JAVASATU.COM- Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang menggagas program integrasi ketahanan pangan dan ketahanan maritim di kawasan selatan Jawa Timur yang membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi. Program kolaboratif tersebut ditujukan untuk memperkuat produksi pangan sekaligus mengoptimalkan potensi pesisir dan kelautan guna mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Kami mencoba mengambil inisiatif orkestrasi untuk menggerakkan program kerja kolaborasi Ketahanan Pangan Selatan-Selatan Jawa Timur,” kata Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, S.Hut., M.Hut., Sabtu (20/6/2026).
Asep mengatakan selama ini ketahanan pangan lebih banyak dikaitkan dengan sektor pertanian darat seperti padi, jagung, sawah dan perkebunan. Padahal, wilayah pesisir dan lautan juga memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui perikanan, rumput laut dan berbagai sumber daya hayati lainnya.
“Ketika membahas ketahanan pangan, kita tidak hanya berbicara soal padi dan jagung, tetapi juga potensi pesisir dan lautan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, konsep yang diusung tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan maritim dan menumbuhkan semangat cinta tanah air melalui pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan.
“Program ketahanan pangan bisa berjalan beriringan dengan ketahanan maritim. Keduanya saling memperkuat dan saling menghidupi dalam satu ekosistem yang holistik,” katanya.
Ia menjelaskan kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur memiliki potensi besar dengan dukungan sumber daya alam, budaya, serta infrastruktur Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Potensi tersebut tersebar dalam berbagai klaster ekonomi, mulai ekonomi biru, ekonomi hijau, ekonomi kreatif hingga ekonomi budaya.
“Potensi dan kulturalnya sudah berakar kuat, daya dukung infrastruktur sudah tersedia dan letak geostrategisnya sangat mendukung ketahanan maritim,” jelas Asep.
Bakorwil III Malang, lanjut Asep, telah menyampaikan inisiatif tersebut kepada Gubernur Jawa Timur. Program ini akan dijalankan melalui kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat.
“Petunjuk Gubernur Jawa Timur sangat jelas, yakni mengutamakan kerja-kerja kolaboratif, sinergis dan gotong royong dengan berbagai pihak,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, Bakorwil III Malang menargetkan tiga capaian utama. Pertama, meningkatkan produktivitas pangan nabati dan hewani berbasis pemberdayaan masyarakat pesisir.
Kedua, membangun pusat riset dan inovasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi di Jawa Timur.
Ketiga, membentuk pusat ekonomi baru di sepanjang Jalur Jalan Lintas Selatan dari Pacitan hingga Banyuwangi.
“Kami menargetkan peningkatan produktivitas pangan, pembangunan pusat riset dan inovasi, serta terbentuknya pusat ekonomi baru di kawasan selatan Jawa Timur,” ujarnya.
Menurut Asep, pengembangan ekonomi kawasan akan dibagi ke dalam sejumlah klaster. Kawasan Pacitan, Trenggalek dan Tulungagung diarahkan sebagai pusat ekonomi biru.
Sedangkan Malang, Blitar dan Lumajang menjadi pusat ekonomi kreatif.
Sementara Lumajang dan Jember diproyeksikan sebagai pusat ekonomi hijau serta Jember dan Lumajang dikembangkan sebagai pusat ekonomi gastronomi budaya.
“Seluruh sektor mulai pariwisata, industri, perdagangan, pendidikan hingga investasi dapat bergerak bersama dalam harmoni kolaborasi untuk kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” katanya.
Asep menambahkan, program tersebut akan melibatkan Bakorwil II Madiun, Bakorwil V Jember, BRIN, sejumlah organisasi perangkat daerah, perguruan tinggi, BUMD, HIMBARA, hingga kelompok masyarakat seperti kelompok tani, kelompok sadar wisata, dan karang taruna.
“Semua pihak memiliki peran, mulai pemerintah, akademisi, swasta, hingga kelompok masyarakat. Tujuan akhirnya adalah membangun kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur seluas-luasnya,” ujarnya.
Ia berharap kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur dapat menjadi motor pertumbuhan baru sekaligus menjadikan Jawa Timur sebagai barometer nasional dalam membangun ekosistem ketahanan pangan dan ketahanan maritim yang terintegrasi.
“Ketika Selatan-Selatan Jawa Timur bergerak maju, maka Jawa Timur dapat menjadi barometer nasional dalam membangun ekosistem ketahanan pangan dan ketahanan maritim yang solid dan terintegrasi,” pungkasnya. (wes/arf)