JAVASATU.COM- Ketergantungan orang tua pada grup WhatsApp wali kelas dinilai tidak cukup untuk memantau perkembangan anak di sekolah. Pakar pendidikan dari SEVIMA, Prof. Imas Maesaroh, menyebut pola komunikasi tersebut tidak dirancang untuk kebutuhan pendidikan dan berpotensi membuat orang tua terlambat mendapatkan informasi penting. Hal ini disampaikan dalam talkshow “Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah untuk Anak Berprestasi” di EduFun East, Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Selasa (29/4/2026).

“WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan. Kita yang memaksanya jadi alat komunikasi sekolah-orang tua karena tidak ada yang lain,” ujar Prof. Imas Maesaroh.
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu menegaskan, persoalan bukan terletak pada niat orang tua atau sekolah, melainkan sistem komunikasi yang tidak mampu mendeteksi masalah sejak dini. Kondisi ini dinilai krusial, terutama di tengah momentum Ujian Nasional berbasis Tes Potensi Akademik (TPA) dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui SNBP, di mana keterlambatan informasi dapat berdampak pada kesiapan akademik siswa.
“Komunikasi yang terlambat bisa berdampak fatal terhadap kesiapan akademik anak,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, bukti ilmiah internasional menunjukkan pentingnya komunikasi rutin dan spesifik antara guru dan orang tua. Penelitian Profesor Peter Bergman yang dipublikasikan di Journal of Political Economy tahun 2021 menunjukkan siswa yang orang tuanya menerima informasi rutin setiap dua minggu mengalami peningkatan signifikan, dari peringkat 30 menjadi 10 atau 15 di kelas.
“Komunikasi guru-orang tua yang rutin dan akurat secara langsung menggerakkan karakter, kompetensi, dan skill anak,” jelasnya.
Penelitian lanjutan Bergman dan Chan pada 2021 di West Virginia juga mencatat penurunan kegagalan mata pelajaran hingga 27 persen serta peningkatan kehadiran siswa sebesar 12 persen. Temuan serupa juga terjadi di Chile pada 2024, yang memperlihatkan peningkatan nilai matematika dan kehadiran siswa.
Menurutnya, sistem seperti itu tidak dapat berjalan optimal melalui WhatsApp. Ia memaparkan lima kelemahan utama, mulai dari sifat informasi yang umum (broadcast), pesan penting yang tenggelam, risiko privasi, tidak terintegrasi dengan data akademik, hingga beban notifikasi yang justru mengganggu orang tua.
“Orang tua merasa sudah terhubung dengan sekolah karena ada di grup. Padahal yang mereka dapat hanya kebisingan, bukan informasi yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.
Selain itu, Prof. Imas juga menyoroti keterbatasan guru dalam menyampaikan informasi secara personal kepada banyak orang tua secara manual.
“Tidak realistis mengharapkan guru mengirim pesan satu per satu setiap hari di tengah beban kerja yang tinggi,” katanya.
Sebagai solusi, ia menyarankan penggunaan sistem komunikasi pendidikan yang terintegrasi dan otomatis. Menurutnya, ada empat informasi minimum yang wajib diterima orang tua secara rutin, yakni kehadiran siswa secara real-time, perkembangan nilai akademik, aktivitas ekstrakurikuler, serta informasi pendamping saat kegiatan di luar sekolah.
“Orang tua berhak mendapatkan informasi real-time, bukan menunggu rapor,” tegasnya.
Berikut tips memantau anak di sekolah yang disarankan Prof. Imas:
Pertama, jangan hanya mengandalkan grup WhatsApp karena sifatnya umum dan tidak spesifik pada kondisi anak. Informasi penting sering tenggelam dan tidak terpantau dengan baik.
“Yang dibutuhkan orang tua adalah data spesifik anak, bukan sekadar informasi umum di grup,” ujarnya.
Kedua, pastikan orang tua mendapatkan informasi secara real-time, seperti saat anak tidak masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas, atau mendapat nilai rendah.
“Semakin cepat orang tua tahu, semakin cepat bisa melakukan intervensi,” katanya.
Ketiga, pantau empat data penting anak secara rutin, yakni kehadiran harian, perkembangan nilai akademik, aktivitas ekstrakurikuler, serta informasi pendamping saat kegiatan di luar sekolah.
“Empat informasi ini adalah hak dasar orang tua dalam memantau perkembangan anak,” jelasnya.
Keempat, gunakan sistem komunikasi terintegrasi, bukan manual. Menurutnya, komunikasi efektif tidak bisa mengandalkan guru mengirim pesan satu per satu.
“Sistem harus otomatis, agar tidak menambah beban guru,” tegasnya.
Kelima, manfaatkan platform digital atau sistem akademik terintegrasi yang mampu mengirimkan notifikasi langsung kepada orang tua.
“Berbagai aplikasi telah tersedia, seperti platform pembelajaran online maupun sistem akademik seperti SEVIMA PENA Parent Connect,” ungkapnya.
Melalui sistem tersebut, orang tua dapat memantau kehadiran, nilai, hingga aktivitas anak secara langsung dalam satu platform tanpa bergantung pada grup WhatsApp.
Di akhir pemaparannya, Prof. Imas mengingatkan pentingnya evaluasi komunikasi antara sekolah dan orang tua sejak dini.
“Mulailah dengan satu pertanyaan sederhana: seberapa cepat saya bisa tahu kalau anak saya tidak masuk kelas hari ini? Jawaban itu menunjukkan mutu sekolah,” pungkasnya. (arf)