JAVASATU.COM- Menjadi bagian dari Malang tidak hanya tentang dari mana seseorang berasal, tetapi juga tentang bagaimana ia mengenal, mencintai, merawat, dan ikut memberi warna bagi kota ini. Semangat itulah yang ingin dibangun melalui gerakan budaya Ngalam Hebak (Malang Kabeh).

Ketua Umum Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI) Dr. Wadji, M.Pd. mengatakan, Ngalam Hebak membawa semangat untuk menjadikan Malang sebagai ruang bersama. Kecintaan terhadap kota dapat tumbuh melalui kebersamaan dan kontribusi dari berbagai kalangan.
“Berkontribusi untuk Ngalam, tanpa merasa paling Ngalam,” kata Wadji, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, Malang sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang masyarakat. Perjalanan sejarah, budaya, pendidikan, seni hingga kehidupan sosial turut membentuk wajah Malang yang dikenal hingga saat ini.
Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam motto Ngalam Hebak, yakni “Malang Kabeh, Kabeh untuk Malang.” Maknanya, Malang adalah ruang bersama yang terbuka bagi siapa saja untuk ikut mengenal, mencintai, merawat budaya, sekaligus memberikan kontribusi.
“Gerakan ini lahir dari gerakan kultural budaya warga yang telah disambut oleh Kapolresta Malang Kota dan Pemerintah Daerah. Sehingga ini menjadi gayung bersambut antara pemerintah daerah, Polri dan masyarakat setempat,” ujarnya.
Melalui Ngalam Hebak, masyarakat diajak kembali mengenal perjalanan sejarah Malang sekaligus merawat berbagai kekayaan budaya yang tumbuh di dalamnya. Semangat tersebut berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap keberagaman masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan kota.
Salah satu komitmen yang dibawa Ngalam Hebak adalah menjadikan Ngalam sebagai ruang bersama. Setiap orang, dengan latar belakang dan perjalanan yang berbeda, diharapkan dapat menemukan ruang untuk saling mengenal, berinteraksi dan memberikan kontribusi.
Wadji menyebut, keberagaman telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Malang. Jejak Kanjuruhan, Tumapel dan Singhasari, Majapahit, tradisi Panji dan Wayang Topeng Malangan hingga perkembangan Malang sebagai kota pendidikan menjadi bagian dari perjalanan budaya yang terus berkembang.
Karena itu, kecintaan terhadap Malang diharapkan dapat menjadi energi positif untuk merawat kebersamaan. Identitas lokal tidak hanya menjadi sesuatu yang dikenang, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antara masyarakat yang telah lama tinggal di Malang dengan mereka yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan kota.
Semangat tersebut juga menyentuh generasi muda. Melalui pengenalan sejarah dan budaya lokal, mereka diharapkan semakin mengenal tempat yang menjadi ruang tumbuh dan berkarya, sekaligus terbuka terhadap keberagaman yang ada di sekitarnya.
“Ngalam Hebak akan mengangkat Osob Kiwalan atau boso walikan (bahasa dengan pengucapan dibalik, red) sebagai salah satu kekayaan budaya Malang,” ujar Wadji.
Selain budaya, Ngalam Hebak membawa semangat untuk ikut mendorong perkembangan Malang melalui berbagai bidang, mulai pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, lingkungan, seni hingga pelayanan kepada masyarakat.
“Kenali sejarahnya, rawat budayanya, hormati warganya, jaga kotanya, dan kontribusikan Ngalam untuk Indonesia dan dunia,” demikian semangat yang diusung dalam Ngalam Hebak.
Ngalam Hebak dijadwalkan dideklarasikan pada 27 September 2026 di Sasana Krida Budaya Celaket.
Kegiatan tersebut akan menghadirkan berbagai kesenian dari Malang, Banyuwangi dan Bali, penampilan penyanyi Banyuwangi Demy, pencak silat serta UMKM.
Pada akhirnya, semangat Ngalam Hebak ingin menghadirkan cara sederhana untuk mencintai Malang: mengenal sejarahnya, menjaga budayanya, menghargai masyarakatnya dan ikut memberikan sesuatu bagi kota. Sebab, menjadi bagian dari Malang bukan tentang siapa yang paling Ngalam, melainkan bagaimana bersama-sama merawat Malang agar tetap menjadi ruang yang nyaman bagi semua. (saf)