email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Sabtu, 13 Juni 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Digitalisasi Politik dan Krisis Literasi, Tantangan Ideologi di Ruang Publik Indonesia

by Javasatu
16 Desember 2025
Ilustrasi

OPINI

Digitalisasi Politik dan Krisis Literasi: Tantangan Ideologi di Ruang Publik Indonesia

Oleh:
M. Ranggata Surya Pratama, Azzahra Viocherina Sari, Revana Cahyaninda Garin, Najwan Aurellia, Balqis Ramadhani Ayu Putri Laksana, Alya Priska Putri Erwindawanti, Karina Ekna Hardianti, Mochammad Ghathfan Faris, Baiq Arleta, Abdul Salam Alif Udin, Annisa Halimah Sadiyah, Azzahra Khairani, M. Ramdani, M. Billy Roka Junior, Arjuna Evan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ruang publik yang sebelumnya didominasi media konvensional kini beralih ke media sosial dan berbagai platform digital. Transformasi ini bukan hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara publik memahami, menyikapi, dan berpartisipasi dalam kehidupan politik.

Digitalisasi membuka peluang besar bagi demokrasi, terutama dalam memperluas partisipasi politik masyarakat. Namun, di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan serius terhadap kualitas pemahaman politik, literasi publik, dan ketahanan ideologi bangsa.

Digitalisasi Ruang Publik dan Perubahan Dinamika Politik

Ruang digital kini menjadi arena utama pertukaran pendapat, kampanye politik, hingga pembentukan identitas sosial dan politik. Media sosial memungkinkan diskusi berlangsung cepat, terbuka, dan masif. Namun, kecepatan ini melahirkan budaya “informasi instan”, di mana masyarakat cenderung bereaksi tanpa proses berpikir kritis.

Konten politik yang viral sering kali lebih mengedepankan sensasi daripada substansi. Perdebatan rasional tersingkir oleh narasi emosional yang memicu polarisasi. Dalam konteks ini, politisi dan aktor politik memanfaatkan algoritma media sosial untuk membangun citra, menggiring opini, dan menguatkan basis pendukung.

Akibatnya, publik tidak lagi berperan sebagai subjek kritis, melainkan konsumen pasif dari informasi yang telah dikurasi oleh sistem digital.

Krisis Literasi Digital dan Politik

Masalah utama yang menyertai digitalisasi politik adalah rendahnya literasi digital dan literasi politik masyarakat. Banyak pengguna internet belum mampu membedakan fakta dan opini, informasi valid dan manipulatif. Kondisi ini membuka ruang subur bagi hoaks, propaganda, dan disinformasi politik.

Studi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia masih rendah, khususnya pada aspek berpikir kritis. Masyarakat relatif mahir menggunakan teknologi, tetapi lemah dalam mengevaluasi dan memverifikasi informasi.

Kesenjangan antara kecakapan teknis dan kecakapan kritis inilah yang melahirkan masyarakat digital yang aktif secara kuantitas, namun rapuh secara kualitas.

Polarisasi dan Echo Chamber

Rendahnya literasi digital berkontribusi pada menguatnya polarisasi politik. Algoritma media sosial cenderung menyajikan konten yang sejalan dengan preferensi pengguna, membentuk apa yang dikenal sebagai echo chamber. Dalam ruang ini, pengguna hanya terpapar pandangan yang menguatkan keyakinannya sendiri.

Fenomena ini tampak jelas pada momen Pemilu, ketika masyarakat terbelah dalam kubu-kubu yang saling berhadapan secara emosional. Polarisasi tidak hanya berdampak pada pilihan politik, tetapi juga merusak relasi sosial, bahkan dalam lingkup keluarga dan pertemanan.

Penyimpangan Ideologis di Ruang Digital

Dalam konteks ideologi bangsa, situasi ini menjadi semakin mengkhawatirkan. Pancasila yang seharusnya menjadi landasan moral dan etika dalam kehidupan berbangsa justru kerap terpinggirkan. Nilai persatuan, musyawarah, kemanusiaan, dan keadilan sosial kalah oleh narasi provokatif yang viral.

Ideologi direduksi menjadi sekadar label politik atau identitas kelompok, bukan lagi sistem nilai pemersatu. Simbol-simbol ideologis bahkan kerap dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis, sehingga mengaburkan makna dan fungsinya dalam kehidupan bernegara.

Generasi Muda dan Tantangan Literasi

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet berada pada rentang usia 16-30 tahun. Generasi muda menjadi aktor utama dalam ruang digital dan berpotensi besar menentukan arah politik Indonesia ke depan.

Namun, tingginya intensitas penggunaan internet belum sepenuhnya diiringi dengan kedewasaan berpikir kritis. Generasi muda kerap menjadi sasaran empuk propaganda digital karena sifatnya yang cepat bereaksi dan emosional. Jika tidak dibekali literasi yang memadai, mereka berisiko menjadi penyebar disinformasi tanpa disadari.

