JAVASATU.COM- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menggencarkan sosialisasi pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis (TBC) di seluruh 24 desa dan kelurahan sebagai bagian dari upaya mempercepat target eliminasi TBC pada 2030. Program yang berlangsung sejak awal Juli hingga 4 Agustus 2026 itu mengedepankan deteksi dini, investigasi kontak, serta Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk memutus rantai penularan.

Hingga pertengahan Juli 2026, sosialisasi telah menjangkau sembilan desa dan kelurahan. Kegiatan terbaru digelar di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Selasa (14/7/2026), dengan melibatkan perangkat desa, kader PKK, Posyandu, karang taruna, ketua RT/RW, hingga tokoh masyarakat sebagai ujung tombak edukasi di lingkungan masing-masing.
“Antusiasme masyarakat cukup tinggi sejak awal pelaksanaan. Namun, tantangan terbesar kami adalah masih banyak kasus yang tidak terdeteksi serta rendahnya kesadaran kelompok berisiko untuk menjalani Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT),” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarraszin.
Menurut dr. Icang, meski angka kasus TBC di Kota Batu relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain, ancaman penularan tetap harus diwaspadai. Sebab, masih terdapat hidden cases atau kasus yang belum terdeteksi sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Karena itu, Dinkes Kota Batu menekankan pentingnya investigasi kontak terhadap seluruh anggota keluarga atau orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk menemukan penderita yang belum terdiagnosis sekaligus mencegah munculnya kasus baru.
“Sering kali yang dikira hanya kakek atau neneknya yang sakit, ternyata cucunya atau ayahnya juga mengidap TBC. Oleh karena itu, pengobatan harus menyeluruh dengan melibatkan investigasi kontak,” jelasnya.
Pada 2026, Dinkes Kota Batu menargetkan penanganan 589 pasien TBC. Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan karena banyak kontak erat penderita yang merasa sehat sehingga enggan menjalani pemeriksaan maupun mengikuti Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030, Dinkes Kota Batu menjalankan tiga strategi utama, yakni menemukan seluruh penderita TBC, memastikan pasien menjalani pengobatan hingga sembuh, serta melakukan investigasi kontak disertai pemberian terapi pencegahan kepada kelompok berisiko.
Sementara itu, Petugas Pengelola Program TBC Dinkes Kota Batu, Yoni Hadi Purnomo, mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan penularan TBC. Ia mengingatkan warga untuk menghindari kontak langsung dengan penderita TBC aktif, terutama di ruangan tertutup yang memiliki sirkulasi udara kurang baik.
“Gunakan masker saat berinteraksi, rutin mencuci tangan dengan sabun, perkuat daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi. Selain itu, pastikan bayi mendapatkan vaksin BCG yang sangat efektif mencegah TBC bentuk berat,” kata Yoni.
Dinkes Kota Batu optimistis seluruh rangkaian sosialisasi di 24 desa dan kelurahan dapat diselesaikan sesuai jadwal pada awal Agustus 2026. Melalui penguatan edukasi masyarakat, deteksi dini, investigasi kontak, dan terapi pencegahan, pemerintah berharap target eliminasi TBC pada 2030 dapat tercapai. (yon/arf)