JAVASATU.COM- Gelombang investasi dan industrialisasi yang terus masuk ke Kabupaten Gresik mulai memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Di balik menjamurnya pabrik dan proyek industri besar, warga mempertanyakan sejauh mana dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat lokal, khususnya di wilayah Gresik Utara.

Keresahan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Ngopi dan Opini Gresik yang digelar Lokal Media Network di Paddock Caffe, Desa Abar-Abir, Kecamatan Bungah, Rabu (20/5/2026). Diskusi mengangkat tema “Gresik Dibanjiri Investasi, Rakyat Dapat Apa?” dengan menghadirkan berbagai kalangan mulai akademisi, aktivis sosial, pengusaha, hingga anak muda.
Tim Lokal Media Network, Akhmad Sutikon, mengatakan pertumbuhan industri yang begitu cepat tidak boleh hanya menguntungkan investor dan pemilik modal semata, tetapi juga harus berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Outputnya adalah bagaimana nantinya pertumbuhan industri bisa berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ini yang menjadi target utama, karena sejauh ini yang kita rasakan bersama adalah keberadaan industri faktanya belum cukup mampu mengangkat ekonomi masyarakat lokal,” kata Sutikon, Rabu (20/5/2026).
Dalam diskusi tersebut, berbagai persoalan mulai minimnya keterlibatan tenaga kerja lokal, ketimpangan ekonomi, hingga perubahan sosial akibat industrialisasi menjadi sorotan utama peserta.
Pesatnya pertumbuhan kawasan industri di Gresik Utara dinilai belum sepenuhnya diikuti pemerataan manfaat bagi warga sekitar. Sebagian masyarakat justru merasa menjadi penonton di daerahnya sendiri ketika investasi besar terus berdatangan.
Sutikon menilai masyarakat harus mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar yang dibawa arus industrialisasi, terutama generasi muda yang akan menghadapi persaingan kerja semakin ketat.
“Gagasan diskusi ini sebagai sarana berdialog dan saling bertukar gagasan. Sehingga menjadi stimulus bagi semua pihak untuk mempersiapkan diri menghadapi pertumbuhan industri yang begitu cepat terutama di wilayah Gresik Utara,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif itu menghadirkan narasumber dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gresik, Santi Wahyu Lestari, serta pemerhati sosial Fajar Rubianto.
Selain membahas peluang investasi, forum juga menyoroti pentingnya menjaga solidaritas sosial masyarakat di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat.
Menurut peserta diskusi, industrialisasi tanpa penguatan kualitas sumber daya manusia lokal berpotensi memunculkan kesenjangan sosial baru di tengah masyarakat.
Karena itu, warga berharap pemerintah daerah dan perusahaan tidak hanya fokus pada angka investasi, tetapi juga serius membuka akses kerja, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
“Pertumbuhan industri pasti berdampak terhadap perubahan ekonomi dan sosial. Karena itu penting meningkatkan wawasan, kesadaran, dan solidaritas masyarakat agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” terang Sutikon.
Lokal Media Network menyatakan diskusi serupa akan terus digelar secara rutin di berbagai kecamatan di wilayah Gresik Utara guna menyerap aspirasi masyarakat terkait dampak industrialisasi.
Diskusi tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Gresik Dr Rian Pramana, Direktur Utama PT Gresik Propertindo Ali Muksin Djalil, Ketua Komnas PPLH Gresik Hilal Ulfi, perwakilan Kadin Gresik, aktivis LSM, serta puluhan peserta lainnya. (bas/saf)