JAVASATU.COM- Momentum Iduladha 1447 Hijriah menjadi ruang refleksi intelektual dan spiritual yang kuat di Masjid Ibrahim, Barek, Lawang, Kabupaten Malang. Dalam khutbahnya yang bertajuk “Peradaban Ibrahimik sebagai Jalan Tengah antara Tradisi dan Modernitas”, dai asal Singosari, Malang, Ery Santika A, S.ST, M.Ag, tampil membawa gagasan segar tentang pentingnya membangun peradaban Islam yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar spiritualitas.

Khutbah Iduladha tersebut menjadi berbeda dari umumnya, karena tidak hanya berbicara tentang ritual kurban semata, tetapi juga mengangkat dimensi peradaban, moralitas, hingga krisis manusia modern. Dengan gaya penyampaian yang reflektif dan argumentatif, Ery Santika mengajak umat Islam memahami Iduladha sebagai “proyek besar kemanusiaan” yang diwariskan Nabi Ibrahim AS.
“Iduladha bukan sekadar penyembelihan hewan kurban, tetapi momentum membangun kembali ruang spiritual Nabi Ibrahim: ruang pengorbanan, ruang keikhlasan, dan ruang peradaban,” tegasnya, Rabu (27/5/2026).
Dalam khutbahnya, ia menekankan bahwa istilah Peradaban Ibrahimik merujuk pada perpaduan antara tauhid, akal sehat, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kemuliaan moral.
Menurutnya, dunia modern saat ini menghadapi dua krisis besar sekaligus: kelompok yang terlalu fanatik terhadap tradisi hingga menolak perubahan, dan kelompok yang terlalu larut dalam modernitas hingga kehilangan arah spiritual.
“Peradaban Ibrahimik hadir sebagai jalan tengah. Tidak anti tradisi, tetapi juga tidak anti kemajuan,” ujarnya.
Mengutip kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an, Ery Santika menjelaskan bahwa Islam mengajarkan tradisi yang kritis dan rasional. Nabi Ibrahim, katanya, adalah simbol keberanian berpikir dan kemampuan menguji warisan leluhur dengan akal sehat serta wahyu.
Pada bagian paling mengena dari khutbahnya, Ery Santika menjelaskan bahwa kurban sebagai simbol perjuangan melawan egoisme manusia. Ia menyebut bahwa yang paling sulit dikorbankan sering kali bukan harta, melainkan kesombongan, kerakusan, dan ambisi yang melampaui batas.
“Manusia besar bukan yang mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi yang mampu memberi sebesar-besarnya,” katanya, seraya mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.
Khutbah tersebut ditutup dengan seruan agar umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial di tengah berbagai persoalan masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi hingga krisis pendidikan dan kemanusiaan.
Ery Santika A, S.ST, M.Ag dalam khutbah Iduladha ini seakan menghadirkan warna baru dakwah: religius tetapi rasional, ilmiah tetapi tetap membumi. Gagasan “Peradaban Ibrahimik” yang ia gaungkan menjadi refleksi penting bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang pembangunan manusia dan peradaban yang berkeadaban. (arf)