email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Rabu, 2 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

by Javasatu
5 April 2025
Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. (Foto: Dok/Istimewa)

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

Oleh: Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. – Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah

Usai Hari Raya Idulfitri, di berbagai pasar tradisional terutama di kawasan Pantura Jawa, banyak pedagang mulai menjajakan janur kuning yang telah dianyam menjadi ketupat. Ketupat menjadi bagian dari tradisi Lebaran yang sangat kental, bahkan gambarnya sering dijadikan ikon dalam berbagai media ucapan hari raya.

Ketupat atau kupat merupakan akronim dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini sejalan dengan semangat Idulfitri sebagai momentum untuk saling memaafkan. Tradisi membuat dan menyajikan ketupat setelah Idulfitri sudah menjadi bagian dari budaya umat Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Ketupat mirip dengan lontong, dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur, lalu dikukus hingga matang. Di beberapa daerah, janur yang digunakan berasal dari pohon siwalan atau kelapa, dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.

Biasanya, ketupat disajikan dengan berbagai masakan khas seperti opor ayam, sambal goreng, atau bumbu santan lainnya, tergantung kebiasaan daerah masing-masing.

Kenapa harus ketupat? Sejak kapan tradisi ini dimulai?

Menurut penelusuran sejarah, tradisi ketupat mulai dikenal sejak masa Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga 16. Beliau adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat bukan hanya sebagai makanan, melainkan juga sebagai media dakwah dan simbol nilai-nilai spiritual.

Berikut makna filosofis ketupat dalam tradisi Jawa dan Islam:

1. Janur Kuning

Bahan utama ketupat adalah janur kuning. Dalam filosofi Jawa, janur diartikan sebagai “sejane ning nur” atau “jalan menuju cahaya (Ilahi)”. Ada pula yang mengartikan janur sebagai singkatan dari “jatining nur”, yang berarti cahaya sejati atau hati nurani. Warna kuning dalam budaya Jawa melambangkan “sabdo dadi” atau hasil dari hati yang jernih. Maka, penggunaan janur kuning mengandung harapan untuk meraih cahaya Ilahi dengan hati yang bersih.

2. Bentuk Segi Empat

Ketupat berbentuk segi empat, melambangkan empat arah mata angin atau dalam konsep Jawa dikenal sebagai kiblat papat limo pancer. Ini menyimbolkan keseimbangan alam dan spiritual: ke mana pun manusia melangkah, arah akhirnya tetap menuju Allah, Sang Pencipta.

Secara akhlak, bentuk ini juga mencerminkan empat jenis nafsu manusia:

  • Amarah (emosi)

  • Lauwamah (keinginan makan)

  • Supiyah (hasrat akan keindahan)

    BacaJuga :

    OPINI: Malang Raya Megapolitan, Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

    OPINI: Transfer Pengetahuan BUMN: Belajar Tak Sekadar Meniru

  • Mutmainnah (ketenangan jiwa)
    Empat nafsu ini hanya bisa dikendalikan melalui amalan seperti puasa.

3. Anyaman Ketupat

Anyaman ketupat yang saling terkait menggambarkan kesalahan dan dosa manusia yang saling berkaitan. Namun saat ketupat dibelah, isinya putih bersih — melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

4. Beras

Isi ketupat adalah beras, bahan makanan pokok yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Filosofinya, setelah hati dan jiwa bersih dari nafsu, barulah manusia bisa meraih keberkahan dan kesejahteraan sejati. Dalam konteks sosial, masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang anggotanya memiliki hati dan jiwa yang suci.

Ilustrasi Ketupat. (Foto: Javasatu.com)

Tradisi Ketupat di Hari Ketujuh Syawal

Tradisi ini umumnya dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Di berbagai daerah, masjid, musala, dan surau menggelar acara pembacaan sholawat di malam hari, diikuti oleh jamaah dari lingkungan sekitar. Jika kita melewati desa atau kampung pada malam itu, akan terdengar lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW menggema penuh kekhusyukan. Ketupat yang dibagikan merupakan hasil dari sedekah warga.

