email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Minggu, 27 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

by Javasatu
5 April 2025
Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. (Foto: Dok/Istimewa)

Ketupat: Antara Tradisi dan Nilai Religi

Oleh: Isnanto, S.Ag., SH., M.Si. – Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah

Usai Hari Raya Idulfitri, di berbagai pasar tradisional terutama di kawasan Pantura Jawa, banyak pedagang mulai menjajakan janur kuning yang telah dianyam menjadi ketupat. Ketupat menjadi bagian dari tradisi Lebaran yang sangat kental, bahkan gambarnya sering dijadikan ikon dalam berbagai media ucapan hari raya.

Ketupat atau kupat merupakan akronim dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini sejalan dengan semangat Idulfitri sebagai momentum untuk saling memaafkan. Tradisi membuat dan menyajikan ketupat setelah Idulfitri sudah menjadi bagian dari budaya umat Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Ketupat mirip dengan lontong, dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur, lalu dikukus hingga matang. Di beberapa daerah, janur yang digunakan berasal dari pohon siwalan atau kelapa, dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.

Biasanya, ketupat disajikan dengan berbagai masakan khas seperti opor ayam, sambal goreng, atau bumbu santan lainnya, tergantung kebiasaan daerah masing-masing.

Kenapa harus ketupat? Sejak kapan tradisi ini dimulai?

Menurut penelusuran sejarah, tradisi ketupat mulai dikenal sejak masa Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga 16. Beliau adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat bukan hanya sebagai makanan, melainkan juga sebagai media dakwah dan simbol nilai-nilai spiritual.

Berikut makna filosofis ketupat dalam tradisi Jawa dan Islam:

1. Janur Kuning

Bahan utama ketupat adalah janur kuning. Dalam filosofi Jawa, janur diartikan sebagai “sejane ning nur” atau “jalan menuju cahaya (Ilahi)”. Ada pula yang mengartikan janur sebagai singkatan dari “jatining nur”, yang berarti cahaya sejati atau hati nurani. Warna kuning dalam budaya Jawa melambangkan “sabdo dadi” atau hasil dari hati yang jernih. Maka, penggunaan janur kuning mengandung harapan untuk meraih cahaya Ilahi dengan hati yang bersih.

2. Bentuk Segi Empat

Ketupat berbentuk segi empat, melambangkan empat arah mata angin atau dalam konsep Jawa dikenal sebagai kiblat papat limo pancer. Ini menyimbolkan keseimbangan alam dan spiritual: ke mana pun manusia melangkah, arah akhirnya tetap menuju Allah, Sang Pencipta.

Secara akhlak, bentuk ini juga mencerminkan empat jenis nafsu manusia:

  • Amarah (emosi)

  • Lauwamah (keinginan makan)

  • Supiyah (hasrat akan keindahan)

  • Mutmainnah (ketenangan jiwa)
    Empat nafsu ini hanya bisa dikendalikan melalui amalan seperti puasa.

    BacaJuga :

    OPINI: Malang Raya Megapolitan, Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

    OPINI: Transfer Pengetahuan BUMN: Belajar Tak Sekadar Meniru

3. Anyaman Ketupat

Anyaman ketupat yang saling terkait menggambarkan kesalahan dan dosa manusia yang saling berkaitan. Namun saat ketupat dibelah, isinya putih bersih — melambangkan kesucian dan kebersihan hati setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

4. Beras

Isi ketupat adalah beras, bahan makanan pokok yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Filosofinya, setelah hati dan jiwa bersih dari nafsu, barulah manusia bisa meraih keberkahan dan kesejahteraan sejati. Dalam konteks sosial, masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang anggotanya memiliki hati dan jiwa yang suci.

Ilustrasi Ketupat. (Foto: Javasatu.com)

Tradisi Ketupat di Hari Ketujuh Syawal

Tradisi ini umumnya dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal. Di berbagai daerah, masjid, musala, dan surau menggelar acara pembacaan sholawat di malam hari, diikuti oleh jamaah dari lingkungan sekitar. Jika kita melewati desa atau kampung pada malam itu, akan terdengar lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW menggema penuh kekhusyukan. Ketupat yang dibagikan merupakan hasil dari sedekah warga.

Bagi umat Islam yang telah berpuasa penuh selama Ramadan, menjalankan salat tarawih, menunaikan zakat, dan saling memaafkan di Hari Raya Idulfitri, maka menyempurnakan ibadah dengan sedekah ketupat dan pembacaan sholawat di hari ketujuh Syawal menjadi wujud harapan meraih syafaat Rasulullah SAW. Semoga kesucian diri ini terjaga hingga kelak menghadap Ilahi Rabbi.


Isnanto, S.Ag.SH.M.Si:
Penulis adalah Ketua Pembina Yayasan Roudlotul Ulum Panceng, Pengurus MUI Gresik, PC Pergunu Gresik, Komnasdik Gresik Pembina LPPNU Gresik, Ketua PRNU Banyutengah. (05/04/2025).

 


 

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Dukungan Pengcab Mengalir, Joko Santoso Maju Calon Ketua PBJI Jawa Barat

KSPPS NU Dukun Rutin Santuni Anak Yatim, Juga Jalankan Beasiswa

Pameran Tunggal Malya Sasmaya Angkat Dialog Batik Madura di Surabaya

Kapolresta dan Wali Kota Malang Matangkan Deklarasi Ngalam Hebak

Cium Merah Putih, Empat Anggota OPM Serahkan Senjata, Kembali ke Ibu Pertiwi

Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Lokal

Revitalisasi Sekolah di Blitar Disorot, LKGSAI Minta Pengawasan Diperketat

Kasus SMPN 18 Kota Malang, Ginanjar Ungkap Rantai Tanggung Jawab Pendidikan

Ngalam Hebak Digagas Kapolresta Malang Kota, Hanan: Semangatnya Malang Kabeh

Ada Beras Murah di Ngalam Hebak Besok, UMKM Siap Gerakkan Ekonomi Celaket

Prev Next

POPULER HARI INI

Jelang Mudik Lebaran, Polres Malang Perketat Pengamanan Stasiun dan Terminal

Hujan Deras Picu Tanah Ambles di Tajinan Malang, Dapur Rumah Warga Rusak

Mudik Lebaran, Polres Malang Tertibkan Truk Sumbu 3 di Jalur Lawang–Singosari

Bupati Yani Ingatkan Ancaman Ekonomi Global saat Susun Pembangunan Gresik 2027

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

BERITA LAINNYA

Dukungan Pengcab Mengalir, Joko Santoso Maju Calon Ketua PBJI Jawa Barat

KSPPS NU Dukun Rutin Santuni Anak Yatim, Juga Jalankan Beasiswa

Pameran Tunggal Malya Sasmaya Angkat Dialog Batik Madura di Surabaya

Kapolresta dan Wali Kota Malang Matangkan Deklarasi Ngalam Hebak

Cium Merah Putih, Empat Anggota OPM Serahkan Senjata, Kembali ke Ibu Pertiwi

Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Lokal

Revitalisasi Sekolah di Blitar Disorot, LKGSAI Minta Pengawasan Diperketat

Kasus SMPN 18 Kota Malang, Ginanjar Ungkap Rantai Tanggung Jawab Pendidikan

Ngalam Hebak Digagas Kapolresta Malang Kota, Hanan: Semangatnya Malang Kabeh

Ada Beras Murah di Ngalam Hebak Besok, UMKM Siap Gerakkan Ekonomi Celaket

Prev Next

POPULER MINGGU INI

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Bupati Yani Ingatkan Ancaman Ekonomi Global saat Susun Pembangunan Gresik 2027

Jelang Mudik Lebaran, Polres Malang Perketat Pengamanan Stasiun dan Terminal

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Ramadan di Lapas Malang, Ratusan Warga Binaan Buka Puasa Bersama Keluarga

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved