JAVASATU.COM- Di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin tidak menentu, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, mengingatkan pentingnya mencari keberkahan dalam hidup. Pesan itu disampaikannya saat mengisi pengajian umum pada puncak Haul ke-134 KH Abdul Karim di Pondok Pesantren Alkarimi, Tebuwung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Minggu (31/5/2026).

“Keberkahan itu sangat penting. Sebab, berkah berarti bertambahnya kebaikan. Memang tidak terlihat secara kasat mata, tetapi manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan. Makna keberkahan adalah semakin bertambahnya kebaikan dari waktu ke waktu,” ujar Gus Yusuf di hadapan ribuan jemaah yang memadati Lapangan Timur YPP Alkarimi.
Puncak haul pendiri Pondok Pesantren Alkarimi tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri santri, alumni, tokoh agama, serta masyarakat dari berbagai daerah. Pengajian yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Al Karimi TV itu menjadi momentum refleksi tentang pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Dalam ceramahnya, Gus Yusuf menyoroti kondisi masyarakat yang saat ini dihadapkan pada berbagai ketidakpastian, mulai dari fluktuasi harga kebutuhan pokok hingga situasi ekonomi yang sulit diprediksi. Karena itu, ia mengajak jemaah untuk tidak hanya fokus mengejar banyaknya rezeki, tetapi juga keberkahannya.
“Hari ini banyak hal yang tidak menentu. Harga kebutuhan pokok sering berubah dan kondisi ekonomi juga tidak pasti. Karena itu, yang perlu dicari bukan hanya banyaknya rezeki, tetapi keberkahannya. Sedikit namun berkah akan terasa cukup,” katanya.
Menurut Gus Yusuf, salah satu jalan memperoleh keberkahan adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjaga hubungan dengan orang-orang saleh serta para ulama. Ia menegaskan bahwa keberkahan hidup tidak bisa dilepaskan dari kedekatan seseorang dengan nilai-nilai agama.
“Bersandarlah kepada Allah. Jika merasa belum mampu karena banyak kekurangan, maka dekatilah orang-orang yang dekat dengan Allah, yakni para ulama dan orang-orang saleh,” tuturnya.
Ia juga mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk terus menjaga tradisi menghormati ulama, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Menurutnya, ketenangan hidup dapat diraih dengan tetap terhubung kepada para kiai dan masyayikh yang menjadi pewaris ilmu para nabi.
Selain berbicara tentang keberkahan, Gus Yusuf mengulas makna haul sebagai bagian dari birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Ia menjelaskan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti setelah mereka wafat, melainkan dapat diwujudkan melalui doa, sedekah, dan amal saleh yang diniatkan untuk mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yusuf juga mengingatkan para alumni pesantren agar terus menjaga hubungan dengan guru serta menyebarkan ilmu yang telah diperoleh selama mondok. Menurutnya, alumni memiliki tanggung jawab meneruskan tradisi keilmuan pesantren kepada masyarakat.
“Menjadi santri adalah anugerah yang tidak dimiliki semua orang. Karena itu, ilmu yang diperoleh di pesantren harus dijaga dan disebarkan agar terus memberi manfaat,” ungkapnya.
Ia juga mengajak para alumni untuk mengirimkan putra-putrinya ke pesantren sebagai bentuk penghormatan kepada guru sekaligus upaya menjaga keberlangsungan pendidikan Islam.
“Selama anak-anak masih mengaji dan pesantren tetap hidup, insyaallah tradisi keilmuan Islam akan terus terjaga,” tegasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Alkarimi sekaligus Shohibul Haul, KH Abdul Muhshi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh jemaah yang hadir dalam peringatan Haul ke-134 KH Abdul Karim.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh jemaah. Semoga majelis haul ini membawa keberkahan bagi kita semua. Kami juga berharap seluruh civitas akademika YPP Alkarimi diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam mendidik serta membimbing para santri,” ujarnya.
Rangkaian puncak haul juga diisi pembacaan manaqib dan sejarah perjuangan KH Abdul Karim yang disampaikan Gus Ahmad Musfis Salam. Dalam pemaparannya, Ketua RMINU Gresik itu mengulas perjalanan dakwah KH Abdul Karim dalam membangun Pondok Pesantren Alkarimi hingga menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang berpengaruh di Kabupaten Gresik. (hoo/nuh)