JAVASATU.COM- Unit alternative rock/power pop asal Malang, Peni, resmi merilis album perdana bertajuk 30 setelah satu tahun perjalanan musik mereka di skena independen. Album yang berisi 10 lagu ini dirilis melalui label Haum Entertainment dan menjadi potret emosional dari gejolak personal hingga refleksi sosial yang dialami sejak kemunculan mereka pada Januari 2025.

“Album 30 merangkum hal-hal personal yang pernah terjadi menjelang usia 30, tentang kemarahan, kesedihan, kesepian, dan lain-lain. Bisa dianggap album ini sebagai buku diaryku,” ujar vokalis sekaligus gitaris Peni, Ken Baruna, Kamis (30/4/2026).
Band yang digawangi Ken Baruna (gitar/vokal), Gilang Domisilafa (gitar), Ardian Bagus “Susu” (bass), dan Aldian Ibanez “Dibot” (drum) ini mengusung warna musik alternative rock dan power pop yang terinspirasi dari skena Amerika Serikat era 90-an. Namun dalam proses kreatifnya, Peni justru menemukan kenyamanan pada akar musik pop Indonesia era 90–2000-an.
“Awal terbentuk Peni sangat terpengaruh band power pop Amerika. Tapi selama proses pengerjaan, kami malah merasa aman dan nyaman dengan gaya lagu karya Ariel NOAH, Eross Candra, Pongki Barata,” ungkapnya.
Dalam kurun waktu singkat, Peni menunjukkan produktivitas dengan merilis sejumlah single seperti “Allegori”, “Gejolak Asmara Masa Muda”, dan “Kota”. Lagu-lagu tersebut menghadirkan spektrum cerita, mulai dari puisi yang dialihwahanakan menjadi lagu, romansa obsesif masa muda, hingga keterasingan di tengah kehidupan urban.
“Bahkan kehadiran Randy Levin Virgiawan alias Kempel ini karena aku rasa puisinya bisa menyentuh sisi personal. Karena aku persilakan masuk ke dalam ruang yang dibentuk Peni,” kata dia.
Album 30 dibuka dengan lagu “Allegori” yang diadaptasi dari puisi Randy Levin Virgiawan, menjadi pintu masuk eksplorasi lirik yang puitis sekaligus getir. Lagu “Jakarta” dan “Sama” menangkap kegelisahan sosial dan kepungan sentralisme, sementara “30” dan “Tidur” menyelami sisi reflektif tentang penyesalan, kelelahan, dan tekanan hidup.
“Semua lagu saya tulis sepanjang tahun 2025. Track ‘30’ dan ‘Tentang Kepergian’ sangat personal, tentang menyampaikan perasaan yang kadang menakutkan. Menuangkannya dalam lagu justru jadi hal yang nyaman,” jelasnya.
Di sisi lain, sentuhan pop tetap terasa melalui “Gejolak Asmara Masa Muda” dan “Pesta” yang mengangkat relasi dan dinamika pergaulan. Lagu “Kota” menggambarkan patah hati akibat kompleksitas hidup urban, sementara “Tentang Kepergian” menjadi penutup yang intim dengan nuansa minimalis-akustik.
“Bahkan saking personalnya, urutan lagu di album ini senyamannya saja, tak ada konsep tertentu,” tambahnya.
Seluruh materi dalam album ini diproduseri oleh Ken Baruna, direkam di Rama Studio, serta melalui proses mixing dan mastering oleh Rama Satria M. Album ini disebut tidak sekadar kumpulan lagu, melainkan arsip emosional perjalanan awal Peni sebagai band.
“Peni selalu ingin terdengar sebagai band pop, meskipun musiknya agak kotor. Maka memilih Mas Rama untuk mixing dan mastering adalah keputusan yang tepat,” ujarnya.
Melalui album ini, Peni menegaskan posisinya sebagai band muda asal Malang yang patut diperhitungkan, tidak hanya dari sisi produktivitas, tetapi juga keberanian dalam menyampaikan kejujuran lirik.
“Album ini berisi catatan keresahan dan minim motivasi heroik. Kami ingin album ini jadi teman bagi orang-orang yang merasa sendirian,” ungkap dia.
Untuk rencana ke depan, Peni mengaku belum memiliki agenda promosi khusus dan memilih kembali fokus pada kehidupan sehari-hari sekaligus menyiapkan karya berikutnya.
“Setelah album 30 rilis, kami belum terpikir rencana dekat. Tetap bekerja dan lanjut bikin album kedua,” tutupnya.
Album 30 kini sudah dapat didengarkan dan dibeli dalam format digital melalui Bandcamp Haum Entertainment. (arf)