JAVASATU.COM- Di tengah modernisasi mesin produksi, PG Pesantren Baru, Kabupaten Kediri, tetap menjaga tradisi cethik geni sebagai penanda dimulainya persiapan musim giling tebu 2026. Ritual yang digelar di stasiun ketel ini menjadi simbol kesiapan teknis sekaligus doa bersama agar produksi berjalan lancar.

General Manager PG Pesantren Baru, Sugondo, menjelaskan cethik geni atau slow firing merupakan proses pemanasan awal boiler yang dilakukan secara bertahap untuk memastikan kesiapan mesin sebelum beroperasi penuh.
“Slow firing ini dilakukan untuk meningkatkan suhu ketel secara bertahap dan merata. Ini menandakan bahwa PG Pesantren Baru siap menyambut musim giling 2026,” kata Sugondo, Sabtu (2/5/2026).
Selain menjadi bagian dari prosedur teknis, tradisi ini juga memiliki nilai budaya yang terus dipertahankan di tengah perkembangan industri gula yang semakin modern.
“Kami juga memohon doa restu kepada masyarakat dan seluruh stakeholder agar giling 2026 berjalan lancar dan sukses,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian pembukaan musim giling, PG Pesantren Baru juga akan menggelar resepsi tebu manten pada 5 Mei 2026 sebagai puncak selamatan.
Sementara itu, Manajer Tanaman PG Pesantren Baru, Chandra Sukmana, menyampaikan pihaknya optimistis mampu mencapai target produksi tahun ini. Pabrik menargetkan penggilingan tebu sebesar 854.130 ton dengan rendemen 7,5 persen atau menghasilkan sekitar 64.778 ton gula.
“Kami optimistis target bisa tercapai dengan dukungan petani dan seluruh pihak yang terlibat,” kata Chandra.
Ia menambahkan, koordinasi dengan petani telah dilakukan untuk memastikan pasokan tebu berkualitas Manis, Bersih, dan Segar (MBS) selama musim giling berlangsung.
“Kami berharap gotong royong dengan petani, masyarakat, serta stakeholder bisa menyukseskan giling 2026,” tambahnya.
Tradisi cethik geni sendiri menjadi perpaduan antara aspek teknis dan budaya dalam industri gula, sekaligus mencerminkan komitmen PG Pesantren Baru menjaga kearifan lokal di tengah penggunaan teknologi modern. (saf)