JAVASATU.COM- Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Malang, Christo Victor Nixon Toar, langsung melakukan gebrakan awal dengan mencanangkan program penguatan sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperketat pengawasan terhadap peredaran narkoba dan handphone (HP) ilegal di dalam lapas.

Program bertajuk Bulan Membangun SDM itu mulai dijalankan sejak 1 Mei 2025 sebagai langkah awal pembenahan internal Lapas Malang. Fokus utama program ini adalah peningkatan kapasitas petugas serta penguatan Standar Operasional Prosedur (SOP) di seluruh lini pengamanan.
“Setiap pemimpin memiliki cara dan perlakuan yang berbeda, dan saya akan menerapkan pendekatan yang berbeda pula,” ujar Christo saat berbincang dengan awak media di sela kegiatan STMJ Bareng di Malang Raya, Rabu (22/4/2026) malam.
Ia menjelaskan, penguatan SDM menjadi prioritas karena banyak persoalan di lembaga pemasyarakatan berawal dari minimnya pembekalan petugas baru. Pelatihan disiplin dan pemahaman tugas akan diperkuat agar kinerja semakin profesional.
“Kurangnya ilmu saat petugas pertama kali masuk,” katanya.
Selain SDM, Christo juga menyoroti penguatan SOP, terutama dalam pemeriksaan tamu dan barang masuk untuk mencegah penyelundupan barang terlarang seperti narkoba dan HP ilegal.
“HP dan narkoba itu musuh utama. Pelaksanaan SOP harus dikuatkan lagi,” tegasnya.
Ia mengaku pengalaman memimpin di daerah sebelumnya serta tugas di lembaga pengawas pelayanan publik menjadi bekal dalam membangun sistem kerja yang lebih disiplin dan transparan. Salah satu perubahan yang didorong adalah budaya kerja petugas dari pola lama menjadi lebih melayani.
Dalam penegakan aturan, Christo menegaskan tidak ada toleransi bagi pelanggaran, termasuk peredaran HP ilegal di dalam lapas. Bahkan, narapidana yang tidak bisa dibina di Lapas Malang akan dipindahkan ke lapas lain.
“Jika warga binaan tidak bisa dibina di Lapas Malang, saya tidak ragu untuk memindahkan mereka ke lapas lain,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan besar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan petugas. Dari total 2.414 warga binaan, hanya 15 petugas yang bertugas melakukan pengawasan.
“Kondisi ini memang tidak ideal, tapi kita tetap harus bekerja maksimal dengan penguatan SDM dan kolaborasi internal,” jelasnya.
Christo menegaskan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah membenahi internal terlebih dahulu sebelum melakukan pengembangan lebih luas.
“Fokus awal tetap internal lapas. SDM-nya dulu kita kuatkan,” pungkasnya. (dop/nuh)