Bagi umat Islam yang telah berpuasa penuh selama Ramadan, menjalankan salat tarawih, menunaikan zakat, dan saling memaafkan di Hari Raya Idulfitri, maka menyempurnakan ibadah dengan sedekah ketupat dan pembacaan sholawat di hari ketujuh Syawal menjadi wujud harapan meraih syafaat Rasulullah SAW. Semoga kesucian diri ini terjaga hingga kelak menghadap Ilahi Rabbi.


Isnanto, S.Ag.SH.M.Si:
Penulis adalah Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah. (05/04/2025).

 


 

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Polresta Malang Kota Bongkar Modus Beasiswa Kedokteran China

21 Calon Perwira Penerbang TNI Ikuti Pantukhir Tahap I

Cegah Kenakalan Remaja, Polresta Malang Kota Kenalkan Hipnoterapi

Gunung Sinabung Siaga, TNI Kerahkan 1.012 Personel

PDIP Kabupaten Malang: “Penghargaan Bukan Ukuran Keberhasilan Pemkab”

Polisi Gresik Izinkan Tahanan Peluk Anak dan Istri

Antibully Jakarta Festival Jadikan Musik sebagai Jembatan Kesetaraan bagi Anak Berkebutuhan Khusus dan Anak Tipikal

Warga Lapor Judi Sabung Ayam, Polres Malang Langsung Bongkar Arena

Manten Gethek, Saat Sungai Serayu Jadi Pengantin

Guru Kurang, 2.025 GTT Kabupaten Malang Belum Masuk Dapodik

Prev Next

POPULER HARI INI

UMKM Blitar Terancam, Pengusaha Sound System Minta Kepastian Izin Karnaval

Warga Ciptomulyo Datangi BPN Kota Malang, Pertanyakan Sertifikat Tanah

Piala Soeratin 2026, Tim U-13 dan U-15 Gresik Siap Berlaga di Jember

2.345 Aduan Masuk ke Pemkab Gresik, Wabup Alif: Jangan Tunggu Viral

HUT ke-78 Polwan, Kapolres Gresik Ingatkan Anggota Bijak Bermedia Sosial

BERITA LAINNYA

Polresta Malang Kota Bongkar Modus Beasiswa Kedokteran China

21 Calon Perwira Penerbang TNI Ikuti Pantukhir Tahap I

Cegah Kenakalan Remaja, Polresta Malang Kota Kenalkan Hipnoterapi

Gunung Sinabung Siaga, TNI Kerahkan 1.012 Personel

PDIP Kabupaten Malang: “Penghargaan Bukan Ukuran Keberhasilan Pemkab”

Polisi Gresik Izinkan Tahanan Peluk Anak dan Istri

Antibully Jakarta Festival Jadikan Musik sebagai Jembatan Kesetaraan bagi Anak Berkebutuhan Khusus dan Anak Tipikal

Warga Lapor Judi Sabung Ayam, Polres Malang Langsung Bongkar Arena

Manten Gethek, Saat Sungai Serayu Jadi Pengantin

Guru Kurang, 2.025 GTT Kabupaten Malang Belum Masuk Dapodik

Prev Next

POPULER MINGGU INI

BLT DBHCHT Rp900 Ribu Cair di Wringinanom, Bupati Yani Ajak Warga Bersuara

UMKM Blitar Terancam, Pengusaha Sound System Minta Kepastian Izin Karnaval

Karnaval Budaya Nusantara Meriahkan HUT ke-81 RI di Tebuwung Gresik

HUT ke-81 RI di RW 12 Klayatan Kota Malang, Gema Cerita Nusantara Satukan Warga

Pemasangan Atap Stadion Gelora Daha Jayati Kediri Ditarget Rampung November

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved