JAVASATU.COM- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik membekali santri Pondok Pesantren Sirojul Haramain, Manyar, dengan edukasi pencegahan pernikahan dini dan penguatan karakter. Kegiatan bertajuk MUI Gresik Goes To School itu digelar Jumat (31/7/2026).
Program yang mengusung tema “Membina Karakter, Menginspirasi Generasi” tersebut digelar Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Kabupaten Gresik.
Para santri mendapat pemahaman tentang kesiapan membangun keluarga, kesehatan mental, tanggung jawab dalam rumah tangga, serta pentingnya mempersiapkan masa depan sejak remaja.

Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Kabupaten Gresik, Ibu Nyai Hj. Hajar Idris, mengatakan masa remaja harus dimanfaatkan untuk menuntut ilmu, membangun akhlak, dan mengembangkan potensi diri. Menurutnya, kesiapan menikah tidak cukup hanya diukur dari usia.
“Kesiapan menikah bukan hanya soal umur. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan ilmu pengetahuan, memahami tujuan pernikahan, kesiapan mental dan emosional, kesiapan finansial, memahami peran serta tanggung jawab suami istri, hingga membangun akhlak yang baik dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain,” kata Hajar.
Hajar juga mengingatkan para santri agar tidak terjebak pernikahan dini akibat pergaulan bebas maupun keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang. Ia menyebut MUI Gresik masih menangani berbagai persoalan kenakalan remaja di masyarakat.
“Kalian ini termasuk orang-orang yang beruntung berada di pondok pesantren. Di MUI Kabupaten Gresik, kami memiliki banyak tugas menangani berbagai persoalan kenakalan remaja. Di luar sana kehidupan sangat bebas. Kami banyak menangani kasus-kasus seperti kehamilan di luar nikah dan persoalan lainnya. Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pernikahan dalam Islam bukan sekadar menyatukan dua orang, tetapi bertujuan membangun keluarga yang tenteram dan penuh kasih sayang. Karena itu, keputusan menikah harus disertai kesiapan lahir dan batin.
“Manusia ketika menikah tentu ingin bahagia. Jangan sampai pernikahan justru berakhir dengan broken home atau dipenuhi pertengkaran. Itu merupakan mudarat yang harus dicegah sejak awal dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya,” jelasnya.
Hajar menyampaikan, ketentuan yang berlaku saat ini menetapkan batas minimal usia perkawinan 19 tahun. Namun, ia menekankan usia bukan satu-satunya indikator seseorang siap membangun rumah tangga.
Menurutnya, calon pasangan juga harus memiliki kematangan mental dan emosional, kesiapan finansial, pemahaman mengenai hak dan kewajiban suami istri, serta kemampuan menjalankan kehidupan sosial dengan baik.
Sementara itu, Kepala MA Sirojul Haramain, Hj. Chilyatut Taqiyah Idris, mengapresiasi dipilihnya pesantren tersebut sebagai lokasi program MUI Gresik Goes To School. Ia meminta para santri mengikuti kegiatan dengan serius.
“Kami menghaturkan sugeng rawuh dumateng MUI Kabupaten Gresik yang sudah menyempatkan waktu untuk mengunjungi para santri. Semoga dengan kehadiran para ibu nyai, anak-anak bisa mendapatkan ilmu, terutama mengenai pencegahan pernikahan dini,” tuturnya.
Chilya juga mengingatkan santri agar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menambah wawasan dan membangun karakter.
“Untuk anak-anakku, perhatikan betul kegiatan ini. Mungkin dalam satu kabupaten hanya beberapa tempat yang dipilih, dan alhamdulillah Pondok Pesantren Sirojul Haramain mendapat kesempatan ini,” pesannya.
Selain edukasi pencegahan pernikahan dini, kegiatan diisi sesi hipnoterapi yang dipandu Anggota Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Kabupaten Gresik, Hj. Nur Saidah, S.E., M.M.
Nur Saidah mengatakan sesi tersebut ditujukan untuk membantu santri menyegarkan kondisi psikologis sehingga lebih siap mengikuti kegiatan belajar.
“Hipnoterapi ini bertujuan untuk me-refresh kondisi anak-anak yang setiap hari menuntut ilmu. Harapannya, setelah mengikuti sesi ini para santri menjadi lebih semangat belajar, lebih patuh kepada para ustadz dan ustadzah, serta memiliki konsentrasi yang lebih baik,” ujarnya.
Program MUI Gresik Goes To School menjadi bagian dari upaya MUI Kabupaten Gresik memperkuat pendidikan karakter generasi muda melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan para santri, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, serta kesiapan menghadapi kehidupan berkeluarga.
Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Haramain KH Umar Thoha Hasan dan Ibu Nyai Hj. Umu Kulsum, Kepala MA Sirojul Haramain Hj. Chilyatut Taqiyah Idris, serta Kepala MTs Sirojul Haramain Muhammad Husnul Mizan.
Hadir pula Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Kabupaten Gresik Hj. Endang Herawaty, S.Psi., bersama sejumlah anggota komisi. (bas/arf)