JAVASATU.COM- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terus memperkuat keterhubungan antara pendidikan vokasi dan dunia industri untuk memperluas peluang kerja bagi masyarakat lokal. Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Pengembangan Ekosistem Vokasi Berbasis Sinergi Industri dan Dunia Pendidikan serta Monitoring dan Evaluasi Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) Kabupaten Gresik di Ruang Mandala Bhakti Praja, Kantor Bupati Gresik, Jumat (19/6/2026).

Kegiatan itu mempertemukan pemerintah daerah, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), SMK negeri dan swasta, serta perguruan tinggi vokasi guna memperkuat konsep link and match antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mengatakan, pengembangan pendidikan vokasi menjadi salah satu strategi penting untuk menekan angka pengangguran terbuka sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan kami bersama Bupati Gresik jelas, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu caranya adalah memastikan masyarakat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sehingga peluang kerja yang tersedia dapat diisi oleh tenaga kerja lokal,” kata Alif.
Menurutnya, tantangan pembangunan tidak hanya menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi juga memastikan sumber daya manusia memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku usaha harus terus diperkuat.
“Dunia pendidikan perlu mengetahui kebutuhan industri secara berkala. Sebaliknya, industri juga harus terlibat aktif agar lulusan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan,” ujarnya.
Alif menambahkan, pertumbuhan industri di Gresik harus memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi tenaga kerja tetapi juga bagi pelaku usaha lokal. Kebutuhan industri yang selama ini dipenuhi dari luar daerah, menurutnya, dapat menjadi peluang bagi UMKM dan industri kecil menengah (IKM) di Gresik.
“Ekosistem ini harus dibangun secara menyeluruh. Tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga membuka peluang usaha baru sehingga pertumbuhan industri dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua KADIN Jawa Timur Adik Dwi Putranto menilai industri memiliki peran penting dalam memastikan lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.
“Penyelarasan kurikulum harus berangkat dari kebutuhan nyata industri. Karena itu komunikasi dan kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan dunia usaha harus terus diperkuat,” katanya.
Adik menegaskan, keterlibatan industri tidak hanya sebatas rekrutmen tenaga kerja, tetapi juga dalam penyusunan kurikulum, peningkatan kapasitas guru, hingga pemberian pengalaman kerja kepada peserta didik.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik Zainul Arifin mengatakan, penguatan pendidikan vokasi telah diperkuat melalui Peraturan Bupati Gresik Nomor 91 Tahun 2025 tentang Perencanaan Strategi Daerah Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.
Selain itu, Disnaker Gresik juga menjalankan program Guru Sinau Industri yang melibatkan 60 guru SMK agar memahami kebutuhan dunia usaha secara langsung. Pemkab Gresik juga telah menggelar pelatihan berbasis kompetensi yang diikuti 450 peserta, dengan 438 peserta dinyatakan kompeten.
“Kami ingin lulusan pendidikan vokasi tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga memiliki sertifikat kompetensi yang menjadi bukti kemampuan sesuai kebutuhan industri,” ujar Zainul. (bas/nuh)