aah para ulama itu yang menjadi Imam adalah Kiai Zainuddin. Sedangkan beliau Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari berada pada barisan shaf nomer 7. Setelah terbangun, surat yang tadi sudah jadi dengan tanda tangan yang lengkap dan tinggal dikirim akhirnya tidak jadi disampaikan kepada Kiai Zainuddin.

Lantas KH. Hasyim Asy’ari mengabari perihal mimpinya tersebut kepada para kiai yang ikut menandatangani surat pernyataan tersebut. Mereka semua akhirnya sepakat bahwa itu bukan wilayah mereka ngurusi (ikut campur) urusan guru mereka. Berkat karomah yang dimiliki Kiai Zainuddin tersebut, terbukti sekarang masyarakat Mojosari Nganjuk yang tadinya 90 persen abangan menjadi 99 persen Islam dan taat. Wallahualam Bissawab. (Js)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Kabupaten NganjukKecamatan LoceretKH. Zainuddin bin Mu'minNU NganjukPondok Mojosari NganjukTokoh

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Soendari Batik & Art Kenalkan Legenda Rock Sylvia Saartje ke Generasi Muda

Sylvia Saartje 70 Tahun, Ungkap Rahasia Tetap Energik

HUT ke-81 TNI, Ada TNI Fair hingga Parade 520 Alutsista di Monas

Tokoh Pemuda: Rencana Pinjaman Pemkot Sukabumi Layak Dikaji, Harus untuk Kepentingan Publik

Analis Apresiasi Desk Ketenagakerjaan Polri, 4.236 Buruh Terbantu

Tiga Kali Razia, Ribuan Miras Disita Polres Majalengka: Target Peredaran Nol

Kejari Kabupaten Malang Usut Dua Dugaan Korupsi Pasar Karangploso

Jalan Menganti-Lakarsantri Diperlebar, Pemkab Gresik Siapkan Rp76 Miliar

Karhutla Gunung Buthak-Kawinajang Meluas, Pemadaman via Udara Dikerahkan

Latihan Menembak Kodim Wonosobo Pertajam Kemampuan Prajurit

Prev Next

POPULER HARI INI

Nazali Lempo Siap Jika Dipercaya Pimpin Kejaksaan Agung

Kejari Kabupaten Malang Usut Dua Dugaan Korupsi Pasar Karangploso

Artis SCTV Kepincut Wisata dan Kuliner Majalengka Saat Karnaval

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Jelang Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Modus File APK

BERITA LAINNYA

Soendari Batik & Art Kenalkan Legenda Rock Sylvia Saartje ke Generasi Muda

Sylvia Saartje 70 Tahun, Ungkap Rahasia Tetap Energik

HUT ke-81 TNI, Ada TNI Fair hingga Parade 520 Alutsista di Monas

Tokoh Pemuda: Rencana Pinjaman Pemkot Sukabumi Layak Dikaji, Harus untuk Kepentingan Publik

Analis Apresiasi Desk Ketenagakerjaan Polri, 4.236 Buruh Terbantu

Tiga Kali Razia, Ribuan Miras Disita Polres Majalengka: Target Peredaran Nol

Kejari Kabupaten Malang Usut Dua Dugaan Korupsi Pasar Karangploso

Jalan Menganti-Lakarsantri Diperlebar, Pemkab Gresik Siapkan Rp76 Miliar

Karhutla Gunung Buthak-Kawinajang Meluas, Pemadaman via Udara Dikerahkan

Latihan Menembak Kodim Wonosobo Pertajam Kemampuan Prajurit

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Nazali Lempo Siap Jika Dipercaya Pimpin Kejaksaan Agung

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Hiswana Migas Malang Pastikan Stok BBM dan LPG 3 Kg Aman Jelang Lebaran 2026

DPR Ingatkan Pembatasan Kuota PTN: Jangan Bikin Kampus Negeri Eksklusif

Jelang Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Modus File APK

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved