JAVASATU.COM- Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengukuhkan 75 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kediri. Para pelajar terpilih itu diminta menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya sekaligus menjaga dan mewariskan nilai-nilai Pancasila kepada generasi berikutnya.

Pengukuhan berlangsung di Pendopo Panjalu Jayati, Kamis (13/8/2026). Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa, jajaran Forkopimda, serta orang tua anggota Paskibraka turut hadir dalam kegiatan tersebut.
“Harus terus mewarisi ideologi Pancasila, dan mewariskan ke adik-adiknya,” kata Mas Dhito, sapaan akrab Bupati kediri, usai pengukuhan.
Mas Dhito menilai anggota Paskibraka merupakan pelajar terpilih dari berbagai sekolah. Karena itu, mereka tidak hanya dituntut menjalankan tugas saat upacara, tetapi juga mampu menunjukkan sikap positif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut juga dikaitkan dengan sejumlah persoalan yang dihadapi generasi muda, termasuk perundungan atau bullying dan dispensasi pernikahan dini. Menurut Mas Dhito, penanganan persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Tidak bisa hanya pemerintah Kabupaten, tapi juga peran serta orang tua,” tambahnya.
Sebanyak 900 calon Paskibraka sebelumnya mengikuti rangkaian seleksi yang dilakukan Pemkab Kediri. Tahapan tersebut meliputi seleksi administrasi hingga penilaian akhir atau Pantukir.
Dari proses tersebut, terpilih 77 anggota Paskibraka. Sebanyak 75 orang akan bertugas dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Canda Bhirawa, Pare, pada 17 Agustus 2026.
Sementara dua anggota lainnya akan mewakili Kabupaten Kediri dalam Paskibraka tingkat Provinsi Jawa Timur.
“Yang dua harus berangkat ke provinsi untuk mengikuti pemusatan tingkat provinsi,” terang Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko.
Setelah dikukuhkan, anggota Paskibraka masih menjalani latihan dan geladi hingga menjelang pelaksanaan upacara. Latihan tersebut dilakukan untuk memantapkan formasi dan kesiapan pelaksanaan tugas pada 17 Agustus.
Yuli mengatakan terdapat perubahan formasi upacara dibandingkan tahun sebelumnya. Penyesuaian dilakukan dengan mengacu pada standar pelaksanaan upacara di Istana Negara.
Salah satu perubahan berada pada posisi tiang bendera. Jika sebelumnya berada sedikit di sisi lapangan, tahun ini tiang bendera akan ditempatkan di tengah lapangan upacara.
“Akan kita lanjutkan sampai hari Minggu untuk geladi kotor dan bersih,” pungkas Yuli. (kur/arf)