Literasi sebagai Pilar Demokrasi Digital

Digitalisasi politik bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan ideologis. Cara masyarakat mengonsumsi, membagikan, dan menafsirkan informasi sangat menentukan kualitas demokrasi dan kohesi sosial.

Oleh karena itu, literasi digital dan politik harus menjadi agenda bersama. Pendidikan formal perlu mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum. Komunitas masyarakat perlu membangun ruang diskusi yang sehat dan inklusif. Platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat moderasi konten dan menghadirkan fitur edukatif bagi pengguna.

BacaJuga :

OPINI: Mampukah Kerja Sama Internasional Menyelamatkan Kinerja BUMN?

OPINI: Birokrasi Lokal, Wawasan Global

Lebih dari itu, setiap warga digital harus memahami bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab moral.

Penutup

Digitalisasi politik membawa peluang besar bagi demokrasi Indonesia. Namun, tanpa literasi digital yang kuat, ruang publik justru berpotensi menjadi ladang polarisasi, misinformasi, dan penyimpangan ideologis.

Indonesia membutuhkan warga digital yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga berpikir kritis, beretika, dan berpegang pada nilai-nilai Pancasila. Dengan penguatan literasi dan kesadaran ideologis, ruang digital dapat menjadi arena demokrasi yang cerdas, inklusif, dan beradab, bukan sumber perpecahan bangsa. (*)


*Artikel ini untuk tugas perkuliahan

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Opiniumm

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

DOR Kepanjen, ASN Tak Lapor Cerai Terancam Kembalikan Tunjangan Puluhan Juta

10 Ribu Pil Koplo dan Sabu Disita, 5 Pengedar Dibekuk Polisi Gresik

Polres Gresik Rawat Toleransi di Empat Rumah Ibadah

Syahravi Cerita Pengalaman Pribadi di Lagu “Salah Paham (Lagi)” Bareng Rinni

Pemeriksaan di Polres Malang Kini Terekam Audio-Video

Istri Wafat, Petugas Haji Asal Malang Tetap Bertugas, Wamenhaj Beri Penghormatan

Mbak Wali Ingin Pramuka Garuda Kota Kediri Cetak Generasi Tangguh

1.022 Atlet Ramaikan Kejurnas Tenis Piala Ketua MA RI 2026 di Malang

Mbak Wali Tegaskan Kediri Kota Agamis, Tak Toleransi Miras Ilegal

Diduga Tak Urus PBG, Karyawan Bank Digugat ke PN Malang soal Rooftop Bocor

Prev Next

POPULER HARI INI

Dispendik Kabupaten Malang Tekankan Guru Berintegritas, Sekolah Harus Punya Branding

Mbak Wali Tegaskan Kediri Kota Agamis, Tak Toleransi Miras Ilegal

1.022 Atlet Ramaikan Kejurnas Tenis Piala Ketua MA RI 2026 di Malang

Usai Orasi di KONI Kota Blitar, Aktivis MAKI Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Pemalsuan

PLN Bantah Isu Blackout, Listrik di Jawa Dipastikan Aman

BERITA LAINNYA

DOR Kepanjen, ASN Tak Lapor Cerai Terancam Kembalikan Tunjangan Puluhan Juta

10 Ribu Pil Koplo dan Sabu Disita, 5 Pengedar Dibekuk Polisi Gresik

Polres Gresik Rawat Toleransi di Empat Rumah Ibadah

Syahravi Cerita Pengalaman Pribadi di Lagu “Salah Paham (Lagi)” Bareng Rinni

Pemeriksaan di Polres Malang Kini Terekam Audio-Video

Istri Wafat, Petugas Haji Asal Malang Tetap Bertugas, Wamenhaj Beri Penghormatan

Mbak Wali Ingin Pramuka Garuda Kota Kediri Cetak Generasi Tangguh

1.022 Atlet Ramaikan Kejurnas Tenis Piala Ketua MA RI 2026 di Malang

Mbak Wali Tegaskan Kediri Kota Agamis, Tak Toleransi Miras Ilegal

Diduga Tak Urus PBG, Karyawan Bank Digugat ke PN Malang soal Rooftop Bocor

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Titans Tennis Tournament, Bukan Sekadar Adu Skill tapi Tempa Mental Juara

Prof. Ahmad Barizi Tegaskan PTKI Harus Menjadi “Nur” Moderasi Beragama di Indonesia

Rumah Dua Lantai di Pendem Batu Terbakar Saat Ditinggal Kerja dan Sekolah

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Dispendik Kabupaten Malang Tekankan Guru Berintegritas, Sekolah Harus Punya Branding

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved