JAVASATU.COM- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap perkembangan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia hingga Kamis (17/9/2026). Banjir dan longsor melanda Aceh Barat Daya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah daerah, sementara penanganan pascagempa bumi dan tsunami di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai memasuki tahap pemulihan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan penanganan bencana dilakukan melalui pemantauan, pendataan, pemadaman, hingga pemulihan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
“BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir, longsor, karhutla, kekeringan, serta bencana hidrometeorologi lainnya,” kata Berton dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/6/2026).
Di Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, banjir dan longsor terjadi pada Rabu (16/9) sekitar pukul 15.00 WIB. Bencana dipicu hujan berintensitas tinggi yang disertai angin dan petir.
Sebanyak delapan kecamatan dan 21 desa terdampak. Pendataan sementara mencatat sekitar 18 kepala keluarga dan 18 rumah terdampak.
Tim Reaksi Cepat (TRC) masih melakukan pemantauan dan pendataan sekaligus membantu warga yang terdampak.
“Proses pendataan masih berlangsung,” ujar Berton.
Sementara itu, karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah. Di Kalimantan Tengah, pemantauan menunjukkan 6.435 titik panas, terdiri atas 182 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, 6.217 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 36 titik tingkat kepercayaan rendah.
Luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai sekitar 16.010,1 hektare. Pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya dan meluasnya titik api.
“Pemantauan titik panas terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian dan pencegahan meluasnya karhutla,” kata Berton.
Di Riau, luas lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 16 September 2026 tercatat sekitar 20.015,35 hektare, dengan tambahan sekitar 19,3 hektare pada periode pemantauan.
Karhutla di Jambi tercatat terjadi di sembilan kabupaten dan dua kota dengan luas lahan terbakar sekitar 3.048,68 hektare.
Di Kalimantan Selatan, penanganan karhutla diperkuat melalui patroli udara dan operasi water bombing. Hingga 15 September 2026, tercatat 43 kali operasi water bombing dengan total sekitar 172.000 liter air yang dijatuhkan.
Sementara di Kalimantan Barat, luas lahan terbakar pada 16 September 2026 mencapai sekitar 122,9 hektare. Sebanyak 65,6 hektare telah berhasil dipadamkan dan sekitar 57,3 hektare masih dalam penanganan.
Pemantauan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat juga dilakukan menyusul menurunnya jarak pandang dan meningkatnya konsentrasi partikulat udara.
“Penanganan karhutla dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemantauan titik panas, serta operasi udara di wilayah prioritas,” jelas Berton.
Karhutla juga dilaporkan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kebakaran terjadi di kawasan Gunung Asu, petak 7 BKPH Jatilawang, Desa Kaliwangi, Kecamatan Purwojati, pada Selasa (15/9), dengan luas lahan terbakar sekitar 12,8 hektare.
Api telah berhasil dipadamkan dan petugas masih melakukan pemantauan. Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, karhutla melanda Dusun Ngasem, Desa Depok, Kecamatan Toroh, pada Rabu (16/9). Luas lahan terbakar sekitar satu hektare dan api berhasil dipadamkan.
Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, karhutla terjadi di Desa Suruh dan Desa Gador dengan luas sekitar 2,85 hektare. Penanganan dilakukan melalui pemadaman menggunakan gepyok dan pembuatan sekat bakar.
Sedangkan di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, karhutla terjadi di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka, pada Selasa (15/9) malam. Luas lahan terbakar diperkirakan sekitar satu hektare.
Api berhasil dipadamkan pada Rabu (16/9) malam. Petugas masih melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api susulan.
Di NTT, penanganan pascagempa bumi dan tsunami terus dilakukan secara terpadu. Berdasarkan data koordinasi relawan per 15 September 2026, sebanyak 271 organisasi telah berpartisipasi dengan dukungan 2.118 personel aksi kemanusiaan yang tersebar di wilayah terdampak.
Pemerintah daerah juga melaksanakan masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan. Masa transisi berlangsung selama 90 hari di Kabupaten Ngada, 60 hari di Kabupaten Ende, 30 hari di Kabupaten Manggarai Barat, dan 90 hari di Kabupaten Sikka.
“Penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur,” ujar Berton.
Di sektor kesehatan, sebanyak 868 Tim Cadangan Kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung pelayanan di tujuh kabupaten terdampak. Tim tersebut diperkuat tenaga kesehatan setempat yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya.
Pelayanan kesehatan bergerak juga terus dilakukan untuk menjangkau wilayah terpencil, termasuk melalui dukungan Emergency Medical Team (EMT). Dukungan psikososial turut diberikan kepada masyarakat, khususnya anak-anak terdampak bencana.
Aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah NTT mulai kembali pulih. Kegiatan ekonomi dan perdagangan, termasuk aktivitas pasar, berangsur berjalan kembali. Sebanyak 13 destinasi wisata juga telah dibuka kembali secara bertahap.
“Pemulihan aktivitas masyarakat mulai terlihat, termasuk pada sektor ekonomi, perdagangan, dan pariwisata,” kata Berton.
Pada sektor administrasi kependudukan, Direktorat Jenderal Dukcapil mengerahkan enam tim ke tujuh kabupaten/kota terdampak. Tim tersebut ditugaskan memulihkan 11.225 dokumen administrasi kependudukan melalui layanan jemput bola dan tanpa biaya.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah. Masyarakat juga diminta segera menghubungi aparat setempat apabila menemukan potensi bahaya maupun kejadian bencana. (dop/arf)