email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Jumat, 26 Juni 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Kebijakan Fiskal untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Inklusif, Studi Kontradiksi di Banyuwangi

by Javasatu
25 Desember 2025
Ilustrasi by Aliefia Nur Ocktaviani

OPINI

Kebijakan Fiskal untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Inklusif, Studi Kontradiksi di Banyuwangi

Oleh: Aliefia Nur Ocktaviani – Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Administrasi Publik, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Kebijakan fiskal merupakan instrumen utama pemerintah dalam mengelola perekonomian melalui pengaturan pendapatan dan belanja negara maupun daerah. Dalam konteks pembangunan modern, kebijakan fiskal tidak lagi semata-mata diarahkan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dituntut untuk mampu mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Artinya, kebijakan fiskal harus memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi, keadilan sosial, serta kelestarian lingkungan, sejalan dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Pada tingkat daerah, implementasi kebijakan fiskal menghadapi tantangan yang lebih kompleks akibat otonomi daerah. Pemerintah daerah memiliki kewenangan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sesuai potensi lokal. Namun, kewenangan tersebut kerap memunculkan dilema antara kebutuhan peningkatan pendapatan daerah, target pertumbuhan ekonomi jangka pendek, dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan serta pemerataan kesejahteraan.

Kabupaten Banyuwangi sering dipersepsikan sebagai daerah yang berhasil dalam inovasi pembangunan. Kemajuan sektor pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif telah mendorong peningkatan pendapatan daerah. Meski demikian, di balik capaian tersebut terdapat sejumlah kontradiksi kebijakan fiskal yang patut dikaji lebih kritis, khususnya terkait aspek keberlanjutan lingkungan dan inklusivitas sosial.

Arah Kebijakan Fiskal Daerah Banyuwangi

Kebijakan fiskal Banyuwangi tercermin dalam struktur APBD yang mengalokasikan belanja pada sektor infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, serta pengembangan sektor unggulan seperti pariwisata dan pertanian. Secara normatif, arah kebijakan ini telah mencerminkan upaya mendorong kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi daerah.

Namun dalam praktiknya, dorongan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sering kali membuat pemerintah daerah lebih memprioritaskan sektor-sektor yang cepat menghasilkan pemasukan. Pariwisata massal dan pemanfaatan sumber daya alam menjadi pilihan utama. Di sinilah muncul kontradiksi antara kebutuhan fiskal jangka pendek dan tuntutan menjaga keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang.

Ilustrasi by Aliefia Nur Ocktaviani

Pertumbuhan Ekonomi versus Keberlanjutan Lingkungan

Kontradiksi paling menonjol terlihat dalam pengembangan sektor pariwisata. Berbagai kebijakan fiskal diarahkan untuk pembangunan infrastruktur wisata, promosi destinasi, dan penyelenggaraan event budaya. Secara ekonomi, langkah ini efektif menarik wisatawan, membuka lapangan kerja, dan memperluas basis pajak daerah.

BacaJuga :

OPINI: Smart Kampung Banyuwangi dan Transformasi Pelayanan Publik

OPINI: Pelayanan Publik Unggul Berawal dari Integrasi Tata Kelola dan Digitalisasi

Namun, pertumbuhan pariwisata yang pesat juga membawa tekanan besar terhadap ekosistem lokal, seperti pantai, kawasan hutan, dan sumber daya air. Ironisnya, alokasi anggaran untuk konservasi lingkungan dan mitigasi dampak ekologis sering kali lebih kecil dibandingkan anggaran promosi dan pembangunan fisik. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek lingkungan masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi utama pembangunan.

Inklusivitas dan Ketimpangan Sosial

Pembangunan inklusif menuntut agar manfaat pembangunan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk petani kecil, nelayan, UMKM, perempuan, dan kelompok rentan lainnya. Banyuwangi telah meluncurkan berbagai program fiskal untuk mendukung ekonomi desa dan UMKM. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa akses terhadap program-program tersebut belum sepenuhnya merata.

Kelompok masyarakat yang memiliki kapasitas administratif dan jaringan cenderung lebih mudah mengakses bantuan dan insentif fiskal. Sebaliknya, masyarakat di wilayah terpencil atau dengan literasi keuangan rendah sering kali tertinggal. Hal ini menimbulkan kontradiksi antara tujuan inklusivitas kebijakan fiskal dan hasil yang masih bersifat eksklusif.

Ketimpangan Antarwilayah dalam Alokasi Anggaran

Kontradiksi lain terlihat dalam distribusi anggaran antarwilayah. Demi efisiensi dan dampak ekonomi yang cepat, anggaran kerap difokuskan pada wilayah dengan potensi ekonomi tinggi. Akibatnya, desa-desa terpencil dan wilayah pinggiran memperoleh porsi anggaran yang relatif lebih kecil.

Dari perspektif ekonomi, strategi ini dinilai rasional. Namun dari sudut pandang keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan, pola tersebut berisiko memperlebar kesenjangan wilayah, memicu urbanisasi berlebihan, serta memperburuk ketimpangan akses terhadap layanan publik.

Analisis Kritis Kebijakan Fiskal

Berbagai kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan fiskal Banyuwangi masih berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan tujuan pembangunan berkelanjutan jangka panjang. Dalam perspektif administrasi publik, kondisi ini mencerminkan tantangan tata kelola fiskal yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebijakan sosial, lingkungan, dan tata ruang.

Tanpa integrasi kebijakan yang komprehensif, kebijakan fiskal berpotensi menciptakan paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi terlihat impresif secara statistik, namun menyisakan ketimpangan sosial dan degradasi lingkungan di lapangan.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Kebijakan fiskal di Kabupaten Banyuwangi mencerminkan keberhasilan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan daerah, sekaligus menampilkan kontradiksi serius terkait keberlanjutan lingkungan dan inklusivitas sosial. Fokus pada optimalisasi PAD dan sektor unggulan kerap berbenturan dengan prinsip pemerataan dan perlindungan lingkungan.

Keberhasilan kebijakan fiskal seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mengarahkan kebijakan fiskal pada investasi jangka panjang, seperti penguatan perlindungan lingkungan, peningkatan kapasitas kelompok rentan, serta pemerataan pembangunan antarwilayah.

Dengan pendekatan tersebut, kebijakan fiskal tidak hanya berfungsi sebagai alat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk mewujudkan pembangunan yang benar-benar berkelanjutan dan inklusif. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: OpiniUntag Banyuwangi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Bakorwil Malang Gandeng PWI Jatim Perkuat Narasi Malang Raya Megapolitan

Wabup Alif Sebut Masa Depan Gresik Ditentukan Desa

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Malang Bangun 7 Sumur Bor untuk Ribuan Warga

Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Remaja, Siap Hadapi Ancaman Modern

Gresik Kejar Target Sanitasi Aman, Sekda Dorong Percepatan Akses Air Bersih

Pulang Mondok, Santri Ponpes Sakur Ujungpangkah Dibekali Bibit Puyuh dan Ikan Nila

Kapolres Gresik Ganjar Tim Pengungkap BBM Ilegal dan Narkoba

Anggaran Dinkes Kabupaten Malang Rp475 Miliar Disorot, Transparansi Dipertanyakan

Mediasi Gugatan Rumah Bocor di PN Malang Gagal, Tergugat Hanya Tawarkan Rp2 Juta

Industri Gresik Utara Melaju, SDM Lokal Siap?

Prev Next

POPULER HARI INI

Tribute Iron Maiden, Metallica dan Sepultura Hadir 19 Juli di Malang

Umpatan “Ndasmu” Menurut Rasa Bahasa Jawa

HMD Gemas Wonosobo Siapkan Aksi Damai Dukung Program MBG, Soroti Kebijakan Baru BGN

Artmeru Gallery Buka Pameran Perdana di Kota Malang, Tampilkan 22 Perupa Nasional

Pulang Mondok, Santri Ponpes Sakur Ujungpangkah Dibekali Bibit Puyuh dan Ikan Nila

BERITA LAINNYA

Bakorwil Malang Gandeng PWI Jatim Perkuat Narasi Malang Raya Megapolitan

Wabup Alif Sebut Masa Depan Gresik Ditentukan Desa

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Malang Bangun 7 Sumur Bor untuk Ribuan Warga

Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Remaja, Siap Hadapi Ancaman Modern

Gresik Kejar Target Sanitasi Aman, Sekda Dorong Percepatan Akses Air Bersih

Pulang Mondok, Santri Ponpes Sakur Ujungpangkah Dibekali Bibit Puyuh dan Ikan Nila

Kapolres Gresik Ganjar Tim Pengungkap BBM Ilegal dan Narkoba

Anggaran Dinkes Kabupaten Malang Rp475 Miliar Disorot, Transparansi Dipertanyakan

Mediasi Gugatan Rumah Bocor di PN Malang Gagal, Tergugat Hanya Tawarkan Rp2 Juta

Industri Gresik Utara Melaju, SDM Lokal Siap?

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Banner “Usir Mahasewa” di Aksi Dukung MBG, Budayawan: Tak Ada Budaya Usir-Mengusir di Malang

Tribute Iron Maiden, Metallica dan Sepultura Hadir 19 Juli di Malang

Umpatan “Ndasmu” Menurut Rasa Bahasa Jawa

Dosen UIZ Gresik Jadi Pembicara Internasional di Kampus Turki

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved