JAVASATU.COM- Ancaman cuaca panas ekstrem dan sengatan panas (heatstroke) tidak berhenti pada gejala dehidrasi atau pingsan semata. Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Husnul Muarif memberikan peringatan keras bahwa kondisi tersebut dapat memicu komplikasi fatal, yakni serangan stroke yang sesungguhnya.
Secara medis, sengatan panas memaksa organ tubuh, terutama jantung, untuk bekerja jauh di atas batas normal akibat hilangnya cairan tubuh secara drastis.

“Heat stroke memacu penyakit banyak, karena heatstroke dehidrasi satu itu pasti akan menjadi pembuluh darah akan menjadi kerja jantungnya akan menjadi lebih cepat,” jelas Kadinkes, Senin (4/5/2026).
Kondisi pompa jantung yang terlalu cepat ini sangat berisiko menciptakan tekanan ekstrem pada sistem kardiovaskular. Dampak terburuknya adalah kerusakan pada pembuluh darah di area vital.
“Sehingga bisa menjadi pecah di pembuluh darah terutama di otak ya, sehingga banyak kasus heatstroke itu mengawali terjadinya stroke,” tegasnya.
Ancaman ini menjadi berlipat ganda bagi masyarakat yang sudah memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid. Kadinkes meminta kewaspadaan ekstra bagi kelompok rentan ini saat suhu udara melonjak tinggi.
“Dan perhatikan juga ini kondisi badan ya, artinya yang memperparah potensi stroke-nya misalnya tekanan darah tinggi, kemudian diabetes mellitus atau mungkin pasca stroke-nya,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan agar tidak berujung pada kondisi fatal, masyarakat dituntut untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatannya sendiri melalui penilaian mandiri sebelum memutuskan beraktivitas di luar rumah.
“Ya, jadi satu, nilai dulu kondisi tubuhnya, ya tekanan darahnya gimana. Kemudian gulanya gimana ya, ada enggak dia penyakit-penyakit lain ya. Nah itu yang dinilai dulu, self-assessment. Baru kemudian apakah perlu saya ini untuk keluar untuk beraktivitas ya,” papar Kadinkes. Ia kembali mengingatkan bahwa jika tidak ada prioritas mendesak, lebih baik menunda aktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, untuk memetakan dampak langsung cuaca ekstrem terhadap lonjakan pasien di fasilitas kesehatan, Dinas Kesehatan saat ini tengah melakukan evaluasi data medis bulanan.
“Kita belum cek ya teman-teman. Nanti ini kan di bulan April, ini kan laporannya sudah di tanggal 30 kemarin, kita cek lagi ya untuk istilahnya penyakit terbanyak, 10 penyakit terbanyaknya ya,” pungkasnya. (jup)