JAVASATU.COM- Fase gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dianggap belum menjadi jaminan bahwa konflik kedua negara telah berakhir. Situasi ini justru memperlihatkan perebutan pengaruh geopolitik dunia yang masih terus berlangsung dan berpotensi memicu krisis baru di tatanan global.
![]()
Dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Akhirul Aminulloh, menilai pertarungan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan kekuatan militer. Isu yang bertumpu di sana menyangkut dominasi politik, kepentingan strategis, hingga perebutan pengaruh negara-negara besar.
“Konflik seperti ini tidak hanya berbicara tentang perang dalam arti fisik, tetapi juga mengenai bagaimana negara mempertahankan pengaruh dan kepentingannya,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (22/05/26).
Dalam perspektif geopolitik, gencatan senjata bisa dibaca sebagai peluang deeskalasi menuju jalan damai. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat menjadi ruang konsolidasi strategi sebelum masing-masing pihak menentukan langkah politik dan keamanan berikutnya.
Akhirul menjelaskan bahwa kemenangan dalam konflik internasional tidak selalu ditentukan oleh superioritas militer semata. Stabilitas pemerintahan, dukungan publik, serta kemampuan menjaga legitimasi politik turut menjadi faktor penting dalam menentukan posisi suatu negara di mata dunia.
Terlebih lagi, peta kekuatan dunia kini kian dinamis dengan keterlibatan negara besar seperti Rusia dan Tiongkok yang memiliki kepentingan strategis masing-masing. Perubahan fokus dan prioritas negara-negara besar ini dipastikan akan memunculkan dinamika baru.
“Perubahan fokus dan prioritas negara-negara besar dapat memunculkan dinamika baru dalam tatanan global,” katanya memungkasi analisis geopolitik tersebut. (jup)