JAVASATU.COM- Mahasiswa internasional asal Afghanistan, Hasan, mengaku terkesan dengan metode pembelajaran mengaji di Indonesia setelah mengikuti kegiatan bersama santri di TPQ At Toharoh, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Selasa (21/7/2026). Menurutnya, sistem pembelajaran Al-Qur’an yang diterapkan di Indonesia berbeda dengan di negaranya dan dinilai lebih baik.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari FISIP Bakti Desa (FBD) International Brawijaya University 2026 yang berlangsung pada 21–24 Juli 2026.
Dalam kegiatan itu, Hasan bersama mahasiswa internasional lainnya mengikuti aktivitas mengajar mengaji sekaligus mengenal budaya masyarakat setempat.
“This was my first experience because in our country it is completely different. I think this is the best method because the children are taught together by female teachers, and there is no limitation between male and female. (ini adalah pengalaman pertama saya karena di negara kami metodenya sangat berbeda. Menurut saya, metode di Indonesia adalah yang terbaik karena anak-anak diajar bersama oleh guru perempuan dan tidak ada pembatasan antara laki-laki dan perempuan),” ujar Hasan.
Hasan mengatakan pengalaman tersebut menjadi kali pertama baginya melihat langsung metode pembelajaran mengaji di Indonesia.
Ia menilai proses belajar berlangsung interaktif dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh santri untuk belajar.
Selain Hasan, mahasiswa internasional lainnya juga ikut berbaur dengan para santri. Mahasiswa asal Afghanistan mendampingi anak-anak belajar mengaji, sedangkan mahasiswa asal Polandia untuk pertama kalinya belajar membaca huruf hijaiyah dengan pendampingan mahasiswa Kelompok 5 FISIP Bakti Desa (FBD) Arcapada 2026.
Selama kegiatan berlangsung, komunikasi dibantu mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya sebagai penerjemah.
“One of the most amazing things for me was that those kids were following the rules, especially in pronouncing the Quran’s words. They were so curious to learn and to follow the rules. (salah satu hal yang paling mengagumkan bagi saya adalah anak-anak itu benar-benar mengikuti aturan, terutama dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka sangat antusias untuk belajar dan menaati kaidah bacaan),” tegasnya.
Ia mengaku kagum dengan kedisiplinan para santri dalam mengikuti kaidah membaca Al-Qur’an. Menurutnya, semangat belajar yang ditunjukkan anak-anak menjadi pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti kegiatan di TPQ At Toharoh.
Selain mengaji, mahasiswa internasional juga diperkenalkan dengan budaya masyarakat Desa Pandansari Lor. Mereka belajar mengenakan sarung dan mukena serta mencoba membaca huruf hijaiyah untuk kali pertama.
Perlu diketahui, program FBD International Brawijaya University 2026 menjadi wadah pertukaran budaya antara mahasiswa internasional dan masyarakat Kabupaten Malang.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya berbagi pengalaman pendidikan, tetapi juga mempererat hubungan lintas budaya melalui aktivitas keagamaan dan sosial. (saf)