JAVASATU.COM- Guru Besar Ilmu Tasawuf dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A., menegaskan mahasiswa harus menjadi pelita perubahan dalam kehidupan bangsa. Pesan tersebut disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertema “Puasa dan Madrasah Ruhani Perkuat Moderasi Beragama” yang digelar di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Kota Malang, Kamis (12/3/2026).

Dalam dialog tersebut, Prof Barizi menyampaikan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta didik di kampus, tetapi juga agen perubahan yang memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki kehidupan sosial.
“Mahasiswa harus menghadirkan perubahan yang nyata dalam kehidupan. Perubahan itu harus mengarah pada tiga keunggulan utama, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kepribadian (personality),” ujarnya.
Menurutnya, keseimbangan tiga aspek tersebut akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
Ia menjelaskan bahwa manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Konsep tersebut telah lama dijelaskan oleh filsuf Yunani kuno Aristotle melalui istilah zoon politicon, yakni manusia yang secara alami hidup dalam komunitas.
Karena itu, Prof Barizi menilai organisasi kemahasiswaan memiliki peran penting sebagai ruang pembelajaran sosial dan kepemimpinan bagi mahasiswa. Melalui organisasi, mahasiswa dapat belajar membangun komunikasi, kerja sama, serta kepemimpinan.
“Organisasi kemahasiswaan harus menjadi komunitas intelektual yang mampu menerangi masyarakat menuju peradaban yang lebih maju dan berkeadaban,” jelasnya.
Ia juga mengutip pemikiran sejarawan dan sosiolog Muslim Ibn Khaldun mengenai pentingnya membangun masyarakat berperadaban (madinah), yakni masyarakat yang maju secara budaya sekaligus bermartabat secara moral.
Lebih lanjut, Prof Barizi menegaskan bahwa berorganisasi merupakan proses belajar komunikasi. Komunikasi yang baik, kata dia, akan melahirkan sinergi positif yang pada akhirnya mendorong lahirnya berbagai kerja sama produktif bagi masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa kepemimpinan tidak hanya soal menjalankan aturan secara rasional, tetapi juga kemampuan memahami dan merawat emosi masyarakat.
“Memimpin bukan sekadar menjalankan aturan secara logis. Seorang pemimpin harus mampu merawat emosi rakyatnya, memahami karakter, tradisi, dan budaya mereka agar bisa berkembang bersama,” tegasnya.
Dialog kebangsaan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa dan pengurus organisasi kampus. Gagasan yang disampaikan dinilai relevan dengan semangat generasi muda untuk menghadirkan perubahan positif melalui pendidikan, spiritualitas, dan moderasi beragama.
Melalui momentum Ramadan, Prof Barizi berharap puasa tidak hanya menjadi ibadah ritual, tetapi juga menjadi madrasah ruhani yang membentuk mahasiswa berilmu, berkarakter, dan siap memimpin masa depan bangsa. (ery/arf)