email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 28 Mei 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

by Javasatu
5 April 2025
Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. (Foto: Dok/Istimewa)

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

Oleh: Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. – Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah

Usai Hari Raya Idulfitri, di berbagai pasar tradisional terutama di kawasan Pantura Jawa, banyak pedagang mulai menjajakan janur kuning yang telah dianyam menjadi ketupat. Ketupat menjadi bagian dari tradisi Lebaran yang sangat kental, bahkan gambarnya sering dijadikan ikon dalam berbagai media ucapan hari raya.

Ketupat atau kupat merupakan akronim dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini sejalan dengan semangat Idulfitri sebagai momentum untuk saling memaafkan. Tradisi membuat dan menyajikan ketupat setelah Idulfitri sudah menjadi bagian dari budaya umat Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Ketupat mirip dengan lontong, dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur, lalu dikukus hingga matang. Di beberapa daerah, janur yang digunakan berasal dari pohon siwalan atau kelapa, dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.

Biasanya, ketupat disajikan dengan berbagai masakan khas seperti opor ayam, sambal goreng, atau bumbu santan lainnya, tergantung kebiasaan daerah masing-masing.

Kenapa harus ketupat? Sejak kapan tradisi ini dimulai?

Menurut penelusuran sejarah, tradisi ketupat mulai dikenal sejak masa Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga 16. Beliau adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat bukan hanya sebagai makanan, melainkan juga sebagai media dakwah dan simbol nilai-nilai spiritual.

Berikut makna filosofis ketupat dalam tradisi Jawa dan Islam:

1. Janur Kuning

Bahan utama ketupat adalah janur kuning. Dalam filosofi Jawa, janur diartikan sebagai “sejane ning nur” atau “jalan menuju cahaya (Ilahi)”. Ada pula yang mengartikan janur sebagai singkatan dari “jatining nur”, yang berarti cahaya sejati atau hati nurani. Warna kuning dalam budaya Jawa melambangkan “sabdo dadi” atau hasil dari hati yang jernih. Maka, penggunaan janur kuning mengandung harapan untuk meraih cahaya Ilahi dengan hati yang bersih.

2. Bentuk Segi Empat

Ketupat berbentuk segi empat, melambangkan empat arah mata angin atau dalam konsep Jawa dikenal sebagai kiblat papat limo pancer. Ini menyimbolkan keseimbangan alam dan spiritual: ke mana pun manusia melangkah, arah akhirnya tetap menuju Allah, Sang Pencipta.

BacaJuga :

OPINI: Spirit Ibrahimik dan Krisis Identitas Generasi Modern

OPINI: Kota Batu Aman dari Begal: “Jangan Mudah Terprovokasi Hoaks Media Sosial”

Secara akhlak, bentuk ini juga mencerminkan empat jenis nafsu manusia:

  • Amarah (emosi)

  • Lauwamah (keinginan makan)

  • Supiyah (hasrat akan keindahan)

  • Mutmainnah (ketenangan jiwa)
    Empat nafsu ini hanya bisa dikendalikan melalui amalan seperti puasa.

3. Anyaman Ketupat

Anyaman ketupat yang saling terkait menggambarkan kesalahan dan dosa manusia yang saling berkaitan. Namun saat ketupat dibelah, isinya putih bersih — melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

4. Beras

Isi ketupat adalah beras, bahan makanan pokok yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Filosofinya, setelah hati dan jiwa bersih dari nafsu, barulah manusia bisa meraih keberkahan dan kesejahteraan sejati. Dalam konteks sosial, masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang anggotanya memiliki hati dan jiwa yang suci.

Ilustrasi Ketupat. (Foto: Javasatu.com)

Tradisi Ketupat di Hari Ketujuh Syawal

Tradisi ini umumnya dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Di berbagai daerah, masjid, musala, dan surau menggelar acara pembacaan sholawat di malam hari, diikuti oleh jamaah dari lingkungan sekitar. Jika kita melewati desa atau kampung pada malam itu, akan terdengar lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW menggema penuh kekhusyukan. Ketupat yang dibagikan merupakan hasil dari sedekah warga.

Bagi umat Islam yang telah berpuasa penuh selama Ramadan, menjalankan salat tarawih, menunaikan zakat, dan saling memaafkan di Hari Raya Idulfitri, maka menyempurnakan ibadah dengan sedekah ketupat dan pembacaan sholawat di hari ketujuh Syawal menjadi wujud harapan meraih syafaat Rasulullah SAW. Semoga kesucian diri ini terjaga hingga kelak menghadap Ilahi Rabbi.


Isnanto, S.Ag.SH.M.Si:
Penulis adalah Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah. (05/04/2025).

 


 

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

UMM Tinggalkan Kresek, 2.500 Paket Kurban Dibagikan Pakai Besek Bambu

Gerindra Kota Malang Sembelih 11 Sapi dan 15 Kambing Kurban untuk Warga

Bukan Sekadar Ibadah, Aksi Kurban Universitas Negeri Malang Sokong Capaian SDGs

Kesadaran Berbagi Meningkat, Jumlah Hewan Kurban di UM Melonjak Dua Kali Lipat

Iduladha 1447 Hijriah, Polres Malang Kurban 22 Sapi dan 73 Kambing

Relawan Suket Teki Nusantara Kediri Sembelih Hewan Kurban untuk Warga

Dai Asal Malang Gaungkan “Peradaban Ibrahimik” dalam Khutbah Iduladha

Lapas Kelas I Malang Potong 10 Sapi dan 15 Kambing untuk Warga Binaan

Iduladha 1447 Hijriah, Polres Batu Salurkan 39 Hewan Kurban untuk Warga

Warga Tanjungrejo Kota Malang Sembelih 10 Hewan Kurban, Daging Dibungkus Daun Jati

Prev Next

POPULER HARI INI

Gresik Bidik Prestasi Voli Level Nasional

Dai Asal Malang Gaungkan “Peradaban Ibrahimik” dalam Khutbah Iduladha

Kepala Bapenda Malang Jadi Sekda Semarang, Wali Kota Wahyu Siapkan Mutasi Kilat

Relawan Suket Teki Nusantara Kediri Sembelih Hewan Kurban untuk Warga

Pembangunan Sekolah Rakyat dan Kampus UNY di Blora Segera Dimulai

BERITA LAINNYA

UMM Tinggalkan Kresek, 2.500 Paket Kurban Dibagikan Pakai Besek Bambu

Gerindra Kota Malang Sembelih 11 Sapi dan 15 Kambing Kurban untuk Warga

Bukan Sekadar Ibadah, Aksi Kurban Universitas Negeri Malang Sokong Capaian SDGs

Kesadaran Berbagi Meningkat, Jumlah Hewan Kurban di UM Melonjak Dua Kali Lipat

Iduladha 1447 Hijriah, Polres Malang Kurban 22 Sapi dan 73 Kambing

Relawan Suket Teki Nusantara Kediri Sembelih Hewan Kurban untuk Warga

Dai Asal Malang Gaungkan “Peradaban Ibrahimik” dalam Khutbah Iduladha

Lapas Kelas I Malang Potong 10 Sapi dan 15 Kambing untuk Warga Binaan

Iduladha 1447 Hijriah, Polres Batu Salurkan 39 Hewan Kurban untuk Warga

Warga Tanjungrejo Kota Malang Sembelih 10 Hewan Kurban, Daging Dibungkus Daun Jati

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Kepala Bapenda Malang Jadi Sekda Semarang, Wali Kota Wahyu Siapkan Mutasi Kilat

Pembangunan Sekolah Rakyat dan Kampus UNY di Blora Segera Dimulai

Gresik Dibanjiri Investasi, Warga Dapat Apa?

Gresik Bidik Prestasi Voli Level Nasional

Program Ratoon Tebu 2026 Kabupaten Malang, Penyuluh Diawasi Ketat

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved