JAVASATU.COM- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Kelompok 06 Universitas Al-Qolam Malang mendorong regenerasi kader pemulasaraan jenazah di Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Upaya itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) 2 yang digelar di Aula Ar-Raudhoh, Selasa (9/6/2026), bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengurus NU, dan dosen pembimbing lapangan.

FGD tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memaparkan hasil survei lapangan sekaligus merumuskan program kerja yang dinilai paling mendesak bagi masyarakat Desa Kaumrejo. Dari sejumlah persoalan yang ditemukan, minimnya kader pemulasaraan jenazah perempuan menjadi isu yang paling mendapat perhatian.
Fasilitator kegiatan, Dedik Hermawan, yang mewakili Ansor Kaumrejo, mengapresiasi kontribusi mahasiswa selama menjalankan pengabdian di desa tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi adik-adik mahasiswa selama di Kaumrejo. Semoga ini menjadi pengalaman berharga bagi mereka dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas. Kami juga berharap kehadiran mahasiswa bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Kaumrejo untuk lebih mendalami bidang keagamaan,” kata Dedik Hermawan.
Persoalan regenerasi kader pemulasaraan jenazah dipaparkan oleh Zainal Abidin dari KKNT 06 Universitas Al-Qolam Malang. Berdasarkan hasil survei, pelatihan pemulasaraan jenazah di desa tersebut belum berjalan secara berkelanjutan. Sementara jumlah perempuan yang memiliki kemampuan memandikan jenazah secara syar’i masih sangat terbatas.
Kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan keagamaan di masa depan, terutama ketika kader yang ada saat ini sudah tidak lagi mampu menjalankan tugasnya.
Perwakilan Pengurus NU Kecamatan Ngantang, Ngadi, mengakui tradisi gotong royong masyarakat dalam perawatan jenazah masih berjalan baik. Namun, kaderisasi tetap diperlukan agar tidak terjadi kekosongan tenaga yang memiliki kompetensi dalam pemulasaraan jenazah.
“Kalau pemulasaraan jenazah, sebenarnya di lapangan masih ada yang merawat jenazah, baik dari keluarga maupun tetangga sekitar. Tetapi kaderisasi tetap penting agar kemampuan ini tidak hilang,” ujar Ngadi.
Sementara itu, Modin Desa Kaumrejo, Eko Hadi Sulistio, menyambut baik hasil pemetaan masalah yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, temuan tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperkuat pelayanan keagamaan di tingkat desa.
“Kami berterima kasih karena survei dari mahasiswa ini bisa menjadi panduan untuk menjadikan desa yang lebih maslahah. Kehadiran mahasiswa juga menjadi bahan introspeksi bagi kami untuk terus berbenah,” ungkap Eko Hadi Sulistio.
Selain persoalan pemulasaraan jenazah, mahasiswa KKNT 06 Universitas Al-Qolam Malang juga memetakan sejumlah isu lain, mulai dari tata kelola takmir masjid, menurunnya minat pemuda terhadap organisasi IPNU-IPPNU, hingga penguatan ekonomi umat melalui program Koin NU.
Setelah melalui diskusi panjang, forum akhirnya menyepakati regenerasi pemulasaraan jenazah perempuan sebagai program prioritas mahasiswa KKN Universitas Al-Qolam Malang di Desa Kaumrejo. Bahkan, muncul usulan agar pelatihan serupa juga diberikan kepada kaum laki-laki dengan target minimal terdapat satu orang di setiap dusun yang memahami tata cara pemulasaraan jenazah sesuai syariat.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Universitas Al-Qolam Malang, Mufti Kamal, berharap sinergi antara kampus dan masyarakat mampu melahirkan program yang menjawab kebutuhan warga dan memberikan manfaat berkelanjutan.
“Kolaborasi antara kampus dan masyarakat harus menghasilkan program yang benar-benar dibutuhkan warga sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya. (arf)