email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Rabu, 6 Mei 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

by Javasatu
5 April 2025
Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. (Foto: Dok/Istimewa)

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

Oleh: Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. – Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah

Usai Hari Raya Idulfitri, di berbagai pasar tradisional terutama di kawasan Pantura Jawa, banyak pedagang mulai menjajakan janur kuning yang telah dianyam menjadi ketupat. Ketupat menjadi bagian dari tradisi Lebaran yang sangat kental, bahkan gambarnya sering dijadikan ikon dalam berbagai media ucapan hari raya.

Ketupat atau kupat merupakan akronim dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini sejalan dengan semangat Idulfitri sebagai momentum untuk saling memaafkan. Tradisi membuat dan menyajikan ketupat setelah Idulfitri sudah menjadi bagian dari budaya umat Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Ketupat mirip dengan lontong, dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur, lalu dikukus hingga matang. Di beberapa daerah, janur yang digunakan berasal dari pohon siwalan atau kelapa, dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.

Biasanya, ketupat disajikan dengan berbagai masakan khas seperti opor ayam, sambal goreng, atau bumbu santan lainnya, tergantung kebiasaan daerah masing-masing.

Kenapa harus ketupat? Sejak kapan tradisi ini dimulai?

Menurut penelusuran sejarah, tradisi ketupat mulai dikenal sejak masa Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga 16. Beliau adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat bukan hanya sebagai makanan, melainkan juga sebagai media dakwah dan simbol nilai-nilai spiritual.

Berikut makna filosofis ketupat dalam tradisi Jawa dan Islam:

1. Janur Kuning

Bahan utama ketupat adalah janur kuning. Dalam filosofi Jawa, janur diartikan sebagai “sejane ning nur” atau “jalan menuju cahaya (Ilahi)”. Ada pula yang mengartikan janur sebagai singkatan dari “jatining nur”, yang berarti cahaya sejati atau hati nurani. Warna kuning dalam budaya Jawa melambangkan “sabdo dadi” atau hasil dari hati yang jernih. Maka, penggunaan janur kuning mengandung harapan untuk meraih cahaya Ilahi dengan hati yang bersih.

2. Bentuk Segi Empat

Ketupat berbentuk segi empat, melambangkan empat arah mata angin atau dalam konsep Jawa dikenal sebagai kiblat papat limo pancer. Ini menyimbolkan keseimbangan alam dan spiritual: ke mana pun manusia melangkah, arah akhirnya tetap menuju Allah, Sang Pencipta.

Secara akhlak, bentuk ini juga mencerminkan empat jenis nafsu manusia:

  • Amarah (emosi)

  • Lauwamah (keinginan makan)

  • Supiyah (hasrat akan keindahan)

    BacaJuga :

    OPINI: Kemitraan Publik-Swasta, Jalan Tengah Pembangunan atau Celah Ketimpangan?

    OPINI: AI Ubah Wajah Administrasi Perkantoran

  • Mutmainnah (ketenangan jiwa)
    Empat nafsu ini hanya bisa dikendalikan melalui amalan seperti puasa.

3. Anyaman Ketupat

Anyaman ketupat yang saling terkait menggambarkan kesalahan dan dosa manusia yang saling berkaitan. Namun saat ketupat dibelah, isinya putih bersih — melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

4. Beras

Isi ketupat adalah beras, bahan makanan pokok yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Filosofinya, setelah hati dan jiwa bersih dari nafsu, barulah manusia bisa meraih keberkahan dan kesejahteraan sejati. Dalam konteks sosial, masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang anggotanya memiliki hati dan jiwa yang suci.

Ilustrasi Ketupat. (Foto: Javasatu.com)

Tradisi Ketupat di Hari Ketujuh Syawal

Tradisi ini umumnya dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Di berbagai daerah, masjid, musala, dan surau menggelar acara pembacaan sholawat di malam hari, diikuti oleh jamaah dari lingkungan sekitar. Jika kita melewati desa atau kampung pada malam itu, akan terdengar lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW menggema penuh kekhusyukan. Ketupat yang dibagikan merupakan hasil dari sedekah warga.

Bagi umat Islam yang telah berpuasa penuh selama Ramadan, menjalankan salat tarawih, menunaikan zakat, dan saling memaafkan di Hari Raya Idulfitri, maka menyempurnakan ibadah dengan sedekah ketupat dan pembacaan sholawat di hari ketujuh Syawal menjadi wujud harapan meraih syafaat Rasulullah SAW. Semoga kesucian diri ini terjaga hingga kelak menghadap Ilahi Rabbi.


Isnanto, S.Ag.SH.M.Si:
Penulis adalah Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah. (05/04/2025).

 


 

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Dewan Pendidikan Kota Batu Pantau Monev PSSP dan PSAJ 2026 di Sekolah

OPINI: Kemitraan Publik-Swasta, Jalan Tengah Pembangunan atau Celah Ketimpangan?

Wabup Malang Lathifah Bantah Pemalsuan Dokumen Kunjungan ke Wapres Gibran

Rumah RTLH Suposo di Wonosobo Berubah Jadi Tembok Permanen Lewat TMMD

PKL Pasar Kebalen Kota Malang Dibatasi Jam Jualan, Hanya Tengah Malam hingga Pagi

Korban Terakhir Perahu Tenggelam di Gresik Ditemukan, Operasi SAR Resmi Ditutup

KKNT 06 Universitas Al-Qolam Turun ke Kaumrejo Usung Semangat “Abang Puteh”

Jembatan Gantung Wonoroto Wonosobo Dikebut, Akses ke Pasuruhan Segera Terhubung

Menghidupkan Spirit KAA 1955: Rektor UM Dorong Deklarasi Iptek untuk Negara Selatan

OPINI: AI Ubah Wajah Administrasi Perkantoran

Prev Next

POPULER HARI INI

APS Naik Tajam, Pemkot Malang Curigai Data Tak Valid

Pengosongan Rumah Dinas di Slipi, 12 Unit Ditertibkan untuk Prajurit TNI Aktif

Dai Malang Soroti Dugaan Pelecehan Pati: “Agama Harus Jadi Pelindung, Bukan Tameng Kejahatan”

260 Pesilat Bertarung, IPSI Kabupaten Malang Tekankan Prestasi Tanpa Permusuhan

41 Kasus Suspek Chikungunya di Gresik, Dinkes Minta Warga Waspada

BERITA LAINNYA

Dewan Pendidikan Kota Batu Pantau Monev PSSP dan PSAJ 2026 di Sekolah

OPINI: Kemitraan Publik-Swasta, Jalan Tengah Pembangunan atau Celah Ketimpangan?

Wabup Malang Lathifah Bantah Pemalsuan Dokumen Kunjungan ke Wapres Gibran

Rumah RTLH Suposo di Wonosobo Berubah Jadi Tembok Permanen Lewat TMMD

PKL Pasar Kebalen Kota Malang Dibatasi Jam Jualan, Hanya Tengah Malam hingga Pagi

Korban Terakhir Perahu Tenggelam di Gresik Ditemukan, Operasi SAR Resmi Ditutup

KKNT 06 Universitas Al-Qolam Turun ke Kaumrejo Usung Semangat “Abang Puteh”

Jembatan Gantung Wonoroto Wonosobo Dikebut, Akses ke Pasuruhan Segera Terhubung

Menghidupkan Spirit KAA 1955: Rektor UM Dorong Deklarasi Iptek untuk Negara Selatan

OPINI: AI Ubah Wajah Administrasi Perkantoran

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Pengosongan Rumah Dinas di Slipi, 12 Unit Ditertibkan untuk Prajurit TNI Aktif

APS Naik Tajam, Pemkot Malang Curigai Data Tak Valid

260 Pesilat Bertarung, IPSI Kabupaten Malang Tekankan Prestasi Tanpa Permusuhan

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Hardiknas 2026, Prof Barizi Tekankan Pendidikan Bermutu Harus Bangun Karakter dan Nilai Ketuhanan

